Upaya Pendangkalan Akidah di Tengah Wabah Korona (Merespon hoaks 'telur rebus')


Oleh: Hasni Tagili

"Barusan ini ada bayi yang baru lahir langsung bisa bicara. Dia menyeru untuk makan telur rebus dua biji malam ini sebelum terbit matahari. Telurnya jangan lupa dibacakan dulu Alfatihah sebelum dimakan. Itu untuk penangkal korona."

Kening saya tetiba mengkerut hebat pasca membaca sebuah pesan singkat subuh tadi. Entah siapa yang memulai berita ini. Saya langsung istighfar. Astagfirullah. Sejurus kemudian, saya tertawa geli ketika memandangi dua buah telur ayam mentah yang ada dalam genggaman. Haha. Ini buat nyeplok telor untuk sahur paksu ya 😂

Di tengah maraknya kasus Covid-19 di Indonesia, masih ada saja pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi darurat ini. Mulai dari penimbunan APD (Alat Pelindung Diri), sampai penyebaran berita hoaks baik secara klinis maupun klenik. Seperti berita telur rebus ini.

Mak, sekarang tuh 2020. Era digitalisasi. Informasi menyebar lebih cepat dari dugaan. Beritanya belum muncul di media masa. Eh sudah keburu viral di media sosial. Sebagai manusia yang diberi akal, hendaknya kita nggak latah menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya. Pun, sebagai manusia yang berakidah, seyogianya iman dijaga dari hal-hal yang bisa mendangkalkannya.

Merespon si telor rebus, ada tiga hal yang ingin saya tegaskan.
Pertama, beramal itu harus memenuhi dua syarat: niatnya hanya karena Allah Swt dan caranya benar sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Ini konsep ahsanu amala (beramal yang baik) dalam Islam. Jadi walau niatnya sedekah tapi kalau uangnya dari hasil mencuri harta orang kaya (ala-ala Robin Hood), itu nggak benar ya.

Pun, rebus telor dengan niat untuk berobat. Niatnya mencegah korona. Tapi kalau ada bumbu kleniknya, malah bisa jatuh ke kurafat (cerita bohong), bahkan syirik. Naudzubillah, tsumma naudzubillah 😨

Kenapa? Karena panduan secara klinis guna mencegah korona sudah banyak beredar di mana-mana. Langsung dari para pakar. Itupun saya nggak yakin semua orang mau sadar mandiri melakukannya. Eh tetiba ada berita beginian langsung dilaksanakan, "kau keterlaluan Roma" 😂 Mentang-mentang ada perintah membaca Alfatihah-nya. Ckck.

Kedua, informasi apapun yang sampai kepada kita, hendaknya dipastikan dulu validitas beritanya. Jangan langsung ditelan mentah-mentah. Check dan recheck jejak rekamnya. Darimana asal berita, siapa narasumber, dan apakah berita itu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kebiasaan yang banyak di masyarakat kita itu, hanya baca judul berita, langsung di-share. Gedubrak!

Ketiga, berpikir cemerlang sebelum bertindak. Sebab, segala apa yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya."
(TQS. Al-Isra': 36)

Semoga Allah Swt menjaga kita dari fitnah. Aamiin.

Konawe, 26 Maret 2020

Note:
"Sekejam-kejamnya virus korona, lebih kejam lagi industrialisasi hoaks"

0 Response to "Upaya Pendangkalan Akidah di Tengah Wabah Korona (Merespon hoaks 'telur rebus')"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel