Kapan Korupsi Berakhir?


Oleh : Abu Mush'ab Al Fatih Bala | Pemerhati Politik Asal NTT

Korupsi lagi! Korupsi lagi! Kasus demi kasus datang silih berganti. Beberapa kasus viral di tengah masyarakat.

Kasus Jiwasraya Rp. 13,7 T, Bank Century Rp.6,7 T, Pelindo II Rp. 8 T, Kota Waringin Timur Rp. 5,8 T, E-KTP Rp. 2,3 T, Hambalang Rp. 700 M, dan yang terbesar adalah Kasus mega skandal BLBI Rp. 2.000 T. 

Meminjam aplikasi kalkulator di HP android total korupsinya adalah Rp.2032,7 T. Cukup untuk membayar hampir setengah dari Utang Luar Negeri Indonesia sebanyak Rp.5.495 T. 

Kasus korupsi yang viral di atas hanya fenomena gunung es yang puncaknya saja yang kelihatan, bawahannya lebih besar lagi. Pertanyaannya adalah sebesar apakah gunung korupsi di Indonesia? Apakah sebesar Gunung Taal yang meletus di Filipina (Gunung terkecil) atau Gunung Everest (tertinggi, 8.888 m di atas permuakaan air laut?).

Kasus korupsi di Indonesia sangat banyak dan seperti bertambah terus. KPK menyelesaikan 1.135 kasus (2004-2018), Polri 1.455 kasus (2018) dan BPK 455 kasus (sepanjang periode 2013 hingga semester I 2015).

Publik harus menyiapkan mental, jiwa dan raga, jika seandainya ditemukan lagi kasus korupsi yang baru. Lalu mengapa kasus korupsi terus bermunculan?

Persoalan Sistemik

Kasus korupsi bukan persoalan individual tetapi lebih bersifat sistemis karena banyaknya koruptor yang tersebar dari Aceh hingga Merauke. Kasus korupsi lebih dipengaruhi oleh sistem demokrasi yang berbiaya mahal. Untuk menjadi pejabat negara dibutuhkan dana kampanye yang trilyunan rupiah. Tak sebanding dengan gaji.

Sedangkan korupsi di kalangan swasta karena kong kali kong dengan oknum pejabat untuk mendapatkan proyek besar dari negara. Para koruptor biasanya memiliki gaya hidup mewah dan boros di atas penderitaan rakyat.

Solusi

Agar angka korupsi bisa ditekan seminim mungkin maka solusi satu-satunya adalah dengan mengganti sistem demokrasi yang korup dengan sistem Islam. Sistem Islam akan mengajarkan kepada warganya hidup tanpa sekularisme. 

Sehingga agama tidak dipisahkan dari kehidupan harian warganya. Dengan ajaran Islam orang akan takut korupsi karena merasa selalu diawasi oleh Allah SWT. 

Selain itu Sistem Islam akan memanfaatkan SDA semaksimalnya untuk membayar Utang luar negeri, menaikkan gaji pegawai dan pejabat.

Menghilangkan pajak dan membebaskan biaya pendidikan dan kesehatan untuk semua warga. Selain pos pemasukan SDA, Sistem Islam menyuburkan sektor riil atau perdagangan dan membuka pos penerimaan zakat.

Sistem ini didukung juga dengan sistem sanksi yang tegas bagi para koruptor. Sangsi dalam Islam bersifat Zawabir dan Jawajir (mencegah kriminalitas dan menghapus dosa pelakunya). 

Bahkan ketika makmur negara yang bersistem Islam akan menyelamatkan negara lainnya. Contohnya Khilafah Usmani yang pernah mengirimkan bantuan makanan ke Irlandia. Membebaskan Eropa dari The Great Hunger (Kelaparan Besar).[]

Bumi, 14 Januari 2020

#AkademiMenulisKreatif
#AMK6
#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Solusi Korupsi

Label: ,

Post a Comment

[disqus][facebook][blogger]

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.