Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENGANALOGIKAN “KERATON AGUNG SEJAGAT” DENGAN KHILAFAH ADALAH KEJAHATAN INTELEKTUAL YANG SANGAT KEJI


Menganalogikan kerajaan fiktif “Keraton Agung Sejagat” dengan khilafah adalah suatu kejahatan intelektual yang sangat keji, apalagi hal itu dilakukan oleh seorang ulama. 

Bukannya menjelaskan bahwa khilafah adalah ajaran Islam di bidang pemerintahan yang wajib ditegakkan, Wapres KH Ma’ruf Amin malah menyatakan “Keraton Agung Sejagat seperti Khilafah”. Lha, mana bisa kerajaan hoaks berbasis halusinasi disamakan dengan ajaran Islam yang mulia? Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun…

Pak Wapres menyamakan “Keraton Agung Sejagat” dengan khilafah lantaran sama-sama melabrak konsep negara bangsa. Tapi bagaimanapun juga bagi seorang Muslim, apalagi ulama, tidak patut menyamakan #KhilafahAjaranIslam dengan kerajaan palsu yang ‘raja’ dan ‘ratu’nya saja ditangkap polisi lantaran dugaan kasus penipuan.  

Apa tujuannya mengatakan itu? Terlepas dari apa pun tujuannya, jelas itu dapat membuat kaum Muslimin menjadi salah paham dengan khilafah, karena akan mengira khilafah sama berengseknya dengan “Keraton Agung Sejagat”. Sehingga alih-alih akan berjuang menegakkannya kembali, umat jadi merasa takut ‘tertipu’ oleh khilafah. _Naudzubillahi min dzalik!_ Padahal jelas-jelas, umat Islam saat ini, termasuk Pak Wapres, tertipu oleh negara bangsa, negara jebakan kafir penjajah.

Khilafah Ajaran Islam

Ingat, negara yang ditegakkan Rasulullah SAW di Madinah bukanlah negara bangsa, tetapi negara Islam. Karena di dalam negeri menerapkan syariat Islam secara kaffah, ke luar negeri melakukan dakwah dan jihad. Wilayahnya pun terus meluas hingga seluruh Jazirah Arab di bawah naungan negara yang penuh berkah itu.

Setelah Rasulullah SAW wafat, dibaiatlah Abu Bakar As-Shiddiq sebagai khalifah. Khalifah artinya pengganti, pengganti Rasulullah SAW sebagai kepala negara, bukan sebagai nabi dan rasul. Karena kenabian dan kerasulan berakhir sampai wafatnya Sayidina Muhammad bin Abdullah tersebut.

Abu Bakar As-Shiddiq meng-copy paste (meniru/mencontoh/mengikuti) sistem pemerintahan yang diterapkan Rasulullah SAW di Madinah. Karena itu merupakan tuntutan keimanan dan kewajiban. Bila kepala negaranya disebut khalifah, maka pemerintahan copy paste -nya disebut khilafah. Sekali lagi, sistem pemerintahannya disebut KHI-LA-FAH, kepala negaranya disebut KHA-LI-FAH. 

Istilah khalifah dan khilafah itu adalah istilah yang lahir dari ajaran Islam. Salah satu dalil tentang sebutan “khilafah” untuk menyebutkan sistem pemerintahan Islam yang copy paste sistem pemerintahan Nabi Muhammad SAW, adalah:

…Kemudian akan ada masa _khilafatun ala minhajin nubuwwah (khilafah yang mengikuti metode kenabian) yang berlangsung selama Allah menghendakinya… … Selanjutnya akan muncul kembali masa khilafatun ala minhajin nubuwwah (khilafah yang mengikuti metode kenabian)…” (HR Imam Ahmad). 

Dalam hadits tersebut jelas yang disebutkankan adalah “khilafah”, bukan “republik” bukan pula “negara bangsa”. 

