Prostitusi dan 3 entitas lain 12 tahun jalan beriringan. Siapa yang salah.?

#Opini #Dakwah
Oleh : Rahmawan Puspawijaya

Tahu rusunami kalibata rescidence, atau Kalibata City dong? Apartemen bersubsidi yg mulai dipasarkan sejak 2008 ini sejak lama sudah penuh dan menjadi hunian urban di Selatan Jakarta yg jumlah unitnya lebih dari 10 ribu pintu. Penghuninya beragam, dari low-middle sampai middle-up, dari pendatang daerah hingga imigran, sampai war refugee juga ada. Dari yang tanktopan sampai cadaran ada. Luar biasanya, yg hybrid juga ada, semisal tatoan tapi juga bercelana cingkrang dan jidat hitam.. mantap.

Selama itu pula tempat ini sering kali diberitakan di media mainstream diserbu aparat karena razia prostitusi online, dan bahkan juga offline. Bukannya negara belum turun tangan, namun bisnis hitam ini bertahan. Belum lagi urusan narkoba.

4 entitas berjalan, tidak ada perubahan. Apa saja 4 entitas itu?
1. Ekosistem bisnis prostitusi dari pelanggan hingga 'mami dan anak²nya '. Juga segala pengedar dan pengguna narkoba. Termasuk mereka yg menjadi agen penyewaan harian unit², yg pemilik² unitnya tdk pernah tahu dipakai apa unit mereka.

2. Negara, yang memfungsikan aparatnya untuk memastikan tidak ada pelanggaran hukum di sana. 

3. Masjid Nurullah di basement, yang terlihat berhasil membawa gelombang hijrah, mendidik penghuni dengan berbagai macam program, mendatangkan da'i kelas nasional, hingga tausiah setiap bada maghrib dan sebagainya. Hampir bisa dipastikan, entitas pertama tidak tersentuh dengan kelompok ini (walau dengan lucunya mereka tdk mau disebut kelompok). Kalaupun ada yg tersentuh, tidaklah sistemik, hanya mereka beberapa gelintir yg "dapat hidayah".

4. Penguasa lokal, atau asosiasi penghuni, dan pengelola hunian. Keberadaan mereka nyata, namun upaya mereka pasang plang yang melarang prostitusi itu terlihat sia-sia.

Siapa yg salah ketika entitas ke 1 di atas tetap eksis dan harus berbaur dengan gelombang hijrah tadi?

Dari pada menyalahkan entitas pertama, sy lebih yakin untuk menyalahkan entitas kedua, yaitu negara. Turunnya aparat ke sana, berulang kali dan terus menerus justru malah menunjukkan kegagalan negara dalam melahirkan pemikiran, perasaaan dan peraturan masyarakat sehingga masalah sosial di atas bisa terenyahkan dengan sendirinya.

Negaralah yang bisa menghadirkan sistem pendidikan yang akan dienyam oleh seluruh warganya. Pendidikan islam sejak dini yang berbasis aqidah akan melahirkan generasi yang berbeda, dibanding dengan negara yang hari ini sekuler, yang juga melahirkan hasil didikan sekuler, yang mana orang beriman lahir dan tumbuh, orang rusak juga lahir dan tumbuh di dalamnya.

Dan sistem aturan(hukum) itu tidak terlahir dari dakwah pada individu, tapi lahir dari dakwah atas diterapkannya hukum Islam. Kasus di atas adalah buktinya, terlepas dari apapun gerakan dakwah atau ormasnya, segalak apapun mereka dan seberapa kuat daya ubahnya, ormas dan gerakan Islam bukanlah negara, yang bisa membuat perubahan secara sistemik.

Selama negara ini masih menganut hukum sekuler, jangan berharap entitas prostitusi berakhir. Pun jika berakhir di kalibata City, belum tentu lenyap mami² yg ada di mall sebelah. Ga ada habisnya.

Dakwah tauhid wajib, dakwah ideologi islam juga wajib. Dengan kita dakwah sistem ideologi, daya ubahnya akan sistemik, menyeluruh, walau berat. Mau sampai kapan hak dan bathil harus terus tercampur aduk?
Label: ,

Post a Comment

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.