Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Benarkah Kesetaraan Gender Meningkatkan Derajat Wanita?


Oleh: R. Raraswati (Freelance author, Muslimah peduli generasi)

Setiap manusia memiliki hak asasi sejak lahir hingga akhir hayatnya. Hak asasi manusia (HAM) saat ini menjadi bahasan yang ramai disemua kalangan. HAM dianggap sebagai hal yang sangat penting sehingga dianggap dapat menjadi solusi dari setiap masalah yang ada di negeri ini. Itulah kenapa pemerintah melaksanakan  festival HAM dibeberapa daerah.

Hal ini senada dengan apa yang dilansir rri.co.id.  “Salah satu tolak ukur implementasi penerapan ramah HAM dapat dilihat dari bagaimana upaya pemerintah daerah menerapkan dan mengimplemantasikan kebijakannya yang berbasis persamaan gender, persamaan atas hak-hak disabilitas dan juga mengacu pada beberapa parameter lainnya, “ ujar Darmanik saat pembukaan pelaksanaan Festival  HAM ke-6 tahun 2019 yang dipusatkan di Kabupaten Jember, Selasa (19/11/2019).

Festival HAM 2019 yang dilaksanakan di Jember sejak 18 November 2019 telah ditutup Rabu sore 20 November 2019. Banyak harapan dan mimpi setelah ditutupnya festival HAM ini. Sebagaimana apa yang disampaikan Bupati Jember dr Hj Faida MMR bahwa Agar implementasi HAM bisa terlaksana dengan baik, negara ini  kedepan harus aman dan rukun. Tidak ada lagi bahasa mayoritas menindas minoritas, dan sebagainya.selain itu perlu kesetaraan gender, pemenuhan hakterhadap perempuan, hak anak, serta sejumlah prinsip dasar lain yang kaitannya dengan HAM (radarjember.id, 20/11/2019). 

Koordinator Pemajuan HAM Komnas HAM Beka Ulung Hapsara juga mengatakan, Festival HAM menjadi sarana dan forum berbagi dan belajar bagi pemerintah daerah se-Indonesia. "Bagaimana mereka menyusun kebijakan berdasarkan perspektif gender, mengakomodasi hak disabilitas serta hak anak," ujar Beka dalam konferensi pers di Kantor Bupati Jember pada Senin malam, 18 November 2019. (TEMPO.CO, 19/11/2019)

HAM dianggap dapat menjadi solusi bagi setiap permasalahan seperti kesetaraan gender, kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan juga ekstrimisme perempuan. Benarkah pelanggaran HAM sebagai penyebab semua persoalan? Pada faktanya penyebab kemiskinan, perempuan adalah karena sistem ekonomi kapitalis yang juga memicu besarnya angka KDRT. 

Kemunculan Istilah Hak Asasi Manusia ini terjadi setelah Revolusi Perancis. Dimana pada saat itu terjalin koalisi antara tokoh borjuis dengan tokoh-tokoh gereja untuk merampas hak-hak rakyat. Dari sanalah muncul perlawanan rakyat yang akhirnya berhasil memaksa para raja mengakui aturan tentang Hak Asasi Manusia. Hingga akhirnya membuahkan deklarasi Internasional mengenai hak-hak asasi manusia yang dikeluarkan pada Desember 1948.

Kesetaraan gender merupakan salah satu topik yang diangkat pada festival HAM. Keadaan wanita yang banyak beraktivitas di rumah dianggap sebagai kondisi yang buruk seperti terkungkung, ketinggalan, tertindas dan sebagainya. Kondisi ini dianggap tidak sesuai dengan HAM dan digunakan alasan munculnya ide gender yang dianggap dapat menyelamatkan wanita dari keadaan tersebut. Para wanita diprovokasi agar dapat disejajarkan dengan laki-laki dalam hal aktivitas luar seperti pekerjaan, jabatan dan sebagainya.

Ide ini merupakan ilusi dengan kalimat indah yang telah berhasil menipu kaum muslim khususnya perempuan. Ide HAM yang digaungkan Barat seolah menjadi angin segar bagi kaum perempuan, yang ketika itu hak-haknya merasa dirampas. Cara baru yang mereka mainkan dengan lebih elegan. Barat berusaha berkoalisi dengan para pemimpin boneka. Sesungguhnya merekalah yang telah merampas hak-hak asasi manusia dengan cara yang tidak disadari umat. 

Ide-ide sesat semacam HAM ini disuntikkan ke tubuh generasi Islam agar mereka tersesat jauh dari ajaran islam. Atas nama HAM, mereka legalkan eLGeBeTe. Atas nama HAM, mereka teriak meminta pernikahan berbeda agama dilegalkan. Atas nama HAM, mereka menolak poligami tapi halalkan prostitusi dan atas nama HAM mereka mempengaruhi para wanita untuk aktif didunia pekerjaan dan meninggalkan kewajiban mengurus anak dan keluarga. Nauzubillah minzalik.

Islam memiliki pandangan tersendiri mengenai hak-hak asasi manusia ini. Sejak awal Islam sangat menghargainya. Bahkan negara berkewajiban dalam melindungi hak setiap warga negaranya termasuk hak perempuan dan laki-laki. Secara umum, Islam memandang laki-laki dan wanita dalam posisi yang sama yaitu sebagai ciptaan Allah yang dibebani dengan tanggungjawab melaksanakan ibadah kepada-Nya, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Masing-masing memiliki kewajiban dan hak yang sama dihadapan Allah sebagai hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah:

 مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik  dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”  (QS. An-Nahl [16]: 97)

Kesetaraan laki-laki dan wanita, bukan berarti kaum laki-laki dan wanita menjadi sama dan setara dalam segala hal. Karena, kenyataannya laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan yang mendasar. Secara biologis dan kemampuan fisik, laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Begitu pun dari sisi sifat, pemikiran-akal, kecenderungan, emosi dan potensi masing-masing juga berbeda. Wanita tabiatnya melakukan proses reproduksi, mengandung, melahirkan, menyusui, menstruasi dan sebagainya. Menjadi tidak adil jika kemudian memaksakan persamaan peran yang tidak sesuai dengan kecenderungan yang mendasar tersebut.

Dari perbedaan mendasar ini, sejumlah hukum-hukum syariat ditetapkan oleh Allah yang Maha adil dengan perbedaan-perbedaan pula. Sebagian hukum, kewajiban, hak dan peran yang disyariatkan oleh Allah dibedakan sesuai dengan kemampuan masing-masing dari keduanya. Tujuannya adalah, agar keduanya saling melengkapi satu sama lain dan dengannya hidup ini dapat berjalan sempurna, harmonis dan seimbang.

Hubungan antara laki-laki dan wanita adalah hubungan yang saling melengkapi, bukan hubungan persaingan sebagaimana yang diinginkan oleh konsep liberal. Islam memandang keadilan antara laki-laki dan wanita, bukan kesetaraan. Konsep kesetaraan bertolak belakang dengan prinsip keadilan. Karena adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. 

Penerapan Syariat Islam justru akan memberikan penjagaan dan pemeliharaan terhadap agama, jiwa, keturunan, akal dan harta yang merupakan lima perkara mendesak pada kehidupan manusia. Sehingga terdapat hukuman yang ditetapkan Syariat Islam bagi setiap orang yang melanggar salah satu masalah ini.

Sesungguhnya Islam tak pernah mengenal konsep kebebasan HAM yang lahir dari  faham sekulerisme Barat. Karena di dalam Islam setiap perbuatan harus terikat dengan hukum syariat. Semua itu dilakukan penuh ketaqwaan dan ketundukan yang mengikat. Karena setiap individu dalam Sistem Islam menyadari keterikatannya kepada Allah. Mereka juga menjadikan ridlo Allah sebagai tujuan hidupnya. Sehingga tak hanya masalah perempuan ataupun  KDRT  yang bisa dituntaskan, namun seluruh problematika umat yang kini menjerat, bisa diselesaikan secara tuntas. Karena Islam itu solusi nyata bukan sekedar ilusi tak bermakna. 
Agama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad ini merupakan ideologi yang kaffah. Islam harus diterapkan secara sempurna dan menyeluruh,. Karena umat Islam butuh persatuan. Umat Islam butuh perlindungan. Umat Islam butuh naungan, segera bukan sementara. 
Allahu 'alam bi as-showab.

 #JanjiPalsuRezimNeolib 
#NeolibPembawaSengsara 
#BerkahDenganSyariahKaffah

Post a Comment for "Benarkah Kesetaraan Gender Meningkatkan Derajat Wanita?"