INI PANDUAN LENGKAP BAGI INDIVIDU DAN NEGARA MENGHADAPI MUSIBAH CORONA


Oleh : Nasrudin Joha

Ingat, virus Corona itu wabah, musibah yang meluas. Perspektif awal untuk menghadapi Corona, adalah pandangan umum terhadap realitas wabah. 

Wabah, baik berupa bencana alam seperti angin topan, Banjir, Gempa Bumi, Tsunami, adalah musibah dan kehendak Allah SWT. Begitu juga wabah penyakit seperti Tha'un, Kusta, Lepra, Sars, hingga Corona. Semuanya ada atas kehendak Allah SWT.

Terhadapnya, upaya yang paling penting dilakukan ada dua hal :

Pertama, amalan hati yang terkait dengan keyakinan, terkait dengan iman, yakni keyakinan bahwa wabah atau musibah itu datangnya dari Allah SWT. Karenanya, sikap tawakal, ridlo atas ketentuan-Nya, berhusnudz dzan atas qadla-Nya, wajib hadir dalam sanubari setiap individu orang-orang yang beriman.

Kedua, amalan ikhtiar yang berada pada wilayah jangkauan akal. Yakni menghadirkan sejumlah faktor yang dapat meminimalisir dan menanggulangi dampak musibah.

Ingat ! Dalam konteks musibah, pikiran utama yang harus dikerahkan adalah antisipasi, penanggulangan dan penyelesaian dampak musibah. Tidak ada satupun amalan terindera, yang mampu mencegah atau menolak musibah.

Apakah saat gempa melanda ada ikhtiar yang bersifat amalan praktis untuk mencegah datangnya gempa ? Apakah saat Banjir melanda ada ikhtiar yang bersifat amalan praktis untuk mencegah datangnya banjir yang telah terjadi ? Apakah saat Tsunami melanda ada ikhtiar yang bersifat amalan praktis untuk mencegah datangnya Tsunami ? Jawabnya, tidak ada.

Yang bisa dilakukan adalah serangkaian tindakan yang berupaya menghadirkan faktor-faktor yang dapat mengantisipasi, menanggulangi dan penyelesaian dampak musibah. 

Begitu juga terhadap kasus wabah Corona. Pikiran kita tidak mungkin dapat menciptakan suatu ikhtiar untuk memusnahkan virus Corona. Jadi diskusi tentang anti virus Corona, sebaiknya dihentikan.

Kenapa ? Karena Corona itu terkategori wabah, bukan penyakit seperti TBC atau AIDS. Corona adalah wabah seperi musibah badai, badai itu akan menyapu suatu wilayah dan kawasan, tak ada yang bisa menghalaunya.

Badai, pada saat yang Allah SWT kehendaki akan reda dengan sendirinya. Ikhtiar manusia dalam menghadapi badai bukan menciptakan rekayasa untuk menghalau atau menghilangkan badai.

Jadi, saat badai datang disuatu wilayah dan diprediksi akan menyapu wilayah lain, badai ini tidak bisa dihentikan. 

Kita wajib berfikir untuk menghadirkan faktor-faktor yang dapat mengantisipasi, menanggulangi dan penyelesaian dampak musibah badai. Misalnya, dengan membangun bungker untuk berlindung, melakukan stok obat dan makanan, menanggulangi korban yang tetap tersapu badai, menyediakan fasilitas untuk penanggulangan badai, seperti fasilitas makanan, obat, dan fasilitas kesehatan.

Jadi jangan menghabiskan energi untuk membuat rekayasa menghilangkan atau menghalau badai. Badai adalah kehendak Allah SWT, sikap kita musti Tawakal dan berdoa agar badai sagera berlalu.

Wabah virus Corona itu seperti badai. Tidak ada satupun dokter atau ahli rekayasa genetika yang mampu menghalau apalagi menghilangkan wabah. Studi mengenai antivirus sebaiknya dihentikan, selain tidak urgen juga tidak bisa diambil secara cepat, padahal wabah Corona telah menyebar merata dan merajalela.

