Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Benarkah Islam Mengancam Negeri


Oleh : Sulastri (pemerhati umat)

Bak melempar bumerang, ketika dilempar dia akan kembali kepada pemiliknya. Melempar pernyataan kontrofersial kepada khalayak umum jelas akan mengundang kegundahan di tengah kegentingan masyarakat, meski telah berupaya menyanggah dengan berbagai dalih untuk membenarkan argumentasinya, tapi tetap berpotensi mengancam eksistensinya sendiri.

seperti yang telah dilansir VOA ISLAM.Com Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi tengah menjadi sorotan publik terkait pernyataan soal agama adalah musuh terbesar pancasila.

Yudian pun mengklarifikasi soal pernyataannya tersebut.Menurut Yudian penjelasan yang dimaksud  adalah bukan agama secara keseluruhan, tapi mereka yang mempertentangkan agama dengan pancasila. Karena itu menurutnya dari segi sumber dan tujuannya Pancasila itu religius dan agamis.

Pernyataan Kepala BPIP ini memantik reaksi publik. baik kalangan masyarakat umum, pemuka agama, sampai pejabat negara. Karena pada saat memaparkan pernyataan tersebut jelas sekali kata melempar anggapan bahwa musuh terbesar pancasila adalah agama.

Dalam dialog terbuka pada program ILC Prof. Suteki  menanggapi pernyataan Prof. Yudian justru menunjukan sikap yang tidak mengerti pada pancasila. Lebih parah lagi, beliau menyimpulkan ada beberapa fakta dari pernyataan Prof. Yudian diantaraanya: Ahistoris yaitu agama lebih dulu dibanding Pancasila. Jadi pernyataan agama musuh terbesar pancasila jelas tidak sesuai dengan sejarah. Atheis yaitu pernyataannya lebih cenderung pada penghilangan agama, karena menempatkan konstitusi di atas ayat suci. Anomis yaitu bertentangan dengan hukum.

Sebenarnya jika ditelisik lebih dalam, pernyataan tersebut jelas ditujukan pada orang-orang yang mengarahkan   dan menjadikan Islam sebagai solusi pada berbagai permasalahan umat hari ini dan mereka biasa menyebut kelompok ekstrem dengan pemahaman islam yang sempit untuk mengacaukan negara.

Stigma ini semakin diperjelas lagi disematkan kepada islam. Mengutip pernyataan Wakil Presiden Makruf Amin "Khatib dalam shalat jumat harus bersertifikat dan memiliki komitmen kebangsaan di tengah merebaknya ajaran-ajaran radikal dikalangan umat islam. Wapres menekankan pula khutbah yang disampaikan tidak boleh ada unsur memecah belah umat. MEDIA INDONESIA (14/02/2020). 

Sejatinya khutbah yang disampaikan oleh khatib adalah hal yang sewajarnya disampaikan. Mereka jelas bukan orang sembarangan yang naik di atas mimbar khutbah. Ketika mereka menyampaikan berbagai masalah umat hari ini tidak terselesaikan, itu karna memang solusi yang ditawarkan bukanlah solusi dari islam. Jelas tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan menambah masalah baru. Akar masalah umat hari sebenarnya bukan pada orang orang yang dianggap radikal, tetapi ada pada ketimpangan sosial, rendahnya ekonomi, bahkan kurang amanahnya orang orang yang ditunjuk sebagai wakil rakyat atau orang yang dipercaya mengurusi urusan rakyat, sampai muncul korupsi, suap dan lain-lain yang justru sangat merugikan rakyat.

Islam adalah Agama yang Rahmatan lil alamin. Karena bersumber dari sang khaliq, diwahyukan melalui kitab suci Alqur'an, penyempurna kitab terdahulu. Diajarkan oleh manusia pilihan, Rasulullah SAW. Namun belakangan ini Islam menjadi pesakitan, dianggap sebagai biangkerok dan musuh negara. Hukum-hukumnya mulai di kritisi hingga dianggap pemecah belah persatuan bangsa, sungguh ironis. Padahal  Islam dulu adalah mercusuar peradaban. selama kurang lebih 14 abad berjaya dengan penerapan hukum hukumnya yang membuat takjub dunia.

Sebagian manusia kadang berani  bersikap lancang. Merasa tau hakikat yang baik dan yang buruk bagi manusia. Bahkan merasa lebih tau dari Allah SWT. lalu berani menyingkirkan petunjuk allah SWT (Islam). Menjelekkan Islam, mengkambing hitamkan Islam, mengajak manusia lain untuk menyingkirkan Islam dari kehidupan mereka. 

Padahal Allah lah yang Maha tahu atas hakikat yang baik dan yang buruk untuk manusia. Pandangan dan penilaian manusia sering salah. Seringkali manusia menilai sesuatu itu baik, sehingga dia sukai. Padahal itu sejatinya buruk untuknya. Sebaliknya sering menilai itu buruk sehingga dia benci, padahal justru itulah yang baik untuknya.

Firman Allah “Boleh Jadi kalian membenci sesuatu padahal Ia amat baik bagi kalian. Boleh Jadi Pula kalian menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui” (Qs albaqarah:216).

Imam Fakhruddin ar-razi di dalam mafatih Al ghayb menyatakan: "seolah Allah berfirman: Hai hamba, ketahuilah bahwa pengetahuan ku lebih sempurna dari pengetahuan. Karena itu sibuk lah kalian menaati ku dan jangan menuruti tuntutan tabiat kalian.

Dengan demikian apa saja yang Allah berikan untuk manusia di dunia ini, berupa syariahnya pasti baik untuk manusia dan kehidupan yang harus dilakukan oleh manusia menaati dan sibuk merealisasikan Syariah itu di tengah-tengah kehidupan mereka.

Dan keadaan ini akan benar-benar kita rasakan jika islam telah menjadi dasar perbuatan manusia di segala aspek kehidupan. walahualambishawab

Post a Comment for "Benarkah Islam Mengancam Negeri"