PANCASILA DAN SEKULARISME

leh : Agung Wisnuwardana

Akhir-akhir ini diskusi seputar Pancasila kembali menghangat

Berbagai pernyataan Yudian Wahyudi yang baru diangkat menjadi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) penuh kontroversi dan menimbulkan perdebatan

Yudian Wahyudi menyebutkan bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama

Kemudian tak berselang lama, Yudian Wahyudi menghimbau umat Islam agar mulai bergeser dari kitab suci (baca : Al Qur'an) ke konstitusi atau dalam kalimat lain,  konstitusi di atas kitab suci

Tak berselang lama, Yudian kembali membuat kontroversi dengan rencana mengganti "Assalamu'alaikum" dengan salam Pancasila

Media mainstream dan media sosial pun diramaikan dengan diskusi seputar pikiran kontroversi Yudian Wahyudi ini. Berbagai pernyataan Yudian Wahyudi ini dengan jelas menunjukkan paham sekularisme

Sekularisme adalah suatu pemikiran tentang pemisahan agama dengan kehidupan, termasuk di dalamnya pemisahan agama dengan negara dan politik

Yudian Wahyudi membantah hal tersebut dengan pernyataan bahwa dia tidak anti agama,  nilai-nilai agama ada di dalam setiap sila Pancasila, tetapi untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut,  negara membutuhkan sekularitas tetapi bukan sekularisme

Dia tidak menjelaskan secara khusus makna  ungkapannya : "sekularitas tetapi bukan sekularisme"

Secara faktual apa yang dia ungkapkan terkait (1)  "musuh terbesar Pancasila adalah agama; (2) Konstitusi di atas ayat suci (baca Al Qur'an); (3) 'Assalamu'alaikum' diganti salam Pancasila" menunjukkan dengan jelas bahwa agama (khususnya Islam) harus dipisahkan dari negara

Pikiran sekuler dari Yudian Wahyudi ini semakin jelas ketika dia membuat tuduhan ngawur kepada Ijtima' Ulama yang diselenggarakan oleh GNPF Ulama sebagai kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri yang tak selaras dengan nilai-nilai Pancasila

Tuduhan ngawur Yudian Wahyudi ini berbasis konteks pemikiran agar agama dipisahkan dengan negara.  Saya tegaskan kembali,  inilah yang disebut paham sekularisme

Pikiran sekuler Yudian Wahyudi ini sejalan dengan pikiran Jokowi yang pernah disampaikan jelas saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara 24/3/2017.  Jokowi pada kesempatan tersebut meminta semua pihak agar memisahkan persoalan politik dan agama (baca : sekularisme)

Bila kita lakukan kilas balik sejarah maka pemikiran Yudian Wahyudi dan Jokowi ini juga sejalan dengan pemkiran sekuler yang dipromosikan Soekarno

Soekarno pada tahun 1940 membuat tulisan berjudul “Apa Sebab Turki Memisahkan Agama dari Negara”

Dalam tulisan tersebut Soekarno sangat jelas mengagung-agungkan sekularisme, pemisahan agama dengan negara

Pemikiran sekuler dari Soekarno ternyata terus dibawa baik dalam pidato 1 Juni 1945 maupun dalam proses kepemimpinan otoriternya selama masa orde lama

Kalopun ada konteks Ketuhanan dalam pikiran akhir Soekarno tetapi Ketuhanan yang dimaksud adalah Ketuhanan yang Berkebudayaan yaitu mengakui realitas masyarakat Indonesia yang ber-Tuhan tetapi realitas Ketuhanan ini harus selaras dengan perkembangan zaman

Dalam konteks Islam maka pikiran Ketuhanan Soekarno adalah memberikan kesempatan umat Islam untuk beribadah dalam ranah privat (sholat,  puasa,  zakat,  haji) tetapi dalam ranah pengaturan publik maka posisi Islam harus dipisahkan dari negara

Sedangkan empat sila lainnya,  Soekarno jelas-jelas membangun pemikirannya atas prinsip San Min Chu I dari Sun Yat Sen (pendiri negara Tiongkok Merdeka)  yaitu Mintsu,  Min Chuan,  Min  Seng (Nasionalisme,  Demokrasi,  Sosialisme) 

Jelas Pancasila ala Soekarno ini memiliki prinsip sekulerisme dengan basis pemikiran tokoh kemerdekaan Tionglok yaitu Sun Yat Sen plus sedikit diberikan bumbu Ketuhanan yang berkebudayaan agar diterima oleh tokoh-tokoh Islam

Paham sekulerisme Soekarno juga nampak saat umat Islam sedang memperjuangkan hak-hak politiknya berupa cita-cita Islam melalui konstituante, bahkan sebatas memperjuangkan kompromi politik yang tertuang dalam Piagam Jakarta,  Soekarno malah membalas dengan tindakan otoriter melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Dalam perdebatan soal Pancasila dan agama ini,  Mahfudz MD mengungkapkan bahwa Pancasila bukan musuh agama. Mahfudz mengatakan bahwa Indonesia bukan negara agama, juga bukan negara sekuler tetapi negara bangsa yang religius yaitu negara bangsa yang tidak memberlakukan hukum negara berdasarkan agama tertentu, tetapi melindungi ketaatan warga negara yang ingin menjalankan ajaran agamanya

Di berbagai forum Mahfudz MD menegaskan bahwa tak ada larangan umat Islam untuk sholat, puasa,  zakat,  haji,  bahkan ada Departemen Agama. Kata Mahfudz MD, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan negara sekuler

Ungkapan Mahfudz MD ini tak memiliki harga sama sekali karena contoh yang dia ungkapkan hanyalah mempertegas bahwa pemikirannya sekuler yaitu agama hanya boleh ada dalam ranah privat dan tak boleh ada agama dalam pengaturan urusan publik

Walhasil pernyataan Yudian Wahyudi,  Jokowi,       Mahfudz MD memiliki landasan yang sama yaitu mempromosikan sekulerisme, pemisahan agama dengan kehidupan,  pemisahan agama dengan politik,  memposisikan agama dalam ranah privat saja dan menjauhkan agama dalam ranah pengaturan publik

Oleh karena itu kalo ke depan akan dibuat lagi semacam "P4 - nya orde baru" maka content sejatinya adalah memasarkan sekulerisme kepada rakyat Indonesia

Bagi umat Islam tentu cita-citanya adalah penerapan Islam secara menyeluruh baik dalam ranah privat maupun publik

Islam memiliki blue print dan roadmap dalam mengatur urusan umat manusia baik muslim maupun non muslim

Di tengah merajalelanya korupsi, kebohongan demokrasi oligarki, semangat merusak dari omnibus law demi kepentingan investasi dan berbagai kerusakan akibat penerapan sistem sekuler-kapitalis maka Islam menawarkan solusi komprehensif yang rahmatan lil 'aalamiin yang akan membawa kemaslahatan  untuk muslim,  non muslim dan seluruh alam

Wallahu'alam
Label: ,

Post a Comment

[blogger]

Author Name

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.