Ikhtiar yang wajib dilakukan adalah serangkaian upaya dan tindakan mengantisipasi, menanggulangi dan penyelesaian dampak musibah badai. 

Mengantisipasi, berarti melakukan proteksi. Menanggulangi, berari melakukan isolasi dan mengupayakan proses penyembuhan terhadap orang yang terdampak Virus Corona. Penyelesaian dampak, adalah aktivitas untuk melakukan kajian menyeluruh atas upaya proteksi dan isolasi, serta berbagai konsekuensi atas tindakan itu.

Upaya proteksi dilakukan untuk melindungi rakyat yang tidak terkena wabah, yakni untuk mencegah sebaran virus dengan menutup semua akses terhadap arus orang dan barang yang berpotensi menularkan virus Corona. Langkah ini dilakukan dengan melakukan seleksi ketat di arus masuk keluarnya orang dan barang, baik melalui darat (stasiun dan terminal), udara (bandara) dan laut (pelabuhan).

China adalah negara asal virus Corona, karena itu proteksi umum wajib diterapkan terhadap warga negara dengan menutup seluruh akses dari dan ke China, baik melalui darat, laut dan udara. Terhadap orang China, baik turis maupun TKW China, yang belum masuk Indonesia wajib dihalau, yang sudah masuk di Indonesia wajib segera dikeluarkan.

Selain China, kebijakan yang sama juga wajib diterapkan kepada negara-negara yang telah terdampak wabah Corona selain China, seperti Italia, Korea Utara, Korea Selatan, Inggris, Perancis dan negara lainnya. Semua WNA dan TKA dari negara tersebut wajib dihalau, jika sudah di Indonesia wajib segera dipulangkan.

Adapun negara diluar negara terdampak, meskipun belum terkena wabah Corona, kebijakan negara juga sebaiknya menutup semua akses untuk sementara waktu.

Adapun untuk kebijakan proteksi, dilakukan pada dua hal :

Pertama, proteksi terhadap daerah, atau wilayah, yang secara medis telah terbukti banyak ditemukan kasus Corona. Karena itu, kebijakan Lockdown wajib diadopsi, agar virus ini tidak mewabah dan menular ke daerah atau wilayah lainnya.

Jika negara, ingin mengambil tindakan antisipasi, tidak berdasarkan sebaran virus, tetapi lebih kepada melakukan isolasi umum agar dampak wabah bisa Lebih terkendali, maka kebijakan Lockdown bisa diterapkan secara umum oleh negara disemua wilayah NKRI.

Negara wajib memikirkan konsekuensi akibat kebijakan Lockdown. Seperti memastikan ketersediaan makanan, obat, dan fasilitas kesehatan bagi rakyat.

Bagi rakyat yang terkategori mampu (layer pertama), kebijakan Lockdown tidak akan terlalu berpengaruh. Individu rakyat yang mampu, dalam satu atau dua bulan, bisa mencukupi kebutuhan hidup selama Lockdown, meskipun untuk sementara waktu tidak bekerja.

Bagi rakyat yang terkategori kurang mampu (layer kedua), kebijakan Lockdown akan sedikit berpengaruh. Individu rakyat yang kurang mampu, dalam satu atau dua pekan, bisa mencukupi kebutuhan hidup selama Lockdown, namun tidak untuk satu atau dua bulan. 

Karena itu, negara wajib menanggung kebutuhan hidup dari sisa kebutuhan rakyat yang tak mampu ditanggungnya sendiri. Negara wajib memberi subsidi untuk mencukupi kekurangan kebutuhan hidup rakyat yang terdampak kebijakan Lockdown.

Bagi rakyat yang terkategori tidak mampu (layer ketiga), kebijakan Lockdown akan sangat berpengaruh. Individu rakyat yang tidak mampu, yang bekerja sehari untuk makan sehari, tentu akan sangat terdampak kebijakan Lockdown.

Karena itu negara wajib menanggung seluruh kebutuhan hidup yang asasi bagi rakyat kategori tidak mampu, baik untuk seminggu, sebulan, atau dua bulan, hingga negara mendapat kepastian dari ahli medis, bahwa badai Corona telah berlalu.

