Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Waspadai Terowongan "Pluralisme" Istiqlal - Katedral


Oleh : Nurlela

Pemerintahan Joko Widodo berencana membangun terowongan yang akan menghubungkan antara masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral. Rencana pembangunan terowongan ini termasuk dalam proyek renovasi Masjid Istiqlal yang ditargetkan rampung pada April 2020. Rencana pembangunan terowongan yang disebut dengan terowongan 'silaturahmi' ini dikabarkan mendapat sambutan baik dari 2 agama yakni Islam dan Kristen. Wakil Kepala Humas Masjid Istiqlal Abu Hurairah mengatakan terowongan ini akan menjadi ikon toleransi di Indonesia.
https://m.republika.co.id/berita/q5fpjm328/dunia-islam/islam-nusantara/20/02/07/q5bwwb430-terowongan-istiqlalkatedral-diproyeksi-jadi-ikon-toleransi

Tujuan pembangunan terowongan ini adalah untuk memudahkan para pejalan kaki yang ingin menyeberang dari Masjid Istiqlal ke Gereja Katedral atau sebaliknya, sekaligus menyimbolkan adanya silaturahmi antara jamaah Masjid Istiqlal dengan umat di Gereja Katedral.

Pembangunan terowongan yang menghubungkan dua rumah ibadah ini akan sejalan dengan penyelesaian renovasi besar-besaran yang dilakukan di Kompleks masjid terbesar di Asia Tenggara ini. Total anggaran renovasi Masjid Istiqlal seperti dilansir di Tempo.com sebesar 475 miliar rupiah dan belum diketahui apakah dana pembangunan terowongan ini memakai dana renovasi atau dibuat dana tambahan.

Namun rencana pemerintahan Joko Widodo untuk membangun terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral mendapatkan tanggapan beragam dari sejumlah tokoh, ada yang mendukung namun ada pula yang meminta presiden untuk mengkaji ulang rencana pembangunan terowongan tersebut.

Seperti dilansir di katadata.co.id, dua organisasi besar di Indonesia yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) mengkritik rencana tersebut. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengatakan masyarakat membutuhkan silaturahmi dalam bentuk infrastruktur sosial bukan dalam bentuk fisik berupa terowongan. 

Begitu pula ketua umum pengurus besar NU Said Aqil Siroj yang mempertanyakan urgensi pembangunan terowongan tersebut. Setali tiga uang dengan NU dan Muhammadiyah, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Gomar Gultom juga mempertanyakan urgensi pembangunan terowongan tersebut.

Berkenaan dengan tujuan pembangunan yang dikatakan Presiden Joko Widodo sebagai upaya untuk mewujudkan toleransi di antara 2 agama masih dipertanyakan. Direktur Riset Setara Institute, Hailili menyatakan di Indonesia saat ini masih dihantui sejumlah persoalan di tengah kehidupan umat beragama, karena selama ini sering ada pengkaburan makna toleransi bahkan ketimpangan dalam menilai toleransi. perbedaan suku, ras, agama masih menjadi pemicu terjadinya konflik di tengah masyarakat dan melahirkan kelompok berlabel mayoritas dan minoritas yang membuat jurang pemisah semakin terlihat nyata. Slogan Bhinneka Tunggal Ika yang kerap diopinikan sebagai ujung tombak kerukunan pun masih berakhir sebatas kata-kata. Sehingga tak heran jika saat ini topik toleransi masih sering digaungkan untuk meredam konflik yang ada.
.
Hanya saja realisasi toleransi dengan membangun terowongan yang menghubungkan dua tempat ibadah adalah keputusan yang tidak masuk akal. Pasalnya hal ini justru berpotensi mengusik syariat agama Islam yang mewajibkan umatnya untuk menjaga kesucian masjid dengan tidak mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil. Jika hal ini dibiarkan bukan hal yang tidak mungkin akan menjadi celah masuknya faham pluralisme yang menganggap semua agama sama di tengah-tengah masyarakat. Padahal sejatinya paham ini (pluralisme) bertentangan dengan Islam dan haram bagi kaum muslimin untuk mengambilnya. Selain itu paham pluralisme bisa merusak kemurniaan aqidah umat.

Adalah negara pihak utama yang berkewajiban untuk menjaga aqidah umat dari segala sesuatu yang bisa merusak, salah satunya adalah faham pluralisme. Namun sayang sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan di negeri ini telah menjadikan negara abai dalam melaksanakan kewajibannya. Hal ini amatlah jelas bahwa negara yang saat ini menerapkan sistem kapitalisme sekuler tidak pernah menjadikan agama sebagai asas dalam menerapkan suatu kebijakan. Dengan mengatasnamakan toleransi antar agama negara justru menerapkan suatu kebijakan yang bisa membahayakan aqidah umat.

//konsep toleransi dalam islam//

Sebagai sebuah mabda Islam memiliki seperangkat aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya tentang keberagaman dan toleransi antar umat beragama. Islam memandang keberagaman/pluralitas adalah sunnatullah yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya hal ini Allah SWT sampaikan dalam Al quran Allah berfirman :

" Wahai manusia sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui Maha teliti".(Qs. Al Hujurat :13)

Islam menghargai keberagaman tanpa mencederai ibadah dan akidah Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Konsep toleransi di dalam Islam untuk membangun kerukunan beragama dengan cara membiarkan pemeluk agama lain menjalankan aqidahnya tanpa diganggu sebagaimana di dalam Qs. Al kafirun khususnya ayat yang artinya "bagimu agamamu dan bagiku agamaku". 

Di dalam sejarah Islam yang panjang tidak ditemukan kasus penindasan yang dilakukan oleh umat muslim terhadap umat lainnya, bahkan ketika Islam berkuasa melalui sistem Khilafah di dunia. Tidak ada paksaan terhadap umat lainnya untuk memeluk Islam. Umat non muslim tetap dilindungi untuk melaksanakan aktivitas ibadah sesuai dengan agama mereka. 

Sikap toleransi kaum muslimin ini dipuji oleh pakar barat non muslim sejarawan Kristen bernama Thomas Walker Arnold menyampaikan " perlakuan terhadap warga kristen oleh pemerintah Khilafah Turki Usmani selama kurang lebih dua abad setelah perlakuan Yunani telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa"
(The Preaching of islam. A History of the propagation of the muslim faith, 1896, hal. 134).

Dengan demikian umat Islam harus berhati-hati dengan segala upaya yang mengarah kepada penyebaran faham pluralisme di tengah-tengah umat, salah satunya berkedok terowongan silaturahim.

Inilah Mengapa penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah kenapa begitu penting untuk diperjuangkan, selain sebagai buah ketaatan total seorang hamba kepada Sang pencipta yakni Allah SWT,  penerapan Islam secara Kaffah mampu menjaga aqidah umat dari paham pluralisme.

Judul asli : Mewaspadai Bahaya Pluralisme Di Balik Pembangunan Terowongan 'Silaturahmi' Masjid Istiqlal -  Gereja Katedral
Sumber : telegram WadahAspirasiMuslimah

Post a Comment for "Waspadai Terowongan "Pluralisme" Istiqlal - Katedral"