Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Radikal Fundamentalis vs Radikal Sekularis

Menurut Lukman, Menteri Agama RI periode lalu, istilah “radikal” memiliki akar kata “radiks” yang berarti mengakar atau mendalam. Sementara, dari sudut pandang agama, memahami serta mengamalkan suatu ajaran agama secara mendalam dan mengakar memang sudah semestinya dilakukan oleh masing-masing pemeluk.

“Agama memang harus diyakini, menghujam dalam hati sanubari, fikiran, dan terefleksi dalam tindakan dan sikap,” kata dia.

Dengan demikian, menurut Lukman, dalam konteks keberagamaan, radikalisme sebetulnya bukan sesuatu yang harus dicegah karena semua agama memang pada dasarnya mengajarkan setiap pemeluknya untuk memegang agama secara mengakar dan mendalam.

Akan tetapi, kata dia, yang perlu diperangi bersama-sama adalah ekses negatif yang muncul dari penyikapan sesuatu yang radikal tersebut yang diwujudkan dengan pemaksaan kehendak dengan menghalalkan segala cara.[1]

Masalahnya, jika dikaitkan dengan Islam, ajaran Islam sendiri tidak membolehkan melakukan pemaksaan kehendak; orang tua tidak berhak memaksa anak gadisnya menikah, bahkan Islam melarang kepala negara memaksakan akidah/pemahaman tertentu kepada warga negaranya. Menghalalkan segala cara juga haram dalam Islam….jadi jika memang benar-benar memahami islam secara radikal, tidak akan terjadi pemaksaan kehendak dengan menghalalkan segala cara.

✍ Radikal dalam Pandangan Amerika

Dalam Civil democratic Islam: partners, resources, and strategies yang dikeluarkan oleh RAND, National Security Research Division Amerika Serikat, dinyatakan ada dua jenis radikal, radical fundamentalist dan radical secularists. Berikut beberapa ciri-cirinya dalam dokumen tersebut.

✍ Ciri Radikal Fundamentalis:

1) Polygamy is permitted and there is nothing wrong with it.[2] (hlm. 15)

2) Islamic criminal penalties : Criminal Punishments, Islamic Justice an excellent way to provide swift, deterrent justice. (hlm 3)

3) Women’s Dress: Women must wear Islamic garments,

4) The full imposition of shari’a creates a good and just society. dst.

Jadi, kalau anda membolehkan poligami, menyatakan tidak ada yang salah dalam hukum poligami, berpandangan bahwa hukum pidana Islam merupakan cara terbaik untuk memberikan keadilan dan menimbulkan efek jera, wanita wajib menutup auratnya, dan penerapan totalitas hukum syari’ah akan membentuk masyarakat yang baik dan adil, maka berarti anda terpapar radical fundamentalist menurut mereka.

✍ Ciri Radical Secularists:

1) Polygamy not permitted, although some would also consider monogamy to be a hypocritical bourgeois concept (hlm. 9)

2) Islamic criminal penalties : Religion is a fallacy; therefore, religious laws can never be legitimate.

3) Hijab is a symbol of backwardness, and women should not want to wear it, let alone be pressured or forced into doing so (hlm. 11)

4) Islamic State: Religion is a retrograde force in society and should be abolished. (hlm. 11)

Jadi, orang yang berpandangan bahwa poligami itu dilarang, terkait hukum pidana memandang bahwa hukum agama adalah kekeliruan; karena itu, hukum agama tidak akan pernah sah, jilbab adalah simbol keterbelakangan sehingga wanita seharusnya tidak usah memakainya, agama dia pandang sebagai kekuatan kemunduran (retrograde) dalam masyarakat dan harus dihapuskan, dst, maka dia mengidap ciri-ciri radical secularists.

Dari Mu’adz bin Jabal, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata:

… أَلا إِنَّ رَحَى الإِسْلامِ دَائِرَةٌ، فَدُورُوا مَعَ الْكِتَابِ حَيْثُ دَارَ، أَلا إِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ، فَلا تُفَارِقُوا الْكِتَابَ، أَلا إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَقْضُونَ لأَنْفُسِهِمْ مَا لا يَقْضُونَ لَكُمْ، إِنْ عَصَيْتُمُوهُمْ قَتَلُوكُمْ، وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ أَضَلُّوكُمْ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ نَصْنَعُ؟ قَالَ: كَمَا صَنَعَ أَصْحَابُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، نُشِرُوا بِالْمَنَاشِيرِ، وَحُمِلُوا عَلَى الْخَشَبِ، مَوْتٌ فِي طَاعَةِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

“…Ketahuilah, sesungguhnya poros Islam itu senantiasa berputar. Maka, berputarlah kalian bersama al-Quran ke arah mana pun dia berputar. Ketahuilah, sesungguhnya al-Quran dan penguasa akan terpisah. Maka janganlah kalian terpisah dari al-Quran. Ketahuilah, sesungguhnya akan datang kepada kalian para pemimpin yang memutuskan perkara atas dasar kepentingan pribadi, bukan atas kepentingan kalian. Jika kalian tak menaati mereka, mereka akan membunuh kalian. Jika kalian menaati mereka, mereka akan menyesatkan kalian.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami harus berbuat ketika itu?” Beliau berkata, “Berbuatlah sebagaimana para sahabat ‘Isa bin Maryam berbuat (yakni menaati Allah)!, (walapun resikonya ) mereka dipotong dengan gergaji dan disalib. Mati dalam keadaan menaati Allah itu lebih baik daripada hidup dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.”
[3]

[1] “Menag: Pisahkan Istilah Radikalisme Dari Ekstrimisme | Republika Online,” accessed August 6, 2019, https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/10/28/nwxugn313-menag-pisahkan-istilah-radikalisme-dari-ekstrimisme.

[2] Cheryl Benard, Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies (Santa Monica, CA: RAND, National Security Research Division, 2003), hlm. 15.

[3] HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam ash-Shaghir (749) dan Mu’jam al-Kabir (20/90). Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (5/165-166).

Penulis : Muhammad Taufik
Editor : A.S.
Foto : sampul proposal Rand Corporation

Post a Comment for "Radikal Fundamentalis vs Radikal Sekularis"