Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

QUO VADIS ALUMNI 212 ?


oleh : Mohammad Yusron Kholidi, Ph.D

Tahun 2019 adalah tahun ketiga helatan akbar Reuni 212, yang akan diadakan di Monas. 212 adalah simbol bersatunya umat Islam Indonesia yang waktu itu 1 komando menyuarakan 1 suara yang sama, Tangkap Ahok sang penista agama. Jutaan umat Islam berkumpul dibawah komando Imam Besar Habib Rizieq Shihab. Para alumni 212 pun kemudian mendeklarasikan diri sebagai Mujahid Mujahidah 212. Aksi super damai 212 waktu itu ternyata memberikan dampak yang signifikan, para pemuka atau ustadz-ustadz yang sebelumnya tidak terkenal menjadi terkenal yang ketika mengisi tabligh akbar di daerah mendapat pengawalan super ketat yang justru menghalangi umat dengan sang tokoh itu. 212 telah memoles begitu banyak  dalam tanda kutip tokoh-tokoh jakarta yang kehadirannya di daerah sangat dielu-elukan. Bahkan membuat salah satu ormas merasa iri sampai melakukan aksi bubar-membubarkan acara tabligh akbar. 

Terlepas dari munculnya tokoh-tokoh yang menjadi terkenal itu, aksi 212 juga memberikan dampak yang signifikan dalam peta politik umat Islam indonesia. Tumbangnya Ahok di DKI Jakarta merupakan fakta politis dan psikologis bahwa kekuatan 212 tidak main-main dan layak untuk diperhitungkan. Bahkan para alumni 212 dari berbagai penjuru Indonesia bersatu untuk memberikan dukungan terhadap Anies - Sandi waktu itu dengan ramainya dan gegap gempitanya Medsos untuk menguasai pertempuran di udara. Sikap saling kompak selalu ditunjukkan oleh para alumni 212 dalam membentuk satu opini terhadap informasi-informasi dan fakta-fakta politis. 

Jika diuraikan secara detail, lembaran-lembaran sejarah umat Islam Indonesia Pasca aksi 212 dan aksi-aksi yang mendahuluinya seperti aksi 411 mungkin saja tidak pernah terangkum oleh ahli-ahli sejarah. Karena begitu Kompleksnya arah dan tujuan umat Islam Indonesia dalam andil besarnya membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. 

Euforia reuni 212 selalu menguasai tempat di media sosial, kalau kita kembali mereview reuni 212 tahun 2018 yang waktu itu dihadiri oleh Capres pilihan Ijtimak Ulama, begitu semangatnya jutaan yang hadir untuk membuat ikrar memenangkan Capres Ijtimak ulama tersebut. Ketika jutaan umat Islam berkumpul di Monas dalam reuninya, lawan politik telah menyiapkan 1 system yang nantinya akan mengalahkan jutaan umat Islam yang berkumpul di Monas. Dan ternyata benar, banyak yang protes mengenai server KPU yang waktu sudah dipersiapkan untuk memenangkan Paslon lawan. Maka para mujahid dan mujahidah 212 yang ketika itu berjumlah jutaan di reuni nya tidak bisa berkutik menghadapi 1 system itu. Artinya bukan kekuatan massa yang besar yang mampu memenangkan pertarungan politik, tapi 1 system yang selama ini diabaikan yang membuat kekuatan besar itu runtuh tak berdaya.

Tahun 2019 ini apakah reuni 212 akan seperti tahun-tahun sebelumnya, yang mana para Mujahid dan Mujahidahnya hanya datang, duduk-duduk, teriak-teriak takbir, makan-makan, selfie-selfie tanpa komando bagaimana memenangkan umat Islam di Indonesia ? atau nanti akan ada kesadaran bahwa umat Islam butuh 1 system IT sebagaimana yang saat ini sudah dipersiapkan oleh mereka yang akan tampil pada Pilpres 2024 ? Wallahu 'alam. 

Beberapa kali diskusi dengan teman-teman Hacktivist Cyber Army dan beberapa ulama penggagas aksi 212, menyarankan kalau helatan akbar reuni 212 diadakan di daerah masing-masing, kemudian strategi-strategi yang dihasilkan di daerah-daerah dibawa ke Pusat untuk didiskusikan bersama-sama. Penulis yakin, jika jutaan umat Islam berkumpul 1 titik di monas tanpa strategi yang jelas, pertarungan-pertarungan politik ke depan hasilnya akan sama, yaitu akan kalah oleh kecurangan 1 system yang bernama IT. Penulis bukan Pesimis dengan pertolongan Allah swt, penulis hanya ingat Pertolongan Allah hanya bagi orang-orang yang sungguh-sungguh dan mempunyai persiapan yang matang untuk memenangkan umat Islam Indonesia.

Post a Comment for "QUO VADIS ALUMNI 212 ?"