Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KUBU 212 VS KUBU 01&02


Oleh : Nasrudin Joha 

Secara eksplisit, Mendagri Tito Karnavian menyebut Problem perseteruan 01 dan 02 telah berakhir, seiring terjadinya rekonsiliasi (baca : bagi-bagi kursi) antara kubu 01 dan kubu 02. Namun, Tito juga menyebut problem yang tersisa adalah kelompok 212.

Entitas politik dengan kode 01 adalah kelompok kubu penguasa, yang saat itu ditopang oleh mayoritas partai politik, politisi partisan dan aktivis serta simpatisan politik yang sejalan dengannya. Kubu dg kode 01 merujuk pada pasangan capres pada Pilpres 2019 dengan nomor urut 01 dan seluruh kelompok politik yang mendukungnya.

Dengan merujuk pada batasan itu, kelompok politik 01 terdiri dari : Jokowi, Ma'ruf Amien, PDIP, GOLKAR, PKB, PPP, NASDEM, HANURA, PERINDO, PSI, PBB, PKPI, PROJO, Abu Janda, Ade Armando, Fictor Laiskodat, Busukma, dll.

Adapun kelompok politik 02 adalah Entitas politik dengan kode 02 yakni kelompok kubu penantang penguasa, yang ditopang beberapa partai politik, politisi partisan dan aktivis serta simpatisan politik yang sejalan dengannya. Kubu dg kode 02 merujuk pasa pasangan capres dengan nomor urut 02 dan seluruh kelompok politik yang mendukungnya.

Dengan merujuk pada batasan itu, kelompok politik 02 terdiri dari : Prabowo, Sandi, Gerindra, PKS, PAN, FPI, PA 212, Hersubeno Arief, Asyari Usman, Tony Rosyid, Syahganda Nainggolan,  dll.

Memang, diluar kubu 01 dan 02, masih ada kubu 03 yakni entitas politik yang mengambil posisi tidak terikat dengan kelompok manapun, mengusung agenda sendiri, yakni agenda Islam dan keumatan. Kelompok politik ini dimotori oleh HTI, Para Pengamat dan Akademisi Netral, Aktivis Hijrah, Ulama dan Ustadz, dan beberapa kelompok politik yang kecewa pada rezim namun tak melihat ada solusi yang ditawarkan oleh kubu 02.

Sementara kubu yang tak masuk kelompok 01, bukan 02 dan 03, hanyalah kubu yang berharap dapat durian runtuh tanpa ikut menanam benih. Ini adalah kelompok pragmatis yang menunggu peluang untuk mendapat posisi politik yang menguntungkan. Demokrat dan beberapa tokoh oportunis, ada di kelompok ini.

Pergeseran Polaritas politik mengalami dinamika yang cukup signifikan, terutama pasca merapatnya kubu 02 ke kubu 01. Gerindra, menyatakan merapat ke kubu 01, otomatis karena Prabowo dan Gerindra menjadi simbol 02, maka melebur nya Prabowo dan Gerindra menjadi penanda berakhirnya era 01 vs 02.

Gerindra mendapat posisi yang cukup dengan jatah dua porsi menteri di kabinet maju Jokowi. Namun, di parlemen posisi Gerindra digeser oleh PDIP dan Golkar. Posisi ketua fraksi dan alat kelengkapan dewan, banyak dikuasai PDIP dan Golkar. Gerindra, tersisih posisinya di parlemen meski suara Gerindra signifikan.

Adapun pendukung 02 yang mendukung dengan otak waras, tidak serta merta menjadi bagian dari rezim meski kubu 02 telah merapat dan melebur menjadi satu kubu dengan 01. Orang-orang seperti  Hersubeno Arief, Asyari Usman, Tony Rosyid, Syahganda Nainggolan,  dll, tak taklid buta pada Gerindra. Mereka masih tetap menjadi orang-orang merdeka.

Nama-nama tersebut, berbeda dengan Nanik S Deyang atau Zhang Zwen Zian, misalnya, yang merupakan penulis 'Die Hard' Prabowo. Juga tak jauh beda dengan nasib mereka, adalah Dahnil Ahzar Simanjuntak yang sudah 'terjebak' dalam permainan politik praktis.

Dahnil, ketika menisbatkan diri sebagai jubir Prabowo maka tak ada pilihan lain kecuali harus selalu menjadi 'Kain Pel' untuk terus membela dan meralat statement dan pernyataan Prabowo yang bertentangan dengan aspirasi umat. Dahnil, telah menjadi 'Juru Tafsir' yang memiliki perspektif khas untuk membela Prabowo.

Yang menarik adalah entitas 212 yang kemudian perlahan namun pasti mulai menyadari tentang rusaknya partai dan politisi yang tidak mampu mengemban amanah umat. Pasca 02 merapat ke kubu rezim, kelompok 212 tak lagi menyandarkan hubungan politik Patron Klen dengan kubu 02.

Perlahan, kubu 212 menjadi entitas politik mandiri dan menjadi kaum oposan sejati, beroposisi karena nurani, menyambung aspirasi umat, bukan karena posisi politik yang berbeda dengan rezim. Posisi oposisi 212, berbeda jauh baik secara substansi maupun formasi dengan posisi oposisi yang diambil PKS, atau PAN atau Nasdem yang konon mulai melirik PKS untuk bersama beroposisi.

Menariknya, kubu 212 ini memiliki Ruh tahunan meminjam tuah agenda Reuni 212. Jika partai politik butuh waktu lima tahun sekali untuk melakukan konsolidasi nasional untuk menguatkan kader menghadapi pemilu, kelompok 212 telah memiliki sarana konsolidasi nasional setiap setahun sekali untuk menyiapkan umat melakukan perubahan yang hakiki. 

Kekuatan 212 tak bisa disetir rezim karena memang tdk memiliki pamrih kekuasan dalam berjuang. Berbeda dengan kubu 02 yang berjuang untuk meraih kekuasaan. Karenanya, kubu 01 sangat mudah menaklukan kubu 02 dengan membagi sedikit jatah remah kekuasan untuk 02.

Kubu 212 merupakan koalisi keumatan yang tidak ridlo atas adanya kezaliman rezim dan selalu konsisten melakukan perlawanan politik atas dasar perintah akidah Islam. Kubu 212, tak punya motif kekuasaan seperti kubu 01 dan 02. 

Reuni Akbar yang dilakukan oleh kelompok 212, dari yang pertama hingga yang ke-3 ini adalah bagian dari perlawanan terhadap rezim. Awalnya, kelompok 212 muncul untuk bela Al Quran yang dinistakan Ahok. Bergerak lagi membela bendera tauhid yang dibakar Banser di Garut. Dan kali ini, Reuni 212 juga didedikasikan untuk membela kehormatan Rasulullah Muhammad SAW yang dilecehkan oleh Busukma.

Karena itu, kubu 212 wajib memahami pandangan politik rezim yang diwakili oleh Tito Karnavian, yang memandang kelompok 212 sebagai 'sisa masalah' setelah merapatnya kubu 02 ke kubu 01. 

Kubu 212 juga wajib sadar, bahwa Framing rezim yang telah memberi izin dan mendukung agenda Reuni 212 kali ini, bukanlah representasi kebijakan murni namun hanyalah cara baru rezim untuk menundukan kelompok 212. Mereka sadar, semakin dilarang, semakin ditentang, justru agenda Reuni 212 semakin menuai sukses pada pergelarannya. [].

Post a Comment for "KUBU 212 VS KUBU 01&02"