Hari-hari Terakhir "The Last Khalifah" Abdümecid II di Istanbul


Pada tengah malam yang suntuk dan gelap di Kota Istanbul, ada secercah cahaya yang memancar dari suatu ruangan di Istana Dolmabahçe. Seseorang sedang duduk dan membaca Al Qur'an dengan sangat tenang dan hikmat, sambil merenungkan keadaan nasib rakyat dan umatnya. Ternyata orang yang membaca Al Qur'an itu adalah Khalifah Abdümecid Han II, dia adalah pemimpin ke-37 sekaligus terakhir Turki Utsmani dan juga Khalifah Islam ke-116 sekaligus terakhir.

Dua tahun sebelumnya, sepupunya Sultan Muhammad Vahdettin VI telah diasingkan ke Malta, Italia (di mana kemudian ia wafat dalam kedaaan kelaparan disana) saat itu Kekhalifahan Utsmaniyah yang Agung telah ditekan oleh Majelis Nasional Agung Turki yang berada di bawah pimpinan Mustafa Kemal Atatürk. Kekuatan nasionalis dan sekuler Turki pada akhirnya membawa Kekhalifahan Utsmaniyah pada akhir sejarah panjang masa keemasannya, pada awalnya Kaum Sekuler ragu bisa menghapuskan institusi kekhalifahan Islam secara langsung, karena mereka khawatir akan terjadi reaksi besar yang dilakukan Umat Islam.

Untuk memuluskan rencananya kaum Nasionalis/Republik dan sekuler memulai kampanye anti Kekhalifahan, mereka melakukannya dengan cara kekerasan dan intimidasi untuk memastikan bahwa semua orang yang mendukung Khalifah telah disingkirkan. Akhirnya, pada tengah malam hari 3 Maret 1924, mereka memulai langkah buruknya untuk mengusir Khalifah beserta keluarganya. Malam itu 1 Batalyon Tentara Republik dikerahkan untuk mengepung Istana Dolmahbaçe dari segala arah. Setelah seluruh Istana terkepung sekelompok tentara Republik memasuki Istana Dolmahbaçe dan mencari keberadaan Khalifah Abdülmecid Han II. Ketika mereka tau akan keberadaan Khalifah yang berada di Perpustakaan, mereka pun segera menuju kesana, sesampainya didepan pintu perpustakaan, mereka mendobrak pintu perpustakaan Istana Dolmabahçe.

Khalifah pun bergeming atas kejadian itu dan terus melanjutkan bacaan ayat ayat suci Al-Qur'an. Awalnya sekelompok Tentara Republik terkejut oleh pemandangan Khalifah yang sedang membaca Al-Qur'an, tapi mereka tetap memaksa dirinya untuk membacakan proklamasi dari Majelis Nasional Agung Turki, yang salah satu isinya adalah, bahwa Institusi Pemerintahan Kekhalifahan telah berakhir dan dihapuskan, serta Khalifah beserta semua keluarganya harus keluar dari Istana tanpa membawa harta benda dari Istana. Dll.

Awalnya Khalifah menolak untuk meninggalkan Istana dan Kota Istanbul, tapi para pengawal setianya khawatir bahwa khalifah beserta semua keluarganya akan dibunuh oleh tentara pendukung Republik yang sekarang sudah mengepung Istana Dolmabahçe, Setelah menimbang beberapa pilihan. dengan berat hati Khalifah bersama 37 anggota keluarganya segera mengemas beberapa pakaian dan pergi menuju tempat pengasingan.

Menjelang waktu Subuh, Khalifah bersama keluarganya dibawa ke stasiun Kereta Api Istanbul, di mana kemudian ia dan keluarganya akan ditempatkan di Kereta Orient Express untuk menuju Swiss. Pihak Republik memberikan Amplop berisi £ 2000 kepada Khalifah yang meninggalkan seluruh harta Istana yang penuh berlian, zamrud dan emas. Setelah itu kepala stasiun bergegas membawa Khalifah dan keluarganya ke rumah yang kecil di sebelah stasiun kereta api untuk melindungi mereka dari dinginnya malam. Akhirnya kereta itu pun tiba, kereta yang akan mengantarkan Khalifah bersama 37 Anggota Keluarganya dalam perjalanan yang sangat menyedihkan itu.

Keesokan harinya di saat umat islam terbangun di pagi hari dan mendengar berita yang sulit untuk mereka percayai sebelumnya bahwa khilafah telah dihapuskan dan disaat itu juga Umat Islam seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Sebagian Umat Islam pun kembali bergerak dan melakukan protes, demonstrasi dan pemberontakan terhadap pihak Republik diberbagai tempat, kerusuhan pun pecah dan terjadi dimana mana, tapi tentara Republik segera menghadapi semuanya dengan keras.

Khalifah Abdümecid Han lI menghabiskan hari harinya terakhir dalam hidupnya di Kota Paris, Prancis, dimana Abdülmecid II wafat disana pada tahun 1944. Selama pendudukan Pasukan Nazi di Prancis. Tidak pernah ada seorang Khalifah yang dikubur di tanah Non-Muslim, jasad Abdülmecid II pun akhirnya diangkut dengan menggunakan kapal perang Nazi (sumber : Son Islam Halifesi) dan dimakamkan di Jannah Al-Baqi pemakaman Madinah Al-Munawarah. Dengan wafatnya sang khalifah maka disitu jugalah berakhirnya kesatuan politik dan spiritual di seluruh negeri negeri muslim. 96 tahun umat Islam tanpa Khilafah.

Kontributor : @farruq_1453 | @hamidiye_1453
Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin
Label: ,

Post a Comment

[blogger]

Author Name

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.