Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KHILAFAH, VISI UMAT ISLAM INDONESIA & DUNIA


[Tanggapan Artikel berjudul 'Pancasila Jangkar visi' karya Yudi Latif]

Oleh : Nasrudin Joha 

Penulis membaca ungkapan kejujuran yang ditorehkan oleh seorang Yudi Latif, manakala menggambarkan kondisi Indonesia ibarat kapal besar yang limbung; terperangkap dalam pusaran gelombang, tanpa jangkar kuat ke masa lalu, tanpa arah jelas ke masa depan.

Apalagi, Indonesia saat ini berada dibawah kendali seorang pemimpin yang tak mewarisi sifat landak tidak pula memiliki karakter laksana rubah. Pemimpin yang tak paham visi besar bangsa ini akan dibawa kemana, tak pula memiliki sensitifitas merespons berbagai ancaman dan rongrongan yang terus menggerus eksistensi negara.

Seorang pemimpin, yang menurut hemat penulis mewarisi sifat kerbau yang telah dicucuk hidungnya. Sejalan dengan pernyataan Ketum sebuah partai, yang menggelari sang pemimpin negeri ini sebagai 'petugas partai'. 

Pemimpin yang tak paham arah dan visi bangsa, tak pula memiliki narasi untuk menghadapi berbagai problema aktual. Semboyannya, hanya 'kerja, kerja, dan kerja'. Tak tahu kerja untuk siapa, tak tahu yang diuntungkan atas perkenaan itu siapa. 

Sejauh yang penulis amati, slogan kerja-kerja-kerja itu hanya mampu menumpuk dan menambah jumlah utang, membuat nilai rupiah makin melemah terhadap dolar, membuat TDL naik, BBM naik, pajak-pajak naik, tarif tol naik, PHK naik, pengangguran baik, kemiskinan naik, dan banyak akses negatif lainnya. 

Pemimpin tipe kerbau yang telah dicucuk hidungnya, hanya mampu mengikuti keinginan tuannya. Tak peka terhadap kritik dan protes disekitarnya, selalu berjalan santai seolah tak ada problem yang mendera bangsa. 

Kembali kepada tulisan Yudi, penulis setuju bahwa untuk mengeluarkan bahtera dari situasi limbung, sebuah negara memerlukan strategi untuk membangun hubungan yang proporsional antara tujuan (ends) dan sarana (means), antara aspirasi dan kababilitas. 

Karena itu, pemimpin type kerbau jelas tak memiliki kapabilitas untuk membuat strategi, apalagi mampu membangun narasi yang menghubungkan antara tujuan (ends) dan sarana (means). Pemimpin yang tak mungkin mampu menyerap aspirasi atas kendala kapasitas dan kapabilitas. Pemimpin yang hanya mampu menafsirkan kritik dan masukan sebagai 'hoax' atau ujaran kebencian. 

kita memang harus mengakui, tak memiliki keajegan visi sebagai haluan direktif, saat yang sama seperti kehilangan sense of crisis untuk bisa merepons tantangan-tantangan segera. Para politisi terperangkap dalam pusaran pragmatisme, semua hanya bekerja, berhimpun, membangun koalisi, termasuk membubarkan kemitraan koalisi berdasarkan kepentingan yang sifatnya sangat pragmatis.

Sebelum pemilu, publik dihadapkan pada dua kutub politik yang saling berkonfrontasi. Bangsa ini terbelah menjadi kubu 'cebong - kampret'. Narasi ini, tak mengizinkan entitas politik lain menjadi pihak ketiga, menjadi pihak yang waras, namun semua elemen masyarakat dipaksa untuk masuk menjadi kubu 'cebong' atau kubu 'kampret'.

Pasca tragedi Lebak Bulus, pasca parodi hidangan 'nasi goreng' barulah publik sadar. Tak ada konfrontasi abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang terus berdialektika. Karena kepentingan untuk mengunduh legitimasi pasca pemilu, kubu cebong kampret berekonsiliasi. 

Memprediksi kemungkinan yang terjadi di masa depan lebih baik daripada tidak mempersiapkannya sama sekali. Karenanya, pengetahuan tentang masa lalu dapat membantu memahami masa depan. Penulis setuju, tanpa menyadari masa lalu, perjalanan ke depan ibarat memasuki lorong sunyi kekelaman. Amnesia merupakan kemalangan ketidaktahuan dalam kesunyian. 

Negeri ini adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Jika ingin merujuk sejarah, maka sejarah paling klasik yang bisa dijadikan panduan untuk membangun masa depan bangsa adalah sejarah peradaban Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan generasi para sahabat.

Generai sahabat, mendapat pendidikan langsung dari sang Guru pembawa risalah Islam, Rasululah SAW. Para sahabat diajari visi kehidupan, tak sekedar visi Islam yang memiliki narasi besar untuk membebaskan seluruh umat dan bangsa, dari menghamba kepada makhluk menuju menghamba kepada Allah SWT. Namun juga visi akherat, visi kehidupan sesunguhnya, visi surga.

Selain membawa narasi besar, Rasululah SAW juga membawa wahyu berupa seperangkat norma dan aturan, yang berasal dari dzat pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. Aturan yang mampu merespons cepat setiap kejadian dan kondisi aktual yang menyelimuti kehidupan manusia, karena aturan Allah SWT tak akan lepas dari fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

Allah SWT yang menciptakan manusia, Allah SWT pula yang membuat aturan (syariat) yang pasti sejalan dengan kondisi fitrah manusia. Syariat inilah, yang dahulu mampu membebaskan bangsa Arab dari keJahiliahan. Syariat inilah, yang mampu membawa 2/3 dunia bersatu, dibawah naungan panji Islam, dibawah kekhilafahan Islam. 

Secara historis, syariah Islam yang diterapkan oleh negara, oleh Daulah khilafah telah mampu eksis menjaga dan menaungi peradaban dunia lebih dari 13 abad. Satu kurun waktu yang lebih dari cukup untuk membuktikan betapa syariat Islam memiliki visi yang jelas sekaligus memiliki seperangkat norma dan aturan yang komplit untuk merespons setiap tantangan zaman. 

Bahwa khilafah pada tahun 1924 memang diruntuhkan itu satu hal, dimana tak ada satupun kekuasan didunia ini yang tak memiliki ajal. Sosialisme, juga runtuh menemui ajal pada tahun 1991, sementara kapitalisme sebagai ideologi yang berkuasa saat ini juga nyaris rubuh.

Jika dibandingkan ideologi sosialisme maupun kapitalisme, ideologi Islam yang diadopsi negara khilafah jauh lebih lama menaungi dan eksis dalam pentas sejarah peradaban dunia. Sosialisme hanya mampu bertahan kurang dari seabad, sementara kapitalisme pada kurun abad ke-2 dari masa kejayaannya ini, telah mengalami kemunduran yang sangat luar biasa.

Karenanya, berasaskan akidah Islam yang dianut mayoritas anak bangsa ini, semestinya khilafah menjadi visi bersama. Visi bersama dan visi utama, tak sekedar menjadi jangkar agar kapal ini memiliki haluan. 

Khilafah, akan mampu mengangkat derajat bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki visi, bangsa yang memiliki landasan untuk membangun masa depan, peradaban yang serius ditopang oleh putera-putera terbaik Islam yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk memikul beban dan tanggungjawab masa depan. Khilafah, layak menjadi visi bangsa ini juga bagi dunia. 

Visi yang tidak saja menyejahterakan, tetapi juga membuat negeri ini mendapat ridlo dari Allah SWT. Visi yang dari nusantara ini, khilafah mampu mengembangkan diri dan membebaskan berbagai umat dan bangsa dibelahan bumi lainnya. 

Berharap pada Pancasila, Pancasila tak memiliki rujukan sejarah kegemilangannya. Pancasila, juga tak punya jalan yang jelas untuk menggapai masa depan. Kadangkala, Pancasila justru hanya hadir sebagai mitos yang hanya diperdebatkan oleh kaum cerdik pandai, namun tak mengakar dan membumi pada kehidupan nyata.

Di Hari Kesaktian Pancasila ini saja, Pancasila terlihat sangat ringkih. Pancasila tdk punya solusi untuk masalah Papua, Pancasila juga tak berdaya menghadapi demonstrasi  mahasiswa atau memaksa pemimpin yang tak dikehendaki rakyat untuk mengundurkan diri dari jabatannya. 

Bahkan, Pancasila justru karib dengan perilaku koruptif. Mereka, yang mengaku 'aku Pancasila' nyatanya justru menjadi tersangka KPK. Pancasila tak membumi, hanya elok didiskusikan oleh elit begawan BPIP, namun tak bertaji untuk mengatasi pemberontakan OPM di Papua. 

Penulis kira, perayaan hari Pancasila saat ini hanya sekadar merayakan pepesan kosong. Tak ada bukti Pancasila itu benar-benar sakti, semua mengklaim paling Pancasilais namun pada akhirnya semua juga terbukti terlibat korupsi. [].

Post a Comment for "KHILAFAH, VISI UMAT ISLAM INDONESIA & DUNIA"