Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ucapan Salam dan Salam Pancasila ("Tamparan" Ustadz Tengku Zulkarnain untuk Ketua BPIP)



Kata Yudian, salam itu maksudnya mohon ijin terhadap seseorang sekaligus mendoakan selamat. Kalau bahasa arabnya Assalamu’alaikum warahmatulloh wabarakatuh. “Ada hadits kalau anda jalan, ada orang duduk, maka Anda harus mengucapkan salam. Itu maksudnya adaptasi sosial. Itu jaman agraris. Sekarang jaman industri digital lagi. Misalnya mau menyalip pakai mobil salamnya gimana? Pakai lampu atau klakson,” papar ketua BPIP tersebut dalam wawancara di detik.com beberapa waktu lalu.

Kata Yudian, salam di tempat umum harus menggunakan salam yang sudah disepakati secara nasional. “Dengan kesepakatan nasional misalnya salam Pancasila daripada ulama ribut kalau pakai shalom bisa jadi kristen. Padahal mendoakan orang itu boleh-boleh saja. Sebenarnya kita ngomong shalom kepada orang kristen tidak ada masalah dengan teologis,” ujarnya.

“Kalau kita salam setidaknya harus ada lima sesuai agama-agama. Ini masalah baru kalau begitu. Kini sudah ditemukan oleh Yudi Latif atau siapa dengan Salam Pancasila. Saya sependapat,”.pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, Ustadz Tengku Zulkarnain dalam akun IGnya menulis sebagai berikut :
Ucapan Salam dan Salam Pancasila

Bagi kaum muslimin ucapan salam adalah ibadah. Selain ibadah lafazhnya pun sudah ditentukan oleh Allah dan Rasulnya. Saat Nabi Isra' dan Mi'raj, di kaki Arsy Nabi memberikan penghormatan kepada Allah dengan ucapan:"Attahiyyatul mubarokatushsholawatutthoyyibatu lillah..." Lalu Allah menjawab dengan memberikan salam kepada Nabi:" Assalamu alaika Ayyuhannabiyyu warohmatullahi wa barokatuhu..."
Dialogh ini lalu diabadikan sebagai bacaan sholat ketika duduk tahiyyat.

Nabi memerintahkan umat Islam untuk menyebarkan salam. Ifsyaussalaam adalah ibadah dalam Islam. Mengucapkan salam hukumnya sunnat dan menjawab salam hukumnya wajib. Jika sudah bicara sunnat dan wajib, maka sudah jelas bahwa memberikan salam dan menjawab salam adalah SYARI'AT ISLAM. Jika ini Syari'at Islam, maka tidak boleh diubah, ditinggalkan, apalagi dibuang.

Menjadi aneh ketika Yudian Wahyudi, Kepala BPIP kembali membuat ulah dgn mengusulkan agar salam di NKRI sebaiknya tidak lagi dipakai salam menurut ajaran agama. Tapi diganti dengan SALAM PANCASILA.

Jika dikatakannya bahwa salam syariat adalah khusus untuk intern umat Islam saja, sedangkan untuk Nasional kita pakai SALAM PANCASILA. Bagi kami tetap saja itu adalah sebuah usulan NGAWUR yang wajib DITOLAK.

Menjalankan agama dijamin dalam UUD 1945, Pasal 29 ayat 2, dan tidak ada seorangpun yg berhak menghalanginya. Hanya manusia pengkhianat saja yg alergi dengan dijalankannya ajaran agama 100% di NKRI ini, termasuk salam syariat.
Apalagi selama 74 tahun merdeka tidak pernah ada masalah dengan SALAM SYARI'AT itu...

Kesimpulannya, SALAM PANCASILA kami TOLAK, dan kami, umat Islam, dengan tegas mencukupkan ucapan salam syariat Islam saja.
Assalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh...

Medan 19 Februari, 2020,
Tengku Zulkarnain

Post a Comment for "Ucapan Salam dan Salam Pancasila ("Tamparan" Ustadz Tengku Zulkarnain untuk Ketua BPIP)"