Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sengkarut Bansos, Bukti Rezim Kapitalis Tak Mau Repot

Jika disistem saat ini, rakyat mendapatkan bantuan ketika terjadi bencana atau wabah. Namun berbeda dengan Islam yang menjamin kebutuhan rakyatnya tanpa menunggu ada bencana. Pun juga dengan penyaluran bantuannya selalu tepat sasaran, karena negara meriayah serta memperhatikan rakyatnya dengan sebaik-baiknya.

Oleh :Dewi Sartika (pemerhati umat)

Pemerintah Indonesia mulai menyalurkan bantuan sosial ( Bansos) baik berupa uang maupun paket sembako kepada rakyat yang terdampak Covid -19. Namun, penyaluran bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah megalami kekacauan di berbagai daerah. Seperti yang terjadi di Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara.

Dilansir dari Zona Sultra.Com-Proses penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Kementerian Sosial (Kemensos) tahap I sudah hampir rampung disalurkan ke 14.017 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 16 Kecamatan di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Namun, proses penyaluran bantuan sosial (bansos) sebagai upaya penanggulangan dampak wabah virus corona atau Covid-19 ini banyak menyisakan masalah.

Berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan Dinas Sosial (Dinsos) Konawe terhadap data penerima itu, ditemukan sekitar 1.600 KK tidak kayak menerima bantuan ternyata terdaftar sebagai penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Tidak hanya itu, Dinsos juga menemukan puluhan penerima yang ternyata telah meninggal dunia.

Kepala Dinas (Kadis) Sosial, Agus Suyono menjelaskan, setelah proses penyaluran BLT tahap I, pihaknya langsung melakukan verifikasi. Hasilnya data tersebut tidak sesuai dengan fakta lapangan, sebab ada beberapa masyarakat yang kategori mampu masih terdaftar sebagai penerima.

Akar masalah dari permasalahan amburadulnya pembagian bantuan sosial tersebut berada pada validasi data yang dimiliki pemerintah. Mereka tidak mau repot melakukan pendataan ulang, sehingga mereka menggunakan data yang lama. Padahal, akibat adanya wabah covid-19 ini data masyarakat miskin menjadi bertambah. Akhirnya pendistribusian bansos menjadi salah sasaran karena proses pendataan masyarakat miskin ditingkat daerah tidak valid.

Kesemrawutan pembagian bantuan sosial dapat memicu terjadinya konflik sosial ditengah tengah masyarakat. Karena ditengah kondisi krisis masyarakat terbebani dengan penyebaran virus yang tidak ada kejelasan kapan akan berakhir.

Dampak sosial ekonomi menjadikan masyarakat lebih sensitif kecemburuan sosial, gesekan sosial, bahkan konflik horizontal sangat mungkin akan terjadi.

Tumpang tindih penyaluran bantuan sosial tidak akan terjadi jika dilakukan secara profesional, memvalidkan data terbaru sangatlah penting. Agar tidak ada lagi kekacauan penerima bantuan, bantuan tidak tepat sasaran apa lagi yang sudah meninggal terdaftar sebagai penerima bantuan.

Untuk itu, pemerintah perlu memperbaiki sejumlah persoalan bansos, terutama pendataan perlu divalidasi dan pembaharuan data dengan mempertimbangkan indikator warga yang benar benar terdampak Covid-19.

Dengan terjadinya persoalan dalam pemberian bantuan sosial, ini membuktikan bahwa dalam sistem kapitalis, pemerintah tidak meriayah rakyatnya dengan sebaik-baiknya.

Jika disistem saat ini, rakyat mendapatkan bantuan ketika terjadi bencana atau wabah. Namun berbeda dengan Islam yang menjamin kebutuhan rakyatnya tanpa menunggu ada bencana. Pun juga dengan penyaluran bantuannya selalu tepat sasaran, karena negara meriayah serta memperhatikan rakyatnya dengan sebaik-baiknya.

Sebagaimana, Kholifah Umar Bin Khatab dapat dijadikan teladan dalam kepemimpinannya serta kepedulianya terhadap umatnya. Dalam kisahya, suatu malam hati Umar begitu sedih, Dia mendapati rakyatnya yang kelaparan. Saat itu dia mendengar suara tangisan seorang anak dari sebuah tenda kumuh. Setelah didatangi, ditemuilah seorang ibu yang mengatakan kepadanya bahwa anaknya yang menangis karena kelaparan.

Mirisnya, saat itu ibu dari anak yang kelaparan itu mencoba menghibur anaknya agar tertidur dengan memasak batu. Hal itu ditemui Umar saat melakukan kebiasaannya menyisir kota. Saat itu Umar menyisir kota dengan seorang sahabat bernama Aslam. Tujuannya, memastikan tidak ada warga yang tidur dalam keadaan lapar.

Kemudian kholifah Umar menuju baitul mal mengambil gandum untuk diberikan kepada ibu yang kelaparan tadi, dan sang kholifah memikul sendiri gandum yang akan diberikanya, karna Umar merasa berdosa ketika rakyatnya ada yang kelaparan serta takut akan pertanggung jawabanya di hadapan Allah kelak. Masih banyak kisah-kisah pemimpin pada masa Islam silam yang meriayah rakyatna dengan baik. Menjadikan rakyatnya sebagai prioritas utama untuk dijaga, dilindungi, bahkan dipenuhi kebutuhannya. Waullahu alam bissawab

Post a Comment for "Sengkarut Bansos, Bukti Rezim Kapitalis Tak Mau Repot"