Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Popularisasi Narkoba, Membuat Kita Kehilangan Kaum Pemuda

Oleh: Hamsia (Komunitas peduli umat)

Kepala Badan Narkotika Nsional (BNN) Komisaris Jenderal polisi Heru Winarko menyebut “Hasil dari penelitian kita bahwa penyalahgunaan itu beberapa tahun lalu, milineal atau generasi muda hanya sebesar 20 persen dan sekarang meningkat 24 hingga 28 persen itu adalah kebanyakan pengguna anak-anak dan remaja”. Ungkapnya di The Opus Grand Ballroom At The Tribrata, Jakarta Selatan, Rabu (26/6).

Sesungguhnya remaja yang terjerat dalam narkoba ini bukan hanya di kota-kota besar saja, bahkan di kota-kota kecil pun terkena imbasnya. Salah satunya di Kendari Sulawesi Tenggara.

Disinyalir dari DETIKSULTRA.COM – POLDA Sultra mengeluarkan laporan tahunan tentang penanganan kasus selama tahun 2019 di Sulawesi Tenggara. Kamis (2/1/2020). Deretan angka yang memprihatinkan disampaikan oleh aparat kepolisian. Salah satunya jumlah kasus narkoba sepanjang 2019 yang mecapai 231 kasus dengan 293 tersangka. Dari angka itu, tidak ada yang lebih memprihatin lagi, yakni penagkapan tersangka kasus narkoba, didominasi usia 21-29 tahun sebanyak 202 kasus.

Jelas kaum muda di daerah Sultra menjadi sasaran narkoba saat ini. Siapa yang sangka Zul ‘Zivilia’ anak lokal yang kita banggakan teryata harus menjalani hukuman 18 tahun penjara karena narkoba? “selamat” dari tuntutan penjara seumur hidup oleh JPU.

Sejak tahun 1971 negara kita sudah mendeklarasikan perang terhadap narkoba, bahkan idenya 2015 negara ini katanya sudah bebas dari narkoba. Kata “perang” mempunyai arti politik yang melibatkan militer sebagai garda depan. Lebih untk memeranginya. Seperti era penembak misterius (Petrus) untuk mengurangi langkah preman di zaman orde baru, perang terhadap narkoba seperti perang yang tidak pernah dimenangkan. Meminjam ungkapan uskup Dom Herder Camara “obat” yang ditawarkan lebih beracun dari penyakit yang hendak disembuhkan”.

Peredaran narkoba yang sangat marak dan yang menjadi sasaranya adalah remaja, tidak lepas dari sistem yang diterapkan di negeri ini. Sistem kapitalis liberal menjadi akar masalah kejahatan narkoba. Karena dalam sistem kapitalis yang berasaskan pemisahan agama dalam kehidupan. Ditambah lagi dengan liberal (kebebasan) tidak ada aturan halal dan haram yang penting ada kepuasan bagi korban. Alhasil, Sistem kapitalis telah berhasil merusak pandangan hidup generasi muda saat ini.

Sungguh miris, jika kita melihat remaja saat ini. Bagaimana tidak, kita telah banyak disuguhkan berita mengkhawatirkan mengenai perilaku remaja yang menyimpang dan sudah menjurus pada tindakan kriminal (kejahatan). Hal ini bukan hanya menjadi kasus semata, tetapi sudah menjadi fenomena yang mewabah di negeri ini.

Bukannya banyak mencetak prestasi yang gemilang layaknya remaja Islam dulu, melainkan banyak mencetak prestasi yang buram dan rusak. Berbagai macam kasus yang melanda negeri ini. Mayoritas pelakunya adalah mereka yang memiliki julukan agen of change. Pornografi pun tak lepas dengan pelaku utama yang juga berusia remaja. Seks bebas dan pelacuran di bawah umur pun merebak. Ditambah lagi dengan kasus aborsi dan penyalahgunaan narkoba yang meningkat pesat dikalangan remaja. Semua itu layak disebut sebagai tindakan kriminal yang menambah buramnya keadaan negeri ini dan hancurnya moral remaja saat ini.

Padahal jumlah remaja di negeri ini lebih dari 70 juta jiwa. Seharusnya hal ini lebih dapat menjadi potensi besar untuk membangkitkan negeri ini. Namun, jumlah remaja yang besar tidak diimbangi dengan kualitasnya. Keadaan remaja saat ini tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dengan mengatasnamakan kebebasan, mereka melakukan semua yang mereka inginkan tanpa menghiraukan apapun. Jelaslah para remaja saat ini telah terjerumus dalam jebakan yang disiapkan oleh kelompok liberal untuk merusak remaja muslim saat ini.

Kelompok liberal sukses dalam mengendalikan remaja untuk berbuat sesuka hati dalam segala aspek kehidupan. Para remaja akhirnya meninggalkan semua yang mengatur mereka, termasuk Islam sebagai agamanya.

Remaja sejatinya adalah sosok generasi penerus yang menjadi harapan untuk membangkitkan negeri ini. Islam yang Allah SWT turunkan sebagai sebuah ideologi akan membuat seseorang termasuk remaja memiliki pemikiran dan pola sikap yang distandarkan dengan aturan Allah SWT. Islam akan membentuk remaja menjadi sosok yang hanif hingga mampu membawa kemaslahatan bersama. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan remaja yang dibentuk oleh sistem sekuler saat ini yang cenderung rusak di banyak aspek.

Sejarah Islam mencatat Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan kostantinopel pada umur 21 tahun. Umar Abdul Aziz menjadi seorang gubernur Madinah pada usia 23 tahun. Namun, masa-masa remaja ini pula yang sering diabaikan oleh kebanyakan manusia. Semua ini tak lepas dari pengaruh lingkungan sekitar. Media massa menjadi corong yang berpengaruh bagi identitas remaja. Dari sinilah kelompok musuh-musuh Islam memainkan peran.

Seyongianya jalan untuk keluar dari ancaman narkoba adalah dengan menegakkan negara Islam. Karena  negara Islam benar-benar melindungi anak-anak dari segala ancaman. Negara Islam yang akan tegas melarang peredaran narkoba, memberikan hukuman yang  berat bagi pelakunya dan bagi yang menggunakannya. Islam menanamkan keimanan kepada setiap individu warganya. Dengan keimanan inilah masyarakat menjaga dirinya.

Di sisi lain, Islam menerapkan hukum yang sangat tegas terhadap kejahatan narkoba. Sanksi hukum Islam memiliki karakter untuk membuat pelaku kejahatan jera sehingga merasa berat untuk melakukan kejahatan yang sama. Islam memandang mengonsumsi narkoba apalagi memproduksi dan mengedarkannya dosa dan perbuatan kriminal. Hukum tertingginya adalah hukuman mati. Dengan sistem seperti ini tidak ada lagi ruang bagi individu untuk mengonsumsi narkoba. Wallahu  a’lam bi ash-shawaab.

Post a Comment for "Popularisasi Narkoba, Membuat Kita Kehilangan Kaum Pemuda"