Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Lockdown Tiada Diterapkan, Nyawa Rakyat Jadi Taruhan


Oleh: Khusnawaroh | Komunitas Peduli Umat

Desakan untuk melakukan karantina wilayah atau lockdown untuk menekan angka persebaran Corona atau Covid-19 sudah datang dari berbagai pihak, termasuk mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Selain itu, opsi ini juga datang dari Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI). Dalam surat pada 14 Maret 2020 lalu, PA PAPDI meminta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) merekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan karantina wilayah di daerah yang telah terjangkit Covid-19. Tindakan itu dinilai penting untuk meningkatkan kecepatan dalam membatasi penyebaran Covid-19.

Salah satu alasan pemerintah kenapa tak juga mengikuti saran para ahli ini adalah faktor ekonomi. Lockdown dirasa akan merugikan kinerja perekonomian. Walaupun, berbagai desakan datang dari berbagai pihak, namun pemerintah masih adem ayem hingga saat ini tetap mengacuhkan untuk memberlakukan Lockdown tersebut. Sikap pemerintah pusat yang tak segera melakukan Lockdown akhirnya membuat para kepala daerah menetapkan Lockdown lokal.

Mengingat di wilayah Indonesia kasus positif Virus Corona atau Covid 19, kian terus bertambah jumlahnya. Dahsyatnya Virus ini, penularannya pun terjadi secara cepat, dimana pergerakan manusia demikian masif, jutaan orang lalu lalang antar negara setiap harinya, ini mempercepat penyebaran Covid 19 yang diakhir tahun 2019 masih di Wuhan Cina, kini menyebar ke seantero dunia.

Tidakkah penguasa kita melihat bagaimana penyebaran Corona di Wuhan Cina, secara cepat menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Seharusnya dengan melihat fakta itu semua penguasa kita pun bisa lebih cepat untuk merancang strategi apa yang hendak dilakukan, seandainya musuh itu datang. Sebab virus itu datang di Indonesia tidaklah secara tiba-tiba, namun Cinalah yang yang lebih dulu diserang oleh Virus tersebut.

Namun sayang seribu sayang, penguasa kita justru membebaskan para wisatawan dan TKA cina untuk berwisata di negeri kita. Ketika pemikiran Untung-Rugi yang selalu menjadi acuan, maka ancaman sebuah nyawa tak ada lagi artinya, sangatlah berbahaya ketika pemikiran seperti ini dimiliki oleh penguasa, masyarakat hanya dijadikan sebagai tumbal untuk menggapai kepentingan kelompok, asing-aseng. Apalah artinya memiliki pemimpin, tetapi tidak bisa melindungi masyarakatnya ?

Memang tidaklah mudah untuk menjadi pemimpin negeri, sebab seorang pemimpin haruslah mampu menjadi Raa'in (pengurus umat), teringat ketika Umar bin Khattab terpilih menjadi khalifah (pemimpin) beliau menangis meneteskan air mata dikarenakan amanah, tanggung jawab yang harus di emban seorang pemimpin negeri yang begitu berat. Yang mana justru di zaman ini posisi itu menjadi rebutan.

Oleh sebab itu, untuk memegang sebuah tanggung jawab dan amanah, penguasa tak boleh bersikap sebagai pedagang yang selalu menggunakan hitung-hitungan Untung-Rugi, kepentingan ekonomi diatas segalanya, dan rakyat menderita, namun hal ini tentunya tidak bisa dilepaskan karena pengelolaan SDA yang dikelola kepada asing. Ditambah utang negara yang semakin membengkak, maka ketika menghadapi kondisi seperti ini negara tidak siap. Watak kapitalis sangatlah nyata dan terasa keburukannya, membuat kita berfikir dan harus menyadari dan meyakini. Ini bukanlah sistem yang diberikan oleh Allah swt sang pencipta, tak patut untuk kita pertahankan. Allah swt memerintahkan untuk kita taat kepada syariatnya, memilih kembali kepada sistem islam adalah jalan yang mulia. Hanya didalam sistem inilah kita akan merasakan penguasa yang mencintai rakyatnya karna Allah Swt. Sehingga rakyat pun taat kepadanya.

Kini Indonesia telah dirundung duka, himbauan datang dari penguasa untuk meliburkan seluruh anak sekolah dan masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah, menghindari kerumunan, dengan ini semua diharapkan dapat mengurangi penyebaran Virus Corona. Namun apa yang terjadi korban semakin bertambah. Dalam hal ini tidak cukup hanya sekedar himbauan, harus ada langkah tegas dari penguasa.

Sebagai penguasa negara yang mayoritas penduduknya muslim tentunya, pemerintah seyogiyanya melirik bagaimana Islam mengatasi wabah pandemi, sebab Islam adalah Agama yang sempurna. Lockdwon adalah strategi Nabi mencegah penyebaran Virus mematikan. Dimana Lockdown dapat diartikan sebagai penguncian suatu wilayah atau isolasi, agar Virus Corona ini tidak menyebar sehingga dapat mengurangi jumlah manusia yang terpapar Virus.

Namun hal itu di acuhkan oleh penguasa negeri kita dengan alasan sebab dirasa akan merugikan kinerja perekonomian. Tetapi jika kita berfikir lebih cermat lagi, apakah dengan tidak melakukan Lockdown perekonomian akan tetap baik? saat ini saja perekonomian Indonesia sudah terpuruk.

Akan lebih besar mudhorotnya ketika penguasa tidak melakukan Lockdown, secara garis besar ada dua kerugian yang dapat di rasakan yang pertama akan semakin bayak yang terjangkiti Virus hingga nyawa rakyat banyak yang terenggut, kedua dengan banyaknya jumlah masyarakat yang terjangkiti Virus maka akan berdampak pada perekonomian dan justru akan semakin Ambruk.

Dalam sistem Islam yang terbingkai khilafah, tentu saja akan melakukan Lockdown, sebab kebijakan Lockdown ternyata telah dilaksanakan di masa Rasulullah Saw. Saat muslim menghadapi serangan wabah, beberapa wabah yang sempat terjadi misal, kusta, diare. Lockdown telah tertulis dalam hadis, Rosulullah Saw, bersabda :

"Jika kalian mendengar tentang thoun disuatu tempat maka janganlah mendatanginya, dan jika mewabah disuatu tempat sementara kalian berada disitu maka janganlah keluar karena lari dari thoun tersebut" (HR Bukhari). Thoun adalah wabah yang mengakibatkan penduduk dan berisiko menular dan kematian akan terus bertambah jika penduduk kota tersebut terus mobile.

Kisah Lockdown juga terjadi dimasa Umar bin Khattab. "ketika Umar bin khattab berangkat ke syam bersama rombongan besar para sahabat, namun ditengah perjalanan sesampainya di wilayah Saragh, para pemimpin pasukan muslim diwilayah itu, datang menyambut mereka diantaranya adalah Abu ubaidah bin jarrah dan lainnya, mereka mengabarkan kepada sang khalifah, lalu Umar bermusyawarah kata Umar :

"wabah penyakit sedang melanda negeri syam bagaimana pendapat kalian? Mendengar pertanyaan itu mereka yang hadir berbeda pendapat. Sebagian berkata: “Anda berangkat ke Syam untuk suatu urusan penting. Karena itu kami berpendapat, tidak selayaknya Anda pulang begitu saja”. Sebagian lain mengatakan: “Anda datang membawa rombongan besar, beberapa merupakan sahabat utama Rasulullah SAW. Kami tidak sependapat jika Anda harus membawa mereka menghadapi wabah penyakit ini.

Khalifah Umar bin Khattab ra, adalah seorang pemimpin yang membaktikan seluruh waktunya untuk rakyat, tiap malam beliau patroli hingga pelosok kampung untuk memastikan seluruh rakyatnya hangat dan kenyang sehingga bisa tidur nyenyak. Sang khalifah sendiri jarang tidur saking lelahnya beliau terkadang tertidur dibawah pohon kurma dekat mesjid nabawi.

Maka jelas dalam hal ini untuk mengatasi Virus Corona butuh pemimpin yang tegas yang selalu menempatkan Syariat Islam sebagai solusinya, dan menjalankan sistem ekonomi yang benar yakni mendayagunakan seluruh sumber daya, dan potensi ekonomi (baik berupa Fai' dan kharaj, dharibah, Infak rakyat dan utang syar'i ke negara yang kaya). Dan menggratiskan semua layanan kesehatan. Inilah gambaran sistem Islam yang bersumber dari wahyu Allah swt, yang wajib bagi kita semua kaum muslim untuk menghadirkannya untuk kesejahteraan dan kemuliaan kehidupan kita didunia dan akhirat. Wallahua'lam bissawab.

Post a Comment for "Lockdown Tiada Diterapkan, Nyawa Rakyat Jadi Taruhan"