Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pelayanan Kesehatan : Islam Vs Kapitalis

Oleh : Abu Ghazi

Tiada yang memungkiri Amerika Serikat adalah pelopor kapitalisme di dunia. Negara adidaya yang saat ini di bawah kemimpinan Trump, menjadi tonggak estafet penerus rezim sebelumnya menjaga sistem Kapitalisme, agar terus diemban oleh seluruh dunia termasuk Indonesia.

Sistem kuffur ini telah terbukti banyak menyengsarakan rakyat, menciptakan jurang yang menganga antara si miskin dan si kaya. Kerja kapitalisme adalah  merongrong kesetiap sendi-sendi kehidupan dalam segala aspek. Mulai dari penerapan ekonomi liberal, pendidikan sekuler hingga pada kapitalisasi di dunia kesehatan.

Dalam ideologi kapitalis, kesehatan dipandang juga sebagai lahan bagi para pemilik modal untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, sebagaimana penguasaan berbagai sumber daya alam.

Lewat progam-progam berbagai layanan asuransi berbasis kesehatan, kapitalis bermain untuk mengeruk pundi-pundi uang sebanyak mungkin. Ada asuransi yang dikelola swasta hingga yang dikelola negara dalam bentuk jaminan kesehatan sosial, di Indonesia progam ini diimplikasikan lewat sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Namun  dalam faktanya progam JKN ini tidak jauh berbeda dengan asuransi swasta.

Unsur-unsur judi, gharar dan riba tidak bisa dipungkiri dari penerapannya, adanya iuran wajib premi perbulan, denda bila ada keterlambatan, dan hanya bisa digunakan hanya saat sakit saja, menjadikan bukti betapa rusaknya sistem kesehatan di negara kapitalis.

Selain melanggar banyak hukum syara, sistem kesehatan dalam kapitalisme juga menimbulkan perbedaan jurang yang tinggi antara orang punya dan orang melarat, bukan hanya dalam sektor kepemilikan sumber daya alam saja, namun juga dari pelayanan kesehatan.

Pejabat negara, para pemilik modal, hingga orang kaya bisa berobat dimana saja dengan segala fasilitas serta materi yang dia punya. Namun bagi orang miskin tidak demikan, adanya tarif kelas III, II,I VIP hingga VVIP itu menjadi bukti bahwa kesehatan dalam sistem kapitalis tidak ideal bagi orang yang tidak mampu.

Orang miskin jangan berharap bisa dilayani hingga kelas VVIP, mendapat layanan kamar inap kelas III saja sudah barang jadi hal yang patut disyukuri. Ungkapan orang miskin jangan sakit itu bukan hal tabu dalam sistem kapitalis. Dari segi fasilitas kesehatannya juga tidak jauh beda, adanya Rumah Sakit bertipe D,C,B hingga A menjadi bukti. Belum lagi birokrasi yang berbelit-belit kadang membuat nyawa bisa menjadi taruhannya.

Daerah-daerah terpincil sangat minim fasilitas kesehatan yang memadai, pembangunan daerah yang timpang akibat sistem kapitalis menjadi biang kekacauannya. Sehingga membuat penyediaan fasilitas bangunan, alat kesehatan dan tenaga medis menjadi timpang antara perkotaan dan daerah terpencil.

Bobroknya sistem kesahatan di era kapitalisme, dapat dilihat dalam pemerintah menghadapi pandemi virus corona (Covid-19). Bukan hanya berdampak pada menurunya ekonomi, namun virus ini seolah-olah ingin menelanjangi seberapa besar progam kesehatan dibawah kapitalisme bisa mengatasi. Ternyata yang kita dapati fasilitas kesehatan dan para tenaga medis dibuat kelimpungan, ruangan perawatan tak cukup menampung hingga alat pelindung diri terbatas sampai dimanipulasi.

Akibat kesenjangan pembangunan, dapat dilihat dari ketidakmerataan jumlah Rumah Sakit yang bisa dijadikan rujukan dalam menangani pasien Covid-19. Hal ini mungkin bisa disebabkan karena pemerintah indonesia hanya menyediakan anggaran untuk kesehatan yang sangat kecil.

Di negara yang katanya kaya akan sumber daya alam ini, ternyata sesuai dengan amanat UU Kesehatan tahun 2009, sejak tahun 2016 Pemerintah hanya konsisten menjaga anggaran kesehatan, hanya 5 persen dari belanja negara. Padahal tiga negara berpendapatan rendah di Afrika, seperti Rwanda, Tanzania, dan Liberia, telah berani mengalokasikan dana untuk sektor kesehatan hingga 15% dari APBN-nya.

Tak heran dalam sistem kapitalis, ketika negara harusnya menjadi garda terdepan dalam menangani wabah dengan segala kekuatan melalui sumber dana yang dimilikinya. Ternyata lagi-lagi rakyat justru diminta untuk berkontribusi memberikan bantuan kepada negara dalam melawan pendemi Covid-19.

Sungguh sangat ironis sekali, ibarat ungkapan pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula hidup rakyat dalam sistem kapitalis. Padahal virus corona ini tidak pernah membeda-bedakan antara orang kaya, miskin, suku dan agama.

Hal ini akan berbeda kita temukan kesehatan dalam negara islam. Kenapa berbeda karena dari awal agama islam adalah agama yang sangat spesial, karena agama islam bukan sekedar agama yang mengatur masalah ibadah antara pemeluknya dan Sang Khaliq. Namun agama yang sekaligus sebuah ideologi yang memiliki aturan yang lengkap. Oleh karenanya tidak bisa dipungkiri bahwa islam senantiasa menunjukkan keunggulannya dalam segala aspek tak terkecuali dalam bidang kesehatan.

Ini dapat dibuktikan melalui banyak catatan sejarah yang secara fakta susah untuk dibantah dan dipungkiri. 14 abad silam peradaban islam adalah merupakan peradaban emas. Catatan kegemilangan nya dalam kesehatan, sains dan teknologi begitu bertebaran hingga saat ini masih mewarnai kehidupan ditengah-tengah umat.

Di dunia kedokteran siapa yang tidak mengenal namanya, Darinyalah lahir berbagai inspirasi kedokteran yang hingga kini masih dijadikan rujukan.

Dia adalah seorang Muslim pertama yang diakui semua agama sebagai Bapak Kedokteran Dunia. Dia adalah Ibnu Sina. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina, lahir pada bulan Shafar 370 H atau di bulan Agustus 985 M. Ibnu Sina juga dikenal sebagai filosof, psikolog, pujangga, pendidik dan sarjana Muslim yang hebat, orang barat menyebutnya Aviccena.

Dalam catatan sejarah Rumah Sakit Islam pertama kali dibangun sejak abad pertama Hijriah di masa Kekhilafahan Muawiyah. Tepatnya, pada masa kepemimpinan Walid bin Abdul Malik (86-96 H). Lembaga ini menangani pelayanan orang yang sakit kusta.

Pada perkembangannya, bukan saja menjadi tempat untuk melayani orang sakit tapi juga menjadi semacam universitas kedokteran dalam istilah sekarang dan dilengkapi dengan perpustakaan yang berisi berbagai referensi medis. Kontribusi ini terhitung fantastis karena rumah sakit yang pertama kali dibangun di Eropa yang berada di Paris, baru ada sembilan abad kemudian.

Pada masa Sultan Mahmud Saljuqi yang memerintah tahun 511 sampai 525 Hijriah. Rumah Sakit memberikan pelayanan dengan cara berpindah-pindah, fasilitasnya dari mulai dokter, alat kesehatan dan obat-obatan diangkut dengan 40 onta. Hal ini dimaksudkan tidak lain agar  pelayanan kesehatan bisa dirasakan secara merata oleh masyarakat yang jauh dari perkotaan.

Untuk Rumah Sakit umum permanen yang terletak di kota-kota besar jumlahnya begitu banyak dilengkapi dengan fasilitas yang mewah dan wah di masanya. Sebut saja misalnya; Rumah Sakit Adhudi di Baghdad (371 H), Rumah Sakit Nuriy di Damaskus (549 H), Rumah Sakit Manshuriy di Kairo (683 H).

Tak cukup sampai di situ, Rumah Sakit-Rumah Sakit besar kala itu di dalamnya juga sudah ada dokter sepesialis, misalnya: sepesialis penyakit dalam, operasi, kulit, mata, jiwa, tulang dan lain sebagainya yang menunjukkan betapa majunya pelayanan di masa itu.

Islam juga sudah mengenalkan sekaligus meninggalkan metode-metode untuk menghindari cara penularan penyakit, metode tersebut yang sampai hari ini masih dipakai dan dijadikan bahan rujukan dalam dunia medis.

Contoh yang pertama berkaitan dengan adab bersin. Ketika WHO menjelaskan tata cara bersin dengan menggunakan, kain, tissue atau lengan baju, untuk mencegah agar kotoran bekas bersin tidak menyebar dan terkena orang lain. 14 abad silam dalam islam melalui baginda Rasullullah Saw adab bersin sudah dijelaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَطَسَ غَطَّى وَجْهَهُ بِيَدِهِ أَوْ بِثَوْبِهِ وَغَضَّ بِهَا صَوْتَهُ

“Sesungguhnya Nabi Saw ketika bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” (HR. Al-Tirmidzi)

Contoh yang kedua pasien yang masuk Rumah Sakit, disuruh untuk melepas baju dan diganti baju baru dari Rumah Sakit agar tidak terjadi penularan penyakit. Setelah itu, mereka dimasukkan ruang (kamar)  khusus sesuai dengan jenis penyakit yang diderita, Subhanallah begitu luar biasanya cara islam dalam menangani memuliakan orang sakit.

