Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Indonesia Terserah! Ekspresi Resah Bukan Menyerah?

Selain Tagar Indonesia Terserah, muncul pula agar berikutnya yakni “Gantian”. Tagar ini bermaksud agar para tenaga medis dapat kembali beristrahat di rumah dan para pelanggar protokol kesehatan dapat berjaga di rumah sakit, menggantikan peran tenaga medis.

Oleh: Wulan Amalia Putri, SST (Pekerja Sosial Kolaka)

Tangkapan layar media sedang ramai mengulas tagar viral yang berkaitan dengan sikap masyarakat menghadapi Pandemi Covid -19. Ya, tagar “Indonesia Terserah!’ adalah tagar yang paling banyak dipakai dan dibagikan dalam aman media sosial.

Adalah para tenaga media yang membagikan agar “Indonesia Terserah” untuk menyikapi perilaku masyarakat yang seolah sudah abai pada sejumlah protokol kesehatan sebagai upaya mengatasi dan memutus mata rantai penyebaran Covid 19. Sebagaimana yang kita lihat di sejumlah tempat, masyarakat mulai banyak berkumpul dan tidak lagi melakukan Phisical Distancing apalagi Social Distancing. Sementara itu, para tenaga medis berjibaku menahan rindu pada keluarga di balik baju Alien alias Alat Pelindung Diri (APD). Bahkan muncul video yang menunjukkan seorang perawat yang membawa baju anak balitanya ketika sedang bekerja dan hanya mampu mencium baju tersebut disaat rindu pada anak sedang bersemi.

Tidak dapat dipungkiri, pasca pelonggaran kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), update jumlah penyebaran Covid 19 terus bertambah. Juru bicara Pemerintah untuk penanganangan Covid-19, Achmas Yurianto menyampaikan melalui Kompas. Som bahwa hingga 22 Mei 2020 ada 20.796 kasus Covid-19 atau bertambah 634 kasus baru (hari sebelumnya 20.162 kasus). “Ada penambahan 634 kasus baru informasi positif Covid-19. Sehingga secara akumulatif ada 20.796 kasus positif Covid-19 (di Indonesia) sampai saat ini,” kata Yuri dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jumat Sore.

Kecewa Pada Kebijakan?

Selain Tagar Indonesia Terserah, muncul pula agar berikutnya yakni “Gantian”. Tagar ini bermaksud agar para tenaga medis dapat kembali beristrahat di rumah dan para pelanggar protokol kesehatan dapat berjaga di rumah sakit, menggantikan peran tenaga medis.

Wajar jika tenaga medis demikian kecewa pada perilaku masyarakat yang sudah sedemikian leluasa untuk berkerumun sementara tenaga medis harus selalu siap menerima keadaan jika sewaktu-waktu mereka menjadi “pasien”. Sebagaimana di ungapkan oleh Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Adib Khumadi sebagaimana dikutip TribunWow.com dalam tayangan Prime Show di iNews, Kamis (21/5/2020) “Terserahnya lagi adalah, ya sudah, bagi kami siap-siap di rumah sakit kuntum menerima menjadi pasien.’sindir Adib.

Menurut Ketua Umum IDI, Daeng M Faqih, saat ini sudah puluhan tenaga medis yang meninggal dunia akibat Covid-19. “Terakhir yang meninggal karena Covid-19 yang kami dapat informasi sebanyak 44 orang,”sebutnya, (Jppn.com,18/4/2020). Selain itu, ada banyak tenaga dia yang positif terjangkiti Covid-19. Di RSUP Kariadi, Semarang, terdapat 46 orang tenaga medis yang terpapar, sementara itu tenaga media yang terpapar infeksi di Jakarta melebihi 80 petugas medis.

Banyak faktor yang menyebabkan para tenaga medis menjadi korban pertama dari Covid-19. Kelangkaan masker dan APD, ketidakjujuran pasien Covid-19, adanya stigma negatif dari masyarakat, kepatuhan nakes dan aturan PSBB adalah beberapa hal penyebab nakes terinfeksi. Bukan faktor tunggal, melainkan multi faktor. Namun, keberadaan para tenaga medis yang selama ini diasosiasikan sebagai Garda Terdepan dalam penanganan Covid tidak sepenuhnya benar. Tenaga Medis adalah pertahanan terakhir bagi masyarakat dalam penanganan Pandemi Covid-19 ini. Masyarakatlah yang menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid ini.

Namun, berbicara mengenai perilaku masyarakat di tengah wabah tidak dapat dipisahkan dari kebijakan yang diambil pemerintah dalam mengatasi wabah ini. Tindakan pemerintah untuk mengambil langkah PSBB yang dietrapkan disejumlah wilayah seharusnya tidak dilonggarkan. Walaupun, banyak pihak yang lebih menyarankan diberlakukannya Lock Down di wilayah-wilayah Zona Merah ataupun Zona Hitam. Dengan PSBB, mobilitas masyarakat akan terhenti. Harapannya, jika mobilitas masyarakat terhenti maka mata rantai penyebaran virus akan terputus. Namun sayang, dengan pertimbangan ekonomi, sosial dan budaya, PSBB akan dilonggarkan. Akibatnya, masyarakat merasa aman dan mulai mengabaikan larangan untuk berkerumun dan berkumpul. Hal ini berdampak pada penyebaran virus yang lebih luas.

Berkaitan dengan Tagar Indonesia Terserah, beberapa pihak menganggap bahwa unggahan tersebut adalah bentuk kekecewaan para tenaga medis terhadap kebijakan yang tidak tegas serta masyarakat yang dianggap abai terhadap Covid-19. Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Siti Zunariyah, dalam Kompas.com, Sabtu, 20 Mei 2020. Menurut Siti, ia menilai kemungkinan topik tersebut muncul lantaran ekspresi kekecewaan para tenaga medis terkait dengan apa yang terjadi di tengah pandemi.

Selain itu, agar tersebut muncul sebagai bentuk perawan simbolik dan bentuk protes dan sindiran. Menurut Wakil Ketua Umum IDI, Adib Khumadi, ungkapan tersebut muncul sebagai bentuk sindiran terhadap sikap pemerintah selama menangani covid-19. “Tapi ini adalah sebuah bentuk keprihatinan sekaligus mungkin bisa diartikan gaya bahasa satire atau ironi,” paparnya melalui TribunWow.com pada Jum’at 22 Mei 2020.

Kebijakan yang terus berubah akan memberi dampak pada perubahan perilaku masyarakat. Dapat dimaklumi jika ada keresahan, kekecewaan dan timbul berbagai sindiran. Namun, Indonesia terserah bukan berarti menyerah untuk melawan wabah.

Sikap Islam Hadapi Wabah


Islam adalah agama yang sempurna, memberi petunjuk dalam seluruh gerak gerik manusia dalam kehidupannya. Allah SWT telah menegaskan “Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab (yaitu Al Qur’an) sebagai penjelas segala sesuatu,” (TQS. An-Nahl:89). Bukan solusi yang biasa, Islam memberikan solusi sahih atas segala permasalahan yang dialami manusia. Sehingga pelaksanaan Islam yang menyeluruh akan membawa kebaikan bukan hanya bagi manusia namun juga kepada seluruh alam. Solusi sahih tersebut termasuk juga mengenai sikap seorang muslim dan kebijakan yang diambil di tengah wabah.

Konsep Islam dalam menangani wabah dimulai dengan mengharuskan pembatasan wabah di wilayah asalnya (lockdown), sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW “Apabila kalian mendengar ada wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu; Dan apabila terjadi wabah, sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR. Imam Muslim). Dengan demikian maka pemutusan rantai wabah akan terjadi. Sebab, tidak ada peluang terjadinya Imported Case (kasus impor) yang memicu meluasnya wabah. Aktivitas karantina kepada yang sehat dan isolasi kepada orang yang terbukti sakit setelah melalui screening (penyaringan) melalui tes dan pemeriksaan cepat yang akurat juga dilaksanakan. Sementara itu, pemenuhan kebutuhan dasar setiap orang tetap dilakukan.

Tidak hanya kemampuan logistik, negara juga harus memiliki kemampuan untuk melakukan riset dan industri yang begitu penting untuk keberhasilan penanganan wabah. Kemampuan riset ini akan mendukung cepatnya penanganan wabah, aspek virologi dan epidemiologi dan ciri-ciri klinis yang ditimbulkan. Sementara itu, kemampuan industri akan memungkinkan tersedianya sesegera mungkin semua kebutuhan teknologi terkini bagi penanganan wabah. Mulai dari alat pelingung diri (ADP) bagi tenaga media hingga berbagai produk farmasi, alat kesehatan dan obat-obatan.

Mengenai anggaran, Baitul Mal adalah institusi khusus pengelola semua harta yang diterima dan dikeluarkan oleh negara sesuai ketentuan syariat. Anggaran dalam betul mal menggunakan prinsip anggaran yang bersifat mutlak. Artinya adalah ada atau tidak ada kekayaan negara untuk pembiayaan pelayanan kemaslahatan masyarakat – termasuk penanggulangan wabah-maka wajib diadakan oleh negara. Bila dari pemasukan rutin tidak terpenuhi, diatasi dengan pajak (dharibah) temporer yang dipungut dari orang-orang kaya .

Demikianlah kebijakan dalam Islam. Lalu sikap apa yang dibangun oleh seorang muslim? Optimisme dengan selalu berbaik sangka kepada Allah, tidak menyerah dan tidak berputus asa dari rahmat Allah adalah sikap yang seharusnya diambil. Allah SWT melarang manusia dari berputus asa dari rahmat Allah. Putus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar. Allah Ta’ala berfirman “Ibrahim berkata:”Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat.” (TQS al_Hijr:56). Dan Firman Allah “Dan janganlah kamu berputus ada dari rahmat Allah, sesuangguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (TQS. Yusuf;87). Maka berputus asa dari rahmat Allah adalah dosa besar. Karena itu, sikap seorang muslim dalam menghadapi wabah, termasuk wabah Corona-19 ini adalah tidak berputus asa, tidak menyerah dan terus optimis bahwa wabah ini akan segera berakhir.

Jika kita senantiasa terpaut dan mengikatkan diri pada ajaran Islam, aturan Allah SWT maka kita akan mendapatkan banyak keberkahan. Bergantung pada aturan kapitalis justru terus mengantarkan manusia pada berbagai macam keburukan. Jika kita konsisten dan taat pada kebijakan-kebijakan yang baik, mematuhi Social Distancing dan Physical Distancing, kita berhak optimis bahwa pandemi Covid-19 segera berakhir. Sudah saatnya kita kembali pada aturan Allah untuk hidup kita, tidak memilih gaya hidup cuek dan menyerah, sehingga semua orang terselamatkan dan hidup menjadi berkah.. Indonesia Terserah! Bukan menyerah, meraih berkah dengan aturan Allah. Wallahu a’lam Bishawwab.

Post a Comment for "Indonesia Terserah! Ekspresi Resah Bukan Menyerah?"