[Analisa] Angka-angka adalah politik dan politik mencerminkan kepentingan

By : Bayu Dardias | Master dan PhD di ANU Canberra | Dosen di almamater DPP Fisipol UGM

Hari ke 32 (2)
Angka-angka adalah politik dan politik mencerminkan kepentingan. Apakah anda percaya angka-angka kasus Corona di Indonesia atau di negara lain? Ada tiga hal mengapa kebenaran angka-angka itu patut dipertanyakan.

Pertama, angka-angka diciptakan untuk melindungi kepentingan yang lebih besar, misalnya investasi dan ekonomi nanti setelah wabah berakhir. Dalam sejarah pembentukan negara-negara pasca Perang Dunia II, belum pernah sekalipun semua negara di dunia di test dengan instrumen tes yang sama untuk mengukur tingkat responsiveness dan governability.

Ketika krisis ekonomi 1997, yang paling parah merasakan adalah negara di Asia Tenggara. Pada krisis di 2008, hanya Amerika dan negara maju yang merasakannya. Nah, Corona ini mengetes kemampuan sebuah bangsa secara setara. Mulai bangsa kuat seperti Amerika dan Inggris sampai negara seperti Eswatini, Chad dan Cabo Verde terkena dampaknya, yang namanya pun gak pernah anda dengar, padahal raja Eswantini yang istrinya banyak itu hadir di pelantikan Jokowi (jangan di googling :) ).

Setelah pandemi berakhir, akan terlihat mana negara yang siap dan tidak menyelamatkan warganya. Indikasinya misalnya terkait penanganan, kedisiplinan warga terhadap physical distancing, sampai prosentase tingkat kematian. Sehingga, menjaga tingkat infeksi agar tidak terkesan melambung, dan terus melandai, menjadi sangat penting.

China (sekali lagi kalau datanya tidak dimanipulasi), menunjukkan tingkat kematian 2/sejuta populasi, bandingkan dengan Italy yang 243 kematian/sejuta populasi. Indonesia, angkanya 0.7 kematian/sejuta populasi (worldometers.info). Hanya bencana seperti Covid-19 lah yang bisa adil mengetes kapasitas negara-negara.

Kedua, angka-angka sengaja diciptakan untuk memberikan rasa aman palsu kepada warga negaranya. Angka-angka dibuat sedemikian rupa dan sudah disesuaikan dengan kapasitas negara mengelolanya. Tujuannya, agar tetap muncul kepercayaan masyarakat bahwa "negara memiliki kapasitas mengelola wabah." Jadi, prediksi-prediksi sudah disuaikan dengan kapasitas bukan realitas.

Rasa aman juga bisa dicipatakan lewat berita-berita palsu, yang karena sumbernya dari otoritas, tidak disebut hoax. Misalnya, virus tidak tahan di cuaca tropis. Tentu saja tak ada virus yang kuat dijemur sinar Matahari 33 derajat, tapi bagaimana jika di pegangan trolley supermarket yang suhunya diatur 23 derajat, atau di pengunci toilet pesawat yang suhu dan kelembabannya diatur otomatis?

Ketiga, pamerintah-pemerintah berusaha sekuat tenaga untuk jujur, tapi karena tidak punya alat dan sumber daya, baik material, maupun manusia, apa boleh buat, hanya bisa menguji dengan kapasitas yang seadanya.

Di Yaman, saat ini tidak ada kasus positif Corona, karena pemerintahnya lebih penting membeli gandum daripada alat tes. Di situs infeksiemerging (entah mengapa dinamai begitu, bahasa  Indonesia bukan, inggris juga bukan), sejak pertama (Februari 2020) hanya melakukan tes terhadap 7.986 sampel yang diperiksa dengan metode PCR yang canggih, 1.986 nya positif.

Jadi ketika angka penguburan di DKI meningkat dari rata-rata 2.700 di 2018&2019 menjadi 4.377 di bulan Maret, kita harus waspada bahwa ini karena Covid-19, bukan karena ketombe, panu, borok atau korengan.

0 Response to "[Analisa] Angka-angka adalah politik dan politik mencerminkan kepentingan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel