Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HAUL ALMA’IY MUJADDID MUJTAHID SYAIKH TAQIYUDDIN AN-NABHANI



Oleh Maulana Jati

Setelah Rasulullah saw wafat, para sahabat Rasul menjadi rujukan bagi umat dalam segala urusan, baik menyangkut agama, politik, dan sosial. Kemudian setelah para sahabat tidak ada, generasi selanjutnya menggantikannya yaitu tabi’in dan tabi'uttabi'in yang disebut juga generasi salaf, atau salafus shalih. Dan setelah mereka ada para ulama.

Para ulama mendapat pengakuan langsung dari Rasulullah saw. Tidak ada alasan bagi umat Nabi Muhammad untuk tidak mengikuti ulama yang merupakan pewaris para Nabi, kecuali ulama yang bersebrangan dengan Nabi saw atau bahkan yang menghina Nabi saw.

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para nabi." (HR, Abu Daud)

Kriteria ulama yang dapat diikuti tentu saja yang mewarisi Ilmu Islam dan akhlak Nabi Muhammad saw. Mereka harus mewujudkan kehidupan kaum muslimin agar sesuai dengan Syariat sebagaimana ilmu-ilmu yang dimilikinya. Mereka tidak boleh membuat kerusakan di muka bumi, mezhalimi umat atau bersukutu dengan penguasa zhalim. Mereka harus mampu menggerakkan kaum muslim untuk tidak hanya beribadah untuk dirinya namun juga bermuamalah dengan menggunakan Syariah, baik dalam tatanan sosial, ekonomi ataupun dalam ranah politik.

Nabi Muhammad saw juga merupakan seorang pemimpin sukses sebuah Negara. Keberhasilan Nabi saw dalam membangun Negara Islam Madinah tidak terlepas dari strateginya meletakkan fondasi kuat dan kon­struksi masyarakat Islami. Nabi saw memberikan pendidikan terbaik kepada para Sahabat, mengokohkan sistem pergaulan Islami ditengah-tengah mereka, bahkan untuk memperkuat kesolidan internal, beliau mempersaudarakan sebagian muhajirin dan anshor. Mereka berbagi tempat tinggal dan makanan untuk saling menopang. Nabi saw juga melaksanakan hukum Syariah Islam ditengah-tengah masyarakat madinah agar negara dan Islam terus bertahan dalam kehidupan.

Dalam konteks kepada non Muslim, Nabi saw membangun etika dan tanggung jawab bersama, tertulis dalam sebuah dokumen 'Piagam Madinah' (Mitsaq al-Madinah) yang merupakan 'Manifesto Politik' Nabi saw bagi warga negara dengan berbagai suku, ras dan agama.

Inilah Nabi Muhammad saw membangun kemandirian sebuah negara dan tatarannya yang khas sesuai dengan Syariah, para ulama menyebutnya Sistem Pemerintahan Khilafah Islamiyah A'laa Minhaj Nubuwah. Sistem inilah yang juga merupakan warisan Nabi.

Ulama yang seperti inilah yang mewarisi Nabi Muhammd saw, mereka tidak hanya mencari ilmu, juga mengamalkan ilmunya sebagaimana Nabi saw, menjadi seorang pemimpin dan penasihat umat. Para Ulama selain mereka merupakan warisan Nabi saw, mereka juga harus menjaga warisan Nabi yang lain yaitu Islam (Al-Qur'an dan As-Sunnah) dan Khilafah.

Peran mereka juga untuk menjaga umat dari kebodohan dan kezhaliman yang mengakibatkan kerusakan di muka bumi. Peran kontrol mereka di hadapan penguas agar memerintah dengan Islam dan dalam koridor syariat, merupakan usaha mereka agar umat terjauh dari kerusakan.
[next]
Namun jika para Ulama diam terhadap kezhaliman dan bahkan bersekutu dengan kezhaliman maka kerusakan akan semakin parah. Imam Ghazali menuturkan :

ما فسدت الرعية إلا بفساد الملوك وما فسدت الملوك إلا بفساد العلماء
“Tidaklah terjadi kerusakan rakyat itu kecuali dengan kerusakan penguasa, dan tidaklah rusak para penguasa kecuali dengan kerusakan para ulama.”

Para ulama terdahulu juga istiqamah dalam menjalankan dan mengamalkan hal ini, seperti teladan dari imamnya para ulama, Ali bin Abi Thalib. Sebagai penghulu para ulama, beliau tidak segan menjalani fungsinya untuk menasihati para Khalifah, tiga Khulafaur Rasyidin lain, yang merupakan para sahabat Nabi saw. Ketika para Khalifah ini akan membuat keputusan, mereka senantiasa bermusyawarah dengan Ali untuk mengetahui pendapatnya.

Hal ini juga terus dijalankan oleh para Ulama, walaupun banyak yang justru mendapatkan perlawanan bahkan pengusiran dari penguasa. Imam Nawawi, seorang ulama hadits terkemuka juga pernah diusir dari kotanya oleh penguasa Syam di masa itu akibat menetang kebijakan terkait pajak.

Hal itu jauh berbeda dengan keadaan kita zaman ini, para ulama sekarang hanya dijadikan alat politik untuk mendulang suara dalam pemilihan umum. Para calon penguasa berdatangan mendekati ulama, mereka mendatangi pesantren, meminta doanya bahkan mereka mendadak jadi 'ulama' bersorban. Namun setelah itu mereka menjauhi ulama, bahkan berani mengkriminalisasi ulama. Wejangan para ulama, yang harusnya dijadikan rujukan untuk mensolusi problem umat, hanya jandi angin lalu. Bahkan ada ulama yang dijadikan stempel atas tindakan zhalim dari penguasanya, mereka adalah ulama dunya, ulama salatin.
Inilah kondisi di zaman mulkan jabriatan terhadap para ulama.

Dengan kondisi ulama sekarang, diantara mereka tetap ada yang terus Istiqmah menyuarakan dengan lantang, Islam sebagai hukum yang harus dijalankan oleh umat dengan apapun resikonya. Diantara mereka ini adalah Syaikh Taqiyudin An-Nabhani.

Al-'Alim Al-Mujahid al-Imam ar-Rabbaniy Abu Ibrahim Taqiyuddin An-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, telah meletakkan batu pondasi bagi pemikiran Islam kontemporer yang agung dan pergerakan yang mukhlish dan berkesadaran tinggi. Beliau menguasai bahasa arab, ushul, politik, fiqh atau di seluruh bidang ilmu yang berbeda sekaligus mengetahui realitas politik di zamannya.

Karya-karya beliau sangat istimewa karena bersifat menyeluruh dari berbagai bidang yang luas untuk menjadi solusi problematika manusia. Karya-karya politis Syaikh Taqi juga istimewa karena didasarkan pada kesadaran, kedalaman, kejelasan, dan kesatuan sistematika sehingga mampu mendeskripsikan Islam sebagai ‘ideologi’ yang sempurna dan menyeluruh yang digali dari dalil-dalil syariat yaitu al-Quran, as-Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas. Pemikiran ideologi Islam beliau mampu menghantam dengan telak pemikiran dari ideologi kapitalisme dan ideologi sosialisme komunisme. Hal ini bisa dikatakan sebagai hasil pertama dari usaha yang sungguh-sungguh dari seorang pemikir muslim mujtahid pada zaman ini.

Dan pantas terletak di dinding Al-Azhar asy-Syarif lembaran yang tertulis, “Seorang yang cerdas dan bersinar sejak tiga ratus tahun adalah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani”. Namun, tulisan tersebut dihilangkan sama sekali oleh penguasa Mesir saat itu, GamalAbdul Nasser.

Beliau tidak hanya memiliki ilmu yang mumpuni dalam Ilmu Islam dan Islam politik namun juga gigih melawan kezhaliman penguasa zhalim. Peristiwa di majelis Raja Abdullah, raja Yordania, menunjukkan bagaiman sikap beliau. Beliau ditanya oleh Raja Abdullah mengenai apa yang menyebabkan Syaikh Taqiyuddin menyerang sistem-sistem pemerintahan di negeri-negeri Arab, termasuk juga negeri Yordania.

Singkat cerita, Raja Abdullah berkata kepada Syaikh,”Apakah kamu akan menolong dan melindungi orang yang kami tolong dan lindungi, dan apakah kamu juga akan memusuhi orang yang kami musuhi?”

Kemudian karena beliau sudah mengkaji siapa raja Abdullah dan kebijakannya, Syaikh Taqiyyuddin bangkit dari duduknya seraya menjawab,”Aku berjanji kepada Allah, bahwa aku akan menolong dan melindungi (agama) Allah dan akan memusuhi orang yang memusuhi (agama) Allah. Dan aku amat membenci sikap nifaq dan orang-orang munafik!”

Maka marahlah Raja Abdullah mendengarkan jawaban itu, kemudian dia mengeluarkan perintah untuk mengusir Syaikh Taqiyyuddin dari majelis tersebut lalu menangkap beliau.

Tidak Hanya itu, Syaikh Taqi telah banyak menulis dan mengeluarkan selebaran politik yang penting, untuk membeberkan berbagai persekongkolan jahat para penguasa dan negara asing melawan umat Islam. Sehingga banyak orang yang ingin menyingkirkannya dan memenjarakannya. Namun, dakwahnya terus berkembang sampai ke Indonesia Ini. Semoga, apa yang beliau perjuangkan bisa tercapai yaitu kembalinya kehidupan Islam.

Padahal Syaikh Taqi merupakan seorang yang fakir dan beliau wafat dalam keadaan fakir juga. Beliau tinggal di lantai lima suatu bangunan sederhana. Beliau dengan rendah hati menaiki lima lantai dengan jalan kaki, sebab di sana itu masih belum ada lift.

Subhanallah, Semoga Allah mengangkat derajatnya bersama para nabi, shiddiqiin, syuhada dan orang-orang shalih.

Semoga kaum muslimin terus terjaga diarahkan oleh ulama hanif yang menjual dirinya untuk Allah swt, Rasul-Nya dan Umat. Mengantarkan mereka kepada kemuliaan dan kejayaan Islam. []

Post a Comment for "HAUL ALMA’IY MUJADDID MUJTAHID SYAIKH TAQIYUDDIN AN-NABHANI"