Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kebijakan Mencla-Mencle di Tengah Corona


Penulis :  Ashaima Va

Nusantara berduka. Virus Corona atau covid-19 yang terdeteksi menyambangi Indonesia di awal maret ini telah memakan korban 1.528 orang positif Corona dengan 122 meninggal dan 75 sembuh pada akhir maret. Bak nasi sudah menjadi bubur, korban sudah kepalang banyak. Upaya social distancing sudah tak seberapa ampuh mengurangi gelombang penularan yang bergulir seperti bola salju liar.

Di tengah wabah yang kian mengganas, tuntutan untuk lockdown  tak pula digubris oleh Pemerintah. Istana bungkam menghadapi tuntutan rakyat dari berbagai kalangan. Saat korban sudah mencapai ratusan Jokowi bahkan merasa belum perlu memberlakukan lockdown. Selain itu karantina wilayah pun tak dilakukan. Hingga medio maret masih saja ada WNA asal negara pandemi yang diizinkan berwisata ke Indonesia. Masih banyak pula warga yang bepergian ke luar negeri. Sungguh blunder yang dilakukan istana kali ini tak berhati.

Idealnya saat awal mula terdapat wabah di Wuhan, negara segera membatasi atau bahkan menutup sama sekali akses keluar masuk dari dan ke negara yang terdapat pasien positif Corona. Jika berhadapan dengan nyawa, semestinya pemerintah tak perlu gamang. Janganlah pula pemasukan dari sektor pariwisata jadi pertimbangan.

Saat penyebaran kian masif. Sudah tak bisa dibedakan siapa positif, siapa carrier virus covid-19. Lockdown tak kunjung terjadi ternyata pemerintah lebih memilih memberlakukan darurat sipil. Pro kontra pun terjadi. Setidaknya ada beberapa perbedaan jika pemerintah memilih darurat sipil alih-alih lockdown atau karantina wilayah, yaitu:

Orang di karantina wilayah dilarang keluar masuk, untuk darurat sipil tidak ada larangan keluar masuk.
Wilayah yang dikarantina diberi garis dan dijaga terus menerus oleh petugas kepolisian. Sedang pada darurat sipil tidak ada, hanya ada pembatasan orang keluar rumah. Kebutuhan hidup dasar orang dan ternak di dalam wilayah karantina ditanggung pemerintah. Sedang pada darurat sipil tidak ada tanggung jawab pemerintah menanggung kebutuhan hidup semua orang.(jawa Pos, 31/3/2020)

Lucunya, saat pro kontra terjadi dan reaksi keras ditunjukkan rakyat keesokan harinya istilah darurat sipil diganti dengan darurat kesehatan. Dari sini jelas pemerintah mencla-mencle. Ogah mengambil tanggung jawab sebagai penjamin kebutuhan dan keselamatan warganya. Juga tidak cepat dan tanggap saat Corona sudah menjadi pandemi.

Sesungguhnya melalui bencana Corona ini semakin menunjukkan begitulah saat aturan manusia yang berbicara. Penguasa tak berhati apalagi melayani. Kebijakan lockdown pun sebenarnya adalah pil pahit yang tak tertelan oleh rakyat. Satu sisi dengan lockdown bisa meminimalkan penyebaran covid-19, tapi di sisi lain bisa mematikan perekonomian. Lalu bagaimana seharusnya pandemi ini dihadapi dari awal terjadinya?

Solusi Islam, Solusi Sahih

Semestinya pandemi ini dihadapi dengan serius sejak awal. Secara kausalitas jangan bermain-main dan menganggap enteng virus. Tentu saja solusi yang paling sahih adalah solusi dari syari'ah Islam. Saat ada wabah Islam menuntun agar ada penelusuran awal mula virus berkembang. Selanjutnya membatasi penyakit di tempat kemunculannya sejak dini sembari orang-orang sehat di tempat lain tetap bekerja dan berproduksi.

Sayangnya di tempat kemunculannya di Kota Wuhan. Isolasi yang dilakukan pemerintah Cina tidak ketat. Warga negara Cina masih bebas berkeliaran, tanpa peduli jika mereka bisa saja menjadi carrier virus. Nahas bahkan warga negara Cina banyak pula yang datang ke Indonesia. Hingga petaka tak mampu ditolak, Indonesia menjadi negara pandemi dengan death rate Corona tertinggi.

Karantina wilayah atau lockdown jauh-jauh hari telah dicontohkan oleh Rasulullah di masa lalu. Imam al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Usamah bin Zaid dari Nabi saw, beliau bersabda,
"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu ...."

Thaun atau pes adalah wabah yang disebabkan oleh tikus.  Pes ini telah menjadi problem tersendiri di negara-negara Eropa pada abad kegelapan. Namun Islam mampu melampaui jauh ke depan dalam penanganannya.  Ibnu Hajar menyebutkan di dalam Fathu al-Bârî bahwa Umar ra. keluar ke Syam, ketika tiba di Syargh, sampai kepadanya bahwa wabah terjadi di Syam. Lalu Abdurrahman bin ‘Awf memberitahunya bahwa Rasulullah saw bersabda:
Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah maka jangan kamu mendatanginya dan jika wabah terjadi di satu wilayah dan kamu di situ maka janganlah kalian keluar lari darinya.”

Maka Umar bin al-Khaththab pun kembali, Yakni ketika datang berita bahwa Tha’un telah menyebar, Umar membawa kaum Muslim untuk kembali.

Saat wilayah yang terdampak wabah diisolasi, yang di dalam tidak ke luar dan yang dari luar dilarang ke dalam maka negara menjalankan fungsi pelayanannya. Menjamin pengobatannya hingga sembuh dengan gratis. Memaksimalkan sarana dan prasarana rumah sakit berikut APD yang dibutuhkan. Juga tidak menunda melakukan penelitian untuk pencegahan dan pengobatan penyakit yang sedang menjadi wabah.  Selain itu yang menjadi tugas negara adalah memastikan terpenuhinya kebutuhan pangan warga.

Dari sini jelas, saat wabah diisolasi hanya di tempat awal munculnya dan tidak sampai menyebar dengan masif dan tak terkendali ke daerah luar. Tak perlu dilakukan lockdown bagi semua wilayah. Orang-orang yang sehat di luar wilayah wabah dapat beraktivitas seperti biasa. Tidak harus berdiam diri di rumah hingga melumpuhkan perekonomian dan berakhir dengan jumud dan bosan.

Lalu bagaimana dengan indonesia yang sudah kepalang tanggung menjadi wilayah pandemi dengan penguasa yang tidak sigap dan sibuk membangun ibukota alih-alih mengedukasi warga tentang bahaya Corona. Mau tidak mau rakyat mesti lockdown dengan inisiatif sendiri. Semoga dengan adanya wabah ini bisa menyadarkan para pemangku kebijakan untuk takut pada Allah dengan kembali menerapkan Syariah Islam.

Sebagai penutup akan saya sampaikan hadist yang akan meneguhkan jiwa kita dan memberikan kesabaran di tengah pandemi covid-19 ini. Diriwayatkan dari Imam al-Bukhari dari Aisyah ra. isteri Nabi ﷺ, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Tha’un lalu beliau memberitahuku:
“Tha’un itu merupakan azab yang Allah turunkan terhadap siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat untuk orang-orang mukmin. Maka tidak ada seorang hamba pun yang tha’un menimpa, lalu dia berdiam di negerinya seraya bersabar mengharap ridha Allah, dia tahu bahwa tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuknya, kecuali untuknya semisal pahala syahid.”

Post a Comment for "Kebijakan Mencla-Mencle di Tengah Corona"