Sedangkan untuk sebutan “khalifah” salah satunya ada dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Al-‘Irbadh bin Sariyah, dalam kitab Musnad-nya, Rasulullah SAW bersabda, “Wajib kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khalifah, yang berada di atas jalan yang lurus, dan mendapatkan petunjuk (khulafaur rasyidin mahdiyyin).

Dalam hadits tersebut dengan jelas menyebutkan kata “khalifah” dan kita sebagai umat Islam, diwajibkan mengikuti sunnahnya khulafaur rasyidin mahdiyyin (para khalifah di atas jalan yang lurus dan mendapatkan petunjuk). Sunahnya mereka apa? Negara bangsa? Bukan! Republik? Bukan! Kerajaan? Bukan. Tetapi: khilafah, khi-la-fah!

Karena copas ke Rasulullah SAW, wilayah Khilafah Rasyidah yang tadinya hanya sejazirah Arab meluas hingga sampai ke Syam, Mesir, Irak dan Iran. Begitu seterusnya oleh Khilafah Umayyah, Khilafah Abbasiyah. Hingga di era Khalifah Sulaiman Al-Qanuni, 2/3 dunia (termasuk Nusantara) menjadi bagian dari Khilafah Utsmani.

Namun sekitar 200 tahun sebelum Khilafah Utsmani runtuh, kafir penjajah Barat terus menerus mencoba meracuni kepala kaum Muslimin dengan ide kufur nasionalisme alias negara bangsa. Ketika, ide nasionalisme itu dirasa sudah melekat di suatu negeri, maka negeri tersebut akan dijajah secara fisik oleh Barat. Termasuk berbagai kesultanan di Nusantara pun dijajah secara fisik seraya menanamkan ide nasionalisme. 

Tujuannya agar ide nasionalisme itu mandarah daging. Sehingga mereka berjuang untuk melepaskan diri dari penjajahan fisik untuk kemudian mendirikan negara bangsa. Setelah ditemukan anteknya, maksudnya orang Islam yang benar-benar mandarah daging dengan nasionalisme, maka orang tersebut akan dicitrakan sebagai orang yang paling berjasa agar kelak bisa diterima sebagai kepala negara ketika nanti negara bangsa itu didirikan. 

Walhasil wilayah khilafah secara de facto hanya tinggal se-Turki hingga akhirnya diruntuhkan pada 1924 M oleh agen Inggris Mustafa Kemal Pasha Attaturk Laknatullah. Lalu muncullah lebih dari 50 negara bangsa termasuk Kerajaan Saudi Arabia pada 1932 dan Republik Indonesia pada 1945.  

Negara bangsa jelas haram ditegakkan sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada kebangsaan atau mendukungnya, maka matinya seperti mati jahiliah” (HR Muslim).

Di samping itu, kaum Muslimin pun diharamkan memiliki lebih dari satu pemimpin. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Jika didapati ada dua orang imam, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya" (HR Muslim). Artinya, kaum Muslimin wajib hidup dalam kesatuan khilafah, haram terpecah menjadi dua apalagi sampai terpecah belah lebih dari 50 negara bangsa.

Oleh karena itu, kaum Muslimin yang sudah lebih dahulu tercerahkan, teruslah berdakwah akan kewajiban menegakkan khilafah dan keharaman negara bangsa. Hingga nasrullah (pertolongan Allah) itu turun dengan tegaknya kembali khilafah ala minhajin nubuwwah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Selanjutnya akan muncul kembali masa khilafatun ala minjahin nubuwwah (khilafah yang mengikuti metode kenabian)…” (HR Imam Ahmad).  

Allahu Akbar!

Joko Prasetyo
Jurnalis
@jokojurnalis

Post a Comment for "MENGANALOGIKAN “KERATON AGUNG SEJAGAT” DENGAN KHILAFAH ADALAH KEJAHATAN INTELEKTUAL YANG SANGAT KEJI"