Untuk masalah kesejahteraan jangan diragukan lagi. Karena dalam sistem Khilafah berobat tidak dipungut biaya dan adanya asuransi kesehatan, maka dari mana pemasukan tenaga medis untuk mencukupi kebutuhannya?

Negara khilafahlah yang wajib memberikan gaji bagi para dokter dan penyedia layanan kesehatan. Sebagai contohnya gaji dokter di zaman dokter berkisar antara 50-750 US dolar. Bahkan seorang residen yang berjaga di rumah sakit dua hari dan dua malam dalam seminggu memperoleh sekitar 300 dirham per bulan. Angka yang sangat besar pada masa itu, terlebih lagi kebutuhan dasar seperti perumahan, pendidikan, dan kesehatan sudah dijamin oleh negara.

Sangat berbeda dengan kondisi sekarang sistem kapitalis, walaupun dokter memiliki upah yang cukup lumayan tinggi, namun mereka tetap terbebani harus membayar pajak-pajak, biaya sekolah anak, bahkan hingga kesehatan.

Contoh lain yang lebih mengagumkan adalah yang diceritakan oleh Ibnu Jubair Rahimahullah. Pada sekitar tahun 580 Hijriah, saat beliau berkunjung di salah satu daerah di Baghdad, beliau melihat satu kampung isinya berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Rumah Sakitnya di huni oleh dokter dengan beraneka ragam spesialisasi.

Belum cukup hanya disitu sebagai bentuk upaya serius untuk melengkapi dan menunjang sains dan teknologi di bidang kesehatan. Negara islam Khilafah tidak diperbolehkan adanya kekosongan dari seorang mujtahid dan ilmuan muslim.

Karena keberadaan seorang mujtahid dan ilmuan muslim sangat dibutuhkan dalam negara islam. Tujuanya untuk menggali sebuah hukum yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah untuk dijadikan sebagai sebuah aturan yang diterapkan ditengah-tengah umat, dalam segala aspek tak terkecuali sains dan teknologi yang berhubungan dengan bidang kesehatan.

Sehingga apabila setiap saat muncul masalah baru yang akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan turunan dalam melaksanakan Ajaran Islam, dalam kehidupan beragama sehari-hari umat islam tidak perlu mencari rujukan dari barat yang tidak sesuai dengan ajaran islam.

Oleh karenanya berkaitan dengan keberadaan obat-obatan, Islam menginspirasi negara untuk menciptakan vaksinasi dari bahan yang jelas kehalalannya, thayib serta independen tanpa intervensi dari pihak kafir penjajah. Hal ini sangat diperlukan agar tidak menimbulkan perdebatan dikalangan umat mengenai bahan-bahan yang terkandung didalamnya. Kerana sudah sangat teruji dari hasil ikthiar melalui penelitian para ulama mujtahid dan ilmuan muslim yang diawasi secara ketat oleh negara.

Karena umat Islam terdahulu dengan ikhtiar dan hanya mengharap ridho Allah Swt mengembangkan sains dan teknologi dibidang kesehatan untuk mengatasi Pandemi, yaitu dengan vaksinasi.

Vaksinasi sendiri ditemukan pertama kali oleh ilmuan muslimin yang bernama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi, yang juga dikenali sebagai Rhaze. Seorang pakar sains dari persia yang hidup antara tahun 864 – 930. Beliau lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, beliau juga dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.

Ar-Razi juga menemukan Alkohol, menciptakan asam sulfur, mempelopori bedah syaraf dan mata, serta membuat catatan tentang penyakit cacar. Catatan tentang penyakit cacar ini, ia temukan ketika menjabat sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar berikut obatnya.

Catatan diangnosa dan pengobatanya dapat dilihat pada Ensiklopedia Britanika (1911). Di situ tertulis: “Pernyataan pertama yang paling akurat dan tepercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah tersebut.”

Ini bukti bahwa islam selalu terdepan dan unggul dalam segala bidang, ketika sebuah negara di atur oleh negara yang menerapkan syariat islam secara kaffah. Dengan fasilitas kesehatan yang lengkap dan semewah itu di masanya, negara dengan sangat cepat dan tepat bisa menangani beberapa penyakit hingga wabah atau pendemi.

Pertanyaannya apakah kita masih tidak mau melirik atau menerapkan syariah islam kaffah untuk menjadi solusi di seluruh dunia dalam menghadapi segala hal, tak terkecuali salah satunya melawan pendemi virus corona (Covid-19) ?

#IndonesiaBerkahDenganSyariahKaffah

Post a Comment for "Pelayanan Kesehatan : Islam Vs Kapitalis"