PARTAI NASDEM DAN RESTORASI ALA PALOH PASCA PILPRES


Oleh : Nasrudin Joha 

Banyak yang mengira partai Nasdem akan mengambil posisi sebagai oposisi pasca Pilpres 2019 berakhir. Pandangan itu muncul seiring masifnya pertemuan Surya Paloh selaku Ketum Nasdem ke sejumlah partai diluar koalisi Jokowi, khususnya PKS. 

Pendapat tersebut menguat juga seiring perdebatan sengit saling sindir antara Nasdem dan koalisi partai PDIP, seputar etika politik dan platform partai yang Pancasilais. Tragedi Lebak Bulus, Pertemuan Teuku Umar telah memantik Surya Paloh membentuk 'Gimmick' perlawanan melalui manuver Gondangdia dan mengumpulkan sejumlah partai koalisi Jokowi minus PDIP.

Puncaknya, lakon oposan itu dimainkan setelah tragedi salaman di DPR RI, dimana Paloh dan AHY diabaikan Megawati saat telah berdiri dan bersiap untuk menyalami Megawati. AHY bahkan sempat mengejar salaman itu, karena menduga Mega tak mengetahui keberadaannya.

Singkatnya, tulisan ini ingin mengungkap apakah Nasdem yang dinakhodai Paloh akan benar-benar menjadi partai oposisi ? Apakah Nasdem juga akan menjadi partai paling kritis menggantikan peran PDIP pada era pemerintahan SBY ?

Mari kita ulas.

*Pertama,* sejak pasca reformasi sesungguhnya sulit untuk menemukan partai yang benar-benar bergerak berdasarkan ideologi. Semua partai menerapkan asas pragmatisme dalam membangun kemitraan politik bahkan termasuk juga dalam menyusun platform perjuangan partai.

Nasdem yang didirikan Surya Paloh tak lepas dari mewarisi karakter politik Golkar. Surya Paloh sendiri sebelumnya adalah kader Golkar, sama seperti Wiranto dan Prabowo yang begitu hengkang dari Golkar mendirikan Hanura dan Gerindra.

Karakteristik dasar Golkar itu tak mungkin hidup diluar pemerintahan, tak punya kultur menjadi oposisi. Pada periode Ical (Aburizal Bakri) Golkar sempat sebentar menjadi partai oposisi. Namun, dinamika partai membuat Golkar mengevaluasi posisi politik dan segera kembali kepada tabiat dasarnya, berada dilingkaran kekuasaan.

Saat ini Nasdem juga punya posisi tak jauh beda dengan Golkar, berada dilingkaran kekuasaan. Mustahil bagi Nasdem menjadi oposisi, apalagi secara politik Nasdem mendapat jatah dua menteri. Porsi yang cukup fair dalam konteks gonjang ganjing koalisi Jokowi saat ini.

Surya Paloh sendiri menyebut bodoh jika Nasdem sampah menjadi oposisi. Artinya, semua manuver Nasdem termasuk aksi saling sindir ihwal pelukan dengan Sohibul Iman, menyindir partai yang sok Pancasilais tapi tidak berperilaku sesuai, hanyalah kamuflase.

*Kedua,* Nasdem ingin berdiri di dua kaki dengan memanfaatkan semua benefit politik yang ada, baik benefit politik kursi kekuasan di pemerintahan, dan benefit elektabilitas partai melalui gerakan 'pura-pura' oposisi. Nasdem sedang menjalankan misi 'Restorasi Ala Paloh' yakni ingin meningkatkan elektabilitas partai dengan berposisi seolah-olah oposisi, seolah-olah membela rakyat.

Posisi Nasdem saat ini tak ubahnya sedang ber 'Gimmick' seperti peran yang dimainkan anggota DPR RI saat rapat bersama Menkes dan direksi BPJS. Parodi anggota dewan yang berapi-api mengkritik BPJS dan Menkes adalah manuver untuk menangguk elektabilitas publik, setelah persepsi umum publik terhadap DPR RI sangat buruk.

Dengan menjalankan dua peran, yakni menangguk gizi politik melalui kursi menteri dan memainkan drama beroposisi dan membela rakyat, Nasdem mendapatkan dua benefit politik sekaligus. Akses anggaran dari kekuasan untuk membiayai partai, panggung pencitraan untuk meningkatkan pamor (elektabilitas) partai.

Sayangnya PKS terlalu lugu membaca itu, PKS terlalu terburu-buru mencari kawan mitra oposisi. Padahal, jika PKS single fighter maka otomatis benefit politik berupa elektabilitas partai itu semuanya diunduh PKS. Karena PKS, sejak awal yang dipersepsikan publik oposan terhadap rezim.

PKS berbeda dengan PAN yang berulangkali sempat akan merapat walau akhirnya batal mendapat jatah kursi menteri dan kemudian mendeklarasikan diri sebagai partai oposisi.

Jika PKS tak sensitif membaca manuver Nasdem, PKS bisa 'dimakan' Nasdem. Maksudnya, citra melawan rezim, citra partai oposan justru bisa diambil alih Nasdem apalagi Nasdem memiliki Infrastuktur politik pencitraan yakni media yang jauh lebih unggul ketimbang PKS.

PKS akan 'dikerjai' oleh Nasdem seperti saat berkoalisi dengan Gerindra. Hingga saat ini, Gerindra tak mau merelakan kue kering posisi Wagub DKI untuk PKS. Polemik pendamping Anies ini tak kunjung selesai karena ada keserakahan Gerindra. PKS dikerjai Gerindra.

Jadi kepada publik tak perlu serius menilai amukan surya Paloh. Nasdem sedang melakukan 'restorasi' Elektabilitas partai karena Nasdem senenarnya paham menjadi partai pendukung Jokowi itu menggerogoti elektabilitas partai. Pada saat yang sama, Nasdem masih dapat terus mengakses legitnya kue kekuasan dari porsi menteri yang diterima Nasdem. [].

0 Response to "PARTAI NASDEM DAN RESTORASI ALA PALOH PASCA PILPRES"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel