Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gugurnya harapan pahlawan


Oleh: La Ode manarfa nafsahu | Aktivis gema pembabasan Sulawesi tenggara

10 November, merupakan hari bersejarah bagi Negara Republik Indonesia, yang memperingati hari pahlawan. Bukan karena mengapa, hal ini, dijadikan momen nasional bagi masyarakat negeri kita. Karena hari tersebut mempunyai kesan sejarah, tak terlupakan.

10 November, atau hari pahlawan. kini menjadi monemen harapan penting, bagi setiap anak negeri. Mengingat jasa, para pahlawan, yang gugur demi menyelamatkan, keberlangsungan negeri ini, atas penjajahan belanda selama kurang lebih 3 abad lamanya.

Perlawanan, sudah mendarah daging, ketika semua harapan indah, dibungkam, apalagi dimusnahkan. Semua tergores kedalam, tumpahan keringat, darah, dan menodongkan senjata, bambu runcing, hingga perkakas kebun dan rumah, menjadi alat mengusir penjajah, dengan gelorah semangat jihad fisabilillah menggema sebagai, kalimat takbir (Allah akbar).

Begitulah, gambaran para pahlawan kita dahulu, sedangkan itu semua dimotori oleh umat islam, mulai dari ulama, santri, dan para intelektual muslim, (Api Sejarah. Karya Ahmad mansur surya negara).

Kawan, 10 November 2019 kemarin, seharusnya, perlu bagi kita merenungkan, sudah sejauh, mana ukiran, dambaan, harapan, perjuangan keras itu terukir indah, atau hanya berupa, lembar dokumen literatur tanpa arti apapun?. Berangkat dari harapan para pahlawan dahulu.

Ditengah, sesaat kita merasapi, berbagai kesulitan itu, sudah menghampiri tenggerokan, hingga merasa kekeringan, haus dan lapar, dengan menyaksikan, para elit pejabat pemerintah kita, yang sibuk, dengan penuh tanda tanya. Mengapa negeri sekaya dan secantik ini masih menyisihkan pendiritaan?, memberikan kesan seolah masih terjajah.

Garam (2,216 juta ton, oktober 2019) pun harus impor, kesehatan begitu mahal, dari jaminan bertransformasi menjadi pungutan uang (BPJS), Perpres No. 75 Tahun 2019.  Maraknya kasus korupsi, 2004-2019 terdapat 124 kepala daerah OTT korupsi, para elit pejabat DPR meningkat 5 kali lipat, terjerat kasus korupsi,  yang makin menambah deretan, catatan gelap. Utang negara membengkak menembus Rp. 5000 Triliun. Maraknya kasus PHK. Belum lama pemerintah kabenit jokowi meneken proyek Kerja sama dengan pemerintah cina (OBOR), dengan 23 kesepakatan kerja sama. (27 April 2019), lahirnya RUKPK yang meresahkan, masyarakat. Penyelenggaran pemilu terparah sepanjang sejarah hingga  banyak, menelan korban. Wamena pun membara.

Alim ulama dan aktivis islam, yang kritis dibungkam, dikriminalisasi, dihantui dengan penjara. Para penista agama islam yang terus bergentayangan, persoalan hukum, seolah ketidak ada berpihakan pada Rakyat kecil, terutama umat islam yang mayoritas dinegeri ini. Situasi tahun-tahun yang kita lewati, seperti menyertakan kita pada penjajahan, semasa kolonial belanda. Negara yang dikatakan Negara hukum (State law), mulai menunjukan Negara kekuasaan (Country of country). Slogan Siapa yang berkuasa disitulah kebenaran ada, begitulah bunyinyaa. Siapapun yang hendak kritik ia pasti difitnah, teruntuk umat islam yang konsisten dengan asas islamnya sebagai sumber kebenaran, begitu cepat di proses. 

Demikian hal ini membuat koreksi atas harapan para pahlawan, dimana dalam setiap, gambaran imajinasi mereka ingin, hadir kesuatu penghidupan yang penuh ridho dan rahmat allah swt. seperti yang dicantumkan, teks pembukaan bunyi UUD 1945, yang menghapuskan segala bentuk penjajahan, demi tercapai hidup adil dan makmur, atas berkat dan rahmat Allah swt.

Namun, seiring kita saksikan peristiwa, selalu berlalu bersama penjajahan ala baru, hingga kesaksian kita, masiih membuktikan, penjajahan masilah berlangsung, hingga detik ini. Dengan untaian fakta yang ada, kata harapan pahlawan itu masih tersimpan didalam benih penuh durih.

Semua sebab kesengseraan yang terus kita hadapi, ini akibat mencampakan aturan dari zat yang menciptakan alam semesta dan se isinya, yang paham akan baik dan buruk, tidak lain ialah syaria islam tentulah khilafah ala minhajin nubuwwah, yang merupakan warisan Rasulullah muhammad saw, yang bersumber dari wahyu allah swt. Sudah barang pasti, jika itu tidak diambil sebagi satu-satunya aturan mainset hidup kita, terlebih lagi umat islam. Maka imanmu, pada Allah swt dan Rasulullah muhammad saw adalah kepalsuan semata, dan maenset hidup bahagia yang didambakan hanyalah angan-angan mimpi disiang bolong, atau palsu. 

Pada akhirnya harapan pahlawan, kemerdekaan negeri ini, hanyalah ilusi semata. Bila tidak mengambil hukum Allah swt yang diturunkan kepada Rasulullah muhammad saw[].

Kendari 12 November 2019.

#Cintasyariahcintanabisaw.

Post a Comment for "Gugurnya harapan pahlawan"