Kedua, isolasi dan penanganan. Setiap individu baik rakyat atau penguasa yang telah terdampak wabah Corona wajib diisolasi.

Isolasi wajib memenuhi dua kriteria :

Pertama, isolasi yang memberi jaminan agar virus tidak menular dari orang yang terdampak virus Corona (Pasien) dengan dokter dan petugas medis, juga anggota keluarga dan masyarakat lainnya.

Untuk itu, perlu membuat serangkaian kebijakan teknis agar interaksi dengan pasien benar-benar terukur, terjaga, dan dijamin kepastian tidak menularkan virus. Karena itu, keselamatan jiwa dokter dan petugas medis wajib dijamin, dengan menyediakan sejumlah alat kesehatan dan tidak hanya terbatas pada Masker atau pakaian pelindung dari virus Corona.

Kedua, isolasi yang memberi jaminan bagi proses pemulihan dan penyembuhan pasien. Ingat ! Ajal, penyakit dan kesembuhan ada ditangan Allah SWT.

Meskipun virus Corona belum ada obatnya, namun kebijakan medis umum yang diterapkan secara intensif kepada pasien sangat berpengaruh bagi kesembuhan pasien.

Dengan merujuk dua syarat isolasi diatas, maka tidak ada istilah isolasi mandiri. Sebab, isolasi mandiri tidak memenuhi dua kriteria sebagaimana dimaksud dalam pengertian isolasi dalam artikel ini.

Selanjutnya para dokter dan petugas medis wajib berjibaku berada didepan dalam perang menghadapi virus Corona. Negara wajib menyediakan seluruh amunisi dan peralatan perang untuk dokter, apapun yang dibutuhkan.

Negara juga wajib mendengarkan advice dokter, karena dokter yang paling ahli dalam urusan medis, bukan investor. Negara tidak boleh mengabaikan rekomendasi Lockdown dari dokter, hanya karena lebih mementingkan bisikan-bisikan para investor.

Kebijakan Lockdown memang berdampak bagi iklim investasi. Tetapi kebijakan ini akan segera berakhir, seiring perginya (berakhirnya) badai Corona. 

Namun jika Lockdown tidak diambil bukan karena pertimbangan medis, hanya karena pertimbangan bisnis dan kekhawatiran dampaknya bagi investasi, berarti negara telah merelakan nyawa rakyat meregang dan lebih mementingkan kepentingan kaum kapital.

Ingat ! Dalam urusan ini, para ulama, para da'i, para pengemban dakwah bukan ahli medis. Dalam urusan ini, semuanya wajib tunduk dan mendengar advice dokter. Jangan membuat ijtihad sendiri tanpa ilmu, yang khawatir akan menjerumuskan dan membahayakan nyawa banyak orang.

Pada saat yang Allah SWT kehendaki, monitoring dokter atas sejumlah fakta, akan mengabarkan kepada kita semua bahwa badai Corona telah berlalu. Sebagaimana berhentinya badai, berhentinya wabah belalang, wabah Corona juga akan nampak perginya, seiring dengan kehendak Allah SWT yang mengangkat musibah ini.

Ini adalah rekomendasi dari Nasrudin Joha, bagi individu juga negara, dalam menghadapi perang besar melawan virus Corona. Saat ini, semua individu wajib membatasi interaksi, hindari kerumunan, sebagai ikhtiar terindera untuk melawan virus Corona.

Anda tahu bahwa negara dan rezim ini tidak mungkin mengadopsi usulan dan pendapat Nasjo. Karena itu, anda wajib mengadopsi rekomendasi Nasjo pada tataran yang bisa dieksekusi secara individual.

Negara ini dibawah rezim Jokowi, tidak mungkin berfikir jauh dan seluas artikel ini. Rezim ini hanya peduli pada investasi, tak mau tahu dan tak mau pusing memikirkan keselamatan dan nyawa rakyatnya. [].

Post a Comment

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.