Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Retorika Prioritas Hanya Sebagai Pemanis

Oleh: Pannindya Surya Rahma Sari Puspita (Mahasiswi UIN SMH Banten)

Sejak Indonesia tercatat, menjadi negara terjangkit covid-19, banyak kisah haru biru yang menyelimuti Indonesia. Berawal hanya dari 2 orang yang terjangkit, kini sudah terhitung per 28 Maret 2020 ada 1.155 jiwa yang dinyatakan positif, 59 jiwa telah dinyatakan sembuh dan 102 jiwa dinyatakan meninggal dunia. Presiden Joko Widodo kembali menegaskan pemerintah bersama berbagai pihak terus bekerja keras menanggulangi pandemi Virus Korona (Covid 19).

Presiden juga menegaskan keselamatan rakyat menjadi prioritas utama dalam penanganan covid-19. Hal itu disampaikan Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman dalam pernyataan pers di Jakarta (22/3). (mediaindonesia.com). Bahkan Ketua Satgas Corona Rumah Sakit Universitas Airlannga (RSUA) Surabaya dr Prastuti Asta Wulaningrum mengakui bahwa pihaknya kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) untuk menangani pasien Covid-19. (Liputan6.com). Kisah pilu pun hadir dari para tenaga medis nasional yang berada di garda terdepan untuk mencegah penyebaran virus corona bahkan kisah ini diibaratkan seperti kisah Perang Badar.

Mengingat angka kematian yang jauh lebih fantastis dibandingkan angka korban yang dinyatakan sembuh, seharusnya ini menjadi hal yang patut diwaspadai berdama oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya pemerintah Indonesia. Belum sampai kita berada di penghujung akhir bulan, namun korban terus berjatuhan dan setiap harinya mengalami peningkatan.

Sejak awal, seharusnya pemerintah menutup kran ekspor-impor barang masuk dari negara-negara terdampak, menutup smenetara masuknya wisata asing terutama dari negara yang terkena wabah dan tidak lagi memasukkan migran atau TKA dari Cina.

Perintah untuk lock down di beberapa wilayah pun tak diindahkan, terlihat masih ada masyarakat yang tetap pergi berliburan bahkan sampai memaksa untuk melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman. Pemerintah dirasa belum tegas dalam menangani covid-19, perlawanan Indonesia masih berjalan begitu lamban. Bukankah seharusnya covid-19 ini menjadi hal yang seharusnya di prioritaskan bersama? Tapi mengapa tidak ada aksi nyata dari jajaran pemerintah untuk lebih menyeriusi untuk menyelesaikan pandemi covid-19?.

Inilah hasil yang kita tuai dari penanaman sistem Kapitalisme di Indonesia, sistem yang hanya menguntungkan para golongan berduit atau pemilik modal saja, sehingga dalam penanganan kasus covid-19 pun masih terlihat pilah pilih dan tidak merata penanganannya ke seluruh wilayah Indonesia.

Buktinya masih ada beberapa tenaga medis yang sampai rela mengenakan jas hujan sebagai Alat Pelindung Diri mereka, hazam suit yang pendistribusiannya masih kurang, bahkan masker dengan harga yang wajar pun sudah menjadi barang langka yang dapat kita temui saat ini. Padahal yang mampu mengobati pasien covid-19 hanyalah para tenaga medis, hanya para dokter yang mengetahui bagaimana virus ini bekerja dan berkembang hingga mampu menularkan ke beberapa ribu jiwa yang telah terjnagkit karenanya. Bahkan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) menyatakan akan lepas tangan dalam penanganan pasien covid-19 jika negara tidak menyediakan APD. Seperti inilah bukti nyata Kapitalisme hanya berucap di bibir bahwa covid-19 menjadi hal yang prioritas, tapi dalam aksi nyatanya bergerak begitu lamban, alih-alih justru mereka masih memperhitungkan untung rugi dari pandemi covid-19 ini.

Di dalam Islam pandemi merupakan hal yang patut diseriusi bersama baik dari jajaran pemerintah ataupun masyarakat nya. Salah satunya dengan menjadikan sarana dan prasarana kesehatan sesuatu yang dianggap prioritas. Pelayanan kesehatan berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarpras kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Penyediaan semua sudah menjadi keharusan tanggung jawab dan kewajiban negara. Karenanya, negara wajib membangun rumah sakit khusus untuk mengobati para pasien covid-19, menyediakan klinik di beberapa titik wilayah yang jauh dari perkotaan untuk memastikan keadaan tubuh para masyarakatnya, membangun laboratorium medis khusus meneliti wabah pandemi ini. Negara juga berkewajiban menyediakan peralatan medis dan obat-obatan yang memadai. Negara justru harus sigap ketika wabah pandemi datang langsung melakukan aksi cepat supaya tidak lagi ada korban yang berjatuhan.

Sesuatu yang dianggap prioritas berarti dianggap hal penting dan genting yang harus selalu dinomor satukan, tapi Indonesia masih saja merasa kalap dan tenggelam dengan angka korban yang terus menerus meningkat, jika tenaga medis saja sudah lepas tangan, lalu siapa lagi yang akan mengobati para pasien covid-19 ini?.

Maka dari itu mulailah dengan pendistribusian peralatan medis yang cukup untuk para tenaga medis, negara harus siap menggelontorkan materi yang tak sedikit untuk menangani covid-19, bukan saatnya memikirkan kerugian dari serangan covid-19, tetapi seharusnya keselamatan, kesehatan, dan keamanan masyarakat lah yang patut didahulukan. Mencontohlah dari kesigapan Islam dalam menyelesaikan pandemi yang dulu pernah terjadi di dalam daulah.

Post a Comment for "Retorika Prioritas Hanya Sebagai Pemanis"