Corona Datang Ekonomi Tumbang?


Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Revowriter Waringin Kurung)

Anggota Komisi IX Fraksi PAN DPR, Saleh Partaonan Daulay, mengkritik jajaran pemerintah yang meminta masyarakat tidak panik dalam menghadapi virus Corona. Faktanya, Istana Negara sendiri sudah mulai menerapkan pengamanan yang ekstra ketat. (VIVAnews, 04/02/20)

Corona Ke Indonesia

Pada 2 Maret kemarin presiden RI mengumumkan dua orang warga Indonesia yang terjangkit Corona yaitu ibu dan anak. Diduga karena berinteraksi langsung dengan yang terjangkit Corona dari luar negeri. Dengan terkonfirmasinya kasus Corona ini ada 66 negara yang terjangkiti Corona. Saat ini menurut data arcGis ada 89.071 kasus Corona secara global. Sementara korban tewas kini berjumlah 3.044. Sedangkan yang sembuh 45.074. Corona jenis baru ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China. WHO memberi nama penyakit ini COVID-19. (CNBC, 02/03/20).

Banyak negara yang akhirnya terjangkit, mereka segera melakukan upaya pengobatan dan juga pencegahan bagi yang belum terjangkit Corona. Sebelum Corona datang ke Indonesia, WHO mengatakan bahwa kemungkinan Indonesia tidak mengetahui ciri-ciri warga negaranya yang terjangkit virus Corona. Tak lama kemudian akhirnya ditemukan warga Indonesia yang terkena virus Corona.

Pemerintah RI menyarankan kepada warga agar tidak panik ketika ada yang sudah terdeteksi virus Corona di Indonesia. Namun perkataan tersebut berbanding terbalik dengan sikap istana, karena istana Kepresidenan lantas mulai memperketat pintu masuk. Setidaknya, pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermo scanner dilakukan seketika tamu atau pegawai memasuki area lingkungan unit kepresidenan dan kantor Presiden Jokowi.

Di Banten ada 6 warga suspect virus Corona, mereka dirawat di Rumah Sakit dr Dradjat Prawiranegara (RSDP) Serang dan Rumah Sakit Umum (RSU) Tangerang. Sample spesimen bagian tubuh mereka sudah dibawa ke Jakarta untuk dilakukan penelitian di laboratorium Kementrian Kesehatan (Kemenkes).

Di RSDP ada dua dalam pengawasan, yang dibawa ke Jakarta itu sample spesimen yang akan dilakukan pemeriksaan di Litbangkes Kemenkes Jakarta, bukan pasien nya," kata Humas RSDP Serang, Khaerul Anam.

Dari keterangan yang ada, pasien ke IGD dulu, setelah diperiksa dibawa ke ruang isolasi. Keluhannya demam, batuk, pilek sama sesak nafas. Suhu tubuh mereka di atas normal. Dua PDP di tangani oleh tiga dokter spesialis, yakni dokter spesialis paru, jantung dan penyakit dalam. Kondisi kesehatan mereka dikontrol selama 24 jam oleh tim medis rumah sakit milik Pemkab Serang itu. (SuaraBanten.id, 09/02/20)

Masyarakat panik, istana pun sebenarnya panik dan ternyata beredar kabar bahwa Indonesia berhutang kembali seiring dengan kedatangan Corona ke ndonesia, Asian Development Bank (ADB) berkomitmen untuk mengucurkan pinjaman kepada Indonesia sebesar 2,7 miliar dolar AS, atau sekitar Rp38,5 triliun. (Warta Ekonomi.co.id, 02/03/20) Apakah ini faktor kebetulan?

China sebagai negara pertama yang terjangkit virus Corona, memang banyak mengeluarkan dana recovery bagi pasien yang sudah terjangkit maupun pencegahan bagi yang belum terkena. Lantas, apakah untuk hal ini pemerintah kembali berhutang? Apakah kedatangan Corona ke Indonesia mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sehingga Indonesia harus memiliki cadangan dengan cara berhutang kembali?

Bagaimana Islam Menangani Corona Dan Kestabilan Ekonomi
Perlu diketahui, bahwa adanya virus Corona atau virus apapun yang lainnya bukanlah penyebab utama menurunnya pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Virus hanya salah satu beban yang harus dihadapi oleh sebuah negara ketika terjangkit oleh suatu virus. Karena penyebab kemunduran atau tidaknya pertumbuhan ekonomi suatu bangsa adalah urusan domestik yaitu pengelolaan ekonomi di sebuah negara dan sistem apa yang digunakan oleh negara tersebut.

Selama sistem dan pengelolaan suatu negara yang dipakainya adalah ekonomi kapitalisme, mental utang akan terus dilakukan apapun kondisinya, baik ada virus ataupun tidak. Di dalam Islam suatu negara dikatakan tumbuh dan sejahtera adalah terpenuhinya kebutuhan pokok setiap warga negara yaitu sandang, pangan, papan. Serta terpenuhinya kebutuhan kolektif yaitu kesehatan, keamanan dan pendidikan.

Ketika misalnya khilafah sebagai negara Islam yang menerapkan aturan Allah secara kaffah terkena virus seperti Corona, maka sudah menjadi tanggung jawab pemerintah mengurus warganya mendapatkan fasilitas yang baik dan pelayanan yang terbaik. Tanpa harus berhutang ke luar negeri apalagi negeri tersebut adalah musuh Islam.

Karena pengelolaan yang digunakan oleh khilafah adalah sistem ekonomi Islam, maka sumber keuangan daulah khilafah ada di kas Baitul mal. Dari sini negara memiliki dana untuk mengurusi rakyatnya baik yang sudah terjangkit virus ataupun pencegahan bagi yang belum terjangkit virus.

Strategi kebijakan ekonomi khilafah merupakan bagian integral dari kebijakan politik pemerintahan, sehingga tak terpisah dari kebijakan negara di bidang lainnya. Di antaranya, pertama, Memastikan suplai kebutuhan vital pada wilayah yang diisolasi, jika pusat penyakit ada di wilayah khilafah.

Kedua, Membiayai aktivitas edukasi dan promosi hidup sehat pada masyarakat di luar wilayah pusat penyakit. Dana untuk mengatasi corona di Bagian Belanja Negara Baitulmal masuk dalam dua seksi. Seksi Mashalih ad Daulah, khususnya Biro Mashalih ad Daulah dan Seksi Urusan Darurat/Bencana Alam (Ath Thawari). Seksi ini memberikan bantuan kepada kaum muslim atas setiap kondisi darurat/bencana mendadak yang menimpa mereka. Biaya yang dikeluarkan dari seksi Ath Thawari diperoleh dari pendapatan fai’ dan kharaj. Apabila tidak terdapat harta dalam kedua pos tersebut, maka kebutuhannya dibiayai dari harta kaum muslim (sumbangan sukarela atau pajak).

Ketiga, Melarang praktik ihtikar (penimbunan) pada barang apa pun. Baik sembako, masker, hand sanitizer, dll. Jika terbukti melanggar, pelaku akan diberi sanksi. Keempat, Membiayai riset untuk menemukan obat dan antivirus Corona. Negara membuka kesempatan bagi warga negara yang kaya untuk sedekah dan wakaf bagi penelitian ini.

Kelima, Menghentikan impor barang dari wilayah pusat penyakit, jika pusat penyakit ada di luar wilayah khilafah. Untuk memenuhi kebutuhan penduduk terhadap barang tersebut, khilafah akan memasok produk substitusinya. Misalnya gandum diganti serealia lainnya, buah impor diganti buah lokal, dll.

Keenam, Melarang kapitalisasi antivirus corona. Sehingga antivirus bisa dinikmati semua manusia tanpa ada pihak yang mencari keuntungan di tengah musibah. Ketujuh, Memberikan bantuan sosial pada negara lain yang terdampak Corona. Baik berupa sembako, obat-obatan, antivirus, tenaga medis, dll. Baik penduduknya muslim atau kafir.

Demikianlah gambaran kebijakan ekonomi khilafah jika menghadapi Corona. Dengan kebijakan seperti ini, secara efektif akan memutus penyebaran virus dan mengoptimalkan upaya penyembuhan pasien. Sehingga wabah seperti penyakit Corona sekarang ini, bisa diatasi sebelum menyebar ke seluruh dunia. (Muslimahnews). []

Allahu A'lam Bi Ash Shawab.

Post a Comment

[blogger]

Author Name

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.