Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wabah Corona sebagai Ujian bagi Pemerintah


Penulis : Ahmad Sastra

Dalam pandangan Islam, apapun yang menimpa manusia, maka terkategori sebagai musibah. Bagaimana orang beriman menyikapi musibah ?. Di dalam Al Qur’an, Allah telah memberikan petuntuk yang sempurna dalam hal ini. Orang beriman harus meyakini bahwa segala sesuatu itu hakekatnya milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). (QS Al Baqarah : 156).

Namun tidak dipungkiri bahwa segala yang terjadi di dunia ini, selalu menimbulkan perbedaan pendapat dan silang sengketa. Maka, jika hal ini terjadi, orang-orang beriman dan bertaqwa akan kembali kepada petunjuk Al Qur’an dan Al Hadist.

Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An Nisaa’ : 59).

Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Al Baqarah : 2 - 5)

Allah sendiri telah menegaskan bahwa akan menguji manusia dengan berbagai bentuk ujian, seperti rasa takut akan segala kekurangan harta, jiwa, makanan dan buah-buahan. Maka orang beriman adalah mereka yang bersabar dalam menghadapi ujian dari Allah ini.

Begitulah sikap orang beriman dalam menghadapi segala macam musibah, segalanya dikembalikan kepada Allah, makin merunduk kepada Allah dan tidak berbuat sombong atas ketentuan Allah. Berbeda dengan orang-orang kafir, dahulu saat mendapat azab dari Allah, justru mereka menantang dan melawan Allah. Mereka tak mau diberikan peringatan oleh para Nabi sekalipun saat itu.

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat. (QS Al Baqarah : 6 - 7).

Lihatlah bagaimana orang-orang kafir pada zaman Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Musa dan Nabi Ibrahim yang justru menantang para Nabi agar Allah segera menimpakan azab yang dijanjikan oleh Allah. Sementara para Nabi tetap bersabar mengingatkan agar mereka bertobat, namun hati mereka tertutup, hingga Allah benar-benar mendatangkan azab itu karena kesombongan mereka.

Itulah berbedaan sikap seorang mukmin dan kafir saat menghadapi ujian, musibah maupun azab. Seorang mukmin akan menghadapi musibah dengan penuh keridhoan, kesabaran, kerendahan hati, bertobat seraya berusaha sekuat tenaga untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik. Sebagaimana kata Umar saat ada wabah tho’un mengatakan kita harus berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain.

Sementara orang kafir menghadapinya dengan penuh kesombongan dan kecongkakan. Bukanlah merunduk untuk tobat, justru mereka makin sombong melawan Allah. Maka, istilah ‘melawan corona’ adalah kata yang tidak tepat dalam menyikapi wabah yang telah mendunia ini.

Percaya atau tidak, China yang pertama dilanda wabah corona, diawali oleh sikap sombong presiden china yang menyatakan bahwa tidak mungkin ada satu kekuatanpun yang bisa mengalahkan china. Ideologi komunisme, selain bengis, zolim dan kejam, juga penuh kesombongan. Dan kini Amerika menjadi episentrum baru wabah corona. Kita juga tahu bahwa ideologi kapitalisme sekuler penuh kesombongan dan kecongkakan.

Khalifah Umar bin Khattab saat negaranya mengalami gempa, beliau justru menyikapi dengan sebuah pertanyaan, maksiat apa yang telah dilakukan oleh rakyatnya, lantas mengajak untuk bertobat. Begitulah sikap orang beriman yang percaya kepada yang ghaib (suprarasional) selalu mengkaitkan dengan keberadaan Allah.

Gempa tercatat pernah terjadi di zaman kekhilafahan Umar, sebagaimana yang disampaikan dalam riwayat Ibnu Abid Dun-ya dalam Manaqib Umar. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali bergoncang. Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi, “Ada apa denganmu?” Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa,

“Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”

Generasi terbaik itu mengajarkan ilmu mulia bahwa gempa terjadi karena dosa yang dilakukan oleh masyarakat. Umar dengan tegas menyatakan itu. Lebih tegas lagi saat dia bersumpah bahwa jika terjadi gempa susulan, Umar akan meninggalkan Madinah. Karena itu artinya dosa kembali dikerjakan dan tidak kunjung ditobati.

Jika ada musibah besar semacam wabah penyakit yang menimpa rakyat banyak, maka hal ini merupakan ujian bagi pemerintah yang diamanahi untuk mengurus rakyat. Ibarat rumah tangga yang tertimpa musibah, maka kepala rumah tangga sedang dihadapkan dengan ujian. Maka, kepala rumah tangga yang baik adalah yang bertanggungjawab.

Sebagai sekedar masukan, sikap terbaik pemerintah Indonesia yang dipimpin Jokowi dan Ma’ruf Amin dalam menghadapi wabah coronavirus adalah dengan ridho, sabar, ikhlas dan bertobat. Setelah itu, berusahalah sekuat tenaga sambil tawaqal kepada Allah untuk bagaimana menyelamatkan nyawa rakyat. Jika perlu Ma’ruf Amin mengajak rakyat untuk tobat nasional. Sebab kehadiran orang-orang beriman dan bertaqwa akan menjadi wasilah terbukanya pintu keberkahan dan terhindarnya segala musibah.

Setidaknya dua kali gempa tercatat dalam riwayat hadits Nabi. Yang pertama di Mekah. Dan kedua di Madinah. Semestinya peristiwa ini bisa kita jadikan sebagai pelajaran yang berhara, terkhusus bagi pemerintah Indonesia dan seluruh rakyatnya.

Pertama, Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Kuzaimah, ad-Daruquthni, dan lainnya dari Utsman bin Affan bahawa dia berkata, "Apakah kalian tahu Rasulullah pernah berada di atas Gunung Tsabir di Mekah. Bersama beliau Abu Bakar, Umar dan saya. Tiba-tiba gunung bergoncang hingga bebatuannya berjatuhan. Maka Rasulullah ﷺ menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Tsabir! Yang ada di atasmu tidak lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang Syahid.”

Kedua, Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata: “Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung bergoncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.”

Di antara pelajaran besar dalam dua riwayat di atas bahawa ternyata gunung tidak layak bergoncang saat ada 4 manusia terbaik di atasnya. Nabi harus menghentakkan kaki dan mengeluarkan perintah kepada gunung untuk menghentikan guncangan tersebut.

Di sinilah pelajaran besarnya bagi kita sebagai analisa pertama tentang gempa. Bahwa keberadaan orang-orang soleh di sebuah masyarakat membuat bumi tidak layak bergoncang. Kriteria kesolehan sangat spesifik disebutkan dalam riwayat tersebut. Untuk kita, hanya tinggal dua pilihan mengingatkan kita sudah tidak ada lagi nabi. Yaitu: Shiddiq. Kriteria utama Abu Bakar adalah beriman tanpa ada rasa keraguan sedikit pun. Dan Syahid. Mereka yang meninggal fi sabilillah.

Sementara, ikhtiar optimal untuk menyelesaikan persoalan adalah perintah Allah, maka ikhtiar menyikapi corona juga harus semata-mata karena Allah. Pemerintah jangan sampai tambah sombong dengan melawan corona. Apalagi dengan mengambil kebijakan yang justru mengabaikan nyawa rakyat, maka pemerintah bisa terkategori zolim.

Kebijakan lock down, social distancing dan stay at home dengan jaminan pemenuhan seluruh kebutuhan rakyat adalah kebijakan paling tepat dalam menghadapi coronavirus ini. Kebijakan seperti herd immunity atau darurat sipil adalah kebijakan yang tidak tepat, sebab bisa berpotensi zolim kepada rakyat. Bukankah rakyat berhak mendapat perlindungan dan kesejahteraan dari negaranya ?.

Nah, wabah coronavirus di negeri ini adalah ujian bagi pemerintah Indonesia. Ma’ruf Amin sebagai seorang ulama, mestinya tampil ke depan untuk melakukan pendekatan spiritual, sementara Jokowi tampil di depan dengan pendekatan rasional. Dengan pendekatan spiritual dan rasional, semoga Allah ridho kepada bangsa ini melihat rakyat Indonesia bertobat dan berusaha optimal menyelamatkan nyawa rakyat. Semoga Allah segera menghilangkan coronavirus ini dari bumi Indonesia dan seluruh dunia.

Post a Comment for "Wabah Corona sebagai Ujian bagi Pemerintah"