Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HTI, RADIKALISME, DAN GORENGAN GOSONG


Oleh : Puspita Satyawati

Ketua DPP PKB Bidang Hankam Yaqut Cholil Qoumas menduga penusukan Wiranto adalah skenario nyata kelompok radikal untuk membuat tertib sosial menjadi kacau. Kelompok radikal ini bisa saja ISIS, JI, HTI atau  lone wolf. "Kalau tertib sosial kacau, maka kelompok teror dengan ideologi dan tujuan  mendirikan negara khilafah, jalannya makin lempeng. Jauh lebih mudah," katanya. (SINDONEWS.com, Kamis (10/10)

***

Hmm... Meski telah dibubarkan dengan segenap syahwat politik dua tahun lalu, HTI tetap seksi menggoda. Bagi kalangan nggak kuat iman, seksinya HTI menjadi bahan gorengan yang tak pernah kehabisan minyak dan wajan. Berharap kian digoreng makin gosong. Jika gosong, tentu yang nampak hanya kerak hitam dan bikin jijik yang melihatnya. Begitukah? 

Sungguh naif mengaitkan sekian peristiwa di negeri ini dengan HTI. Seolah, apapun masalahnya, HTI penyebabnya, Cina solusinya. Ups... 

Harus mengulang penjelasan berapa kali lagi yah. Kalau HTI bukan kelompok preman yang mengandalkan okol, jauh dari akal. Justru basic pembinaan HTI adalah menjadikan akal sebagai jalan beriman kepada Allah, Robb Semesta Alam. Pun dengan akal untuk memahami syariat ilahi.

Kekerasan adalah ajaran terlarang dalam HTI. Merujuk teladan Rasulullah Saw, maka karakter dakwah HTI adalah: fikriyah, laa madiyah, siyasiyah.

Fikriyah, hendak mengubah pemikiran jahiliyah menjadi islami. Laa madiyah, anti kekerasan. Siyasiyah, memperjuangkan tegaknya sistem Islam sebagai sarana menerapkan aturan Allah Swt. 

***

Sudah lupa atau pura-pura lupa sih? Saat permohonan banding ditolak setahun lalu, ada aktivis HTI yang ngamuk lalu melempari PTUN dengan batu? Pakai sandal aja kagak. Yang ada malah aktivisnya sujud syukur kepada Allah. Karena yakin bahwa apapun yang terjadi karena kehendak Allah. Kalaupun bisa dibilang keras, paling keras suara takbir doang. 

Pasca dibubarkan, ngamuk juga nggak? Sejak BH (Badan Hukum) HTI dicabut hingga saat ini, tak ada satu pun catatan kekerasan yang dilakukan aktivisnya. Tak ada bom. Tak ada perusakan fasilitas umum, dan sejenisnya. Semua kadernya stay 3C (cool, calm, and confident) ajah. Tetep dakwah dengan santuy. 

Pun sebelum dibubarkan. Dalam aksi demo ataupun agenda publik hingga ratusan ribu peserta, nggak ada dalam sejarah HTI terjadi aksi anarkis/kekerasan. 

Lantas, hari ini HTI dikaitkan sebagai pelaku penusukan Eyang Wir? Heloow, situ sehat? 

Awas lho, fitnah itu berat! Aku nggak sanggup dosanya. Berarti kamu saja yang menanggungnya. Bosen, ah. Dikit dikit HTI. Dikit dikit radikal. Dikit dikit makar. HTI kok dikit. Anggotanya banyak ya. Mau tahu? Rahasia 😊

Yang jelas, tak ada aktivis HTI yang dididik berdakwah lewat jalan kekerasan. Yang ada, dulunya keras bahkan preman, setelah kenal Islam di HTI, jadi insyaf dan lembut. Sebagaimana Umar bin Khattab RA. Sebelum masuk Islam, beliau orang yang sangat keras permusuhannya  terhadap Islam. Namun setelah terbina keislamannya, menjadi sosok kuat pembela Islam.

***

Salah besar jika menisbatkan HTI sebagai kelompok radikal yang dimaknai peyoratif (buruk) yaitu kekerasan, brutal, bertindak bar-bar, makar. Lha wong membakar ban dalam aksi demo saja dilarang, kok malah dituduh nusuk Eyang Wir. Nggak usah ditusuk pun, usia beliau udah menjelang Maghrib kok. Buat apa? Malah nambahi dosa. 

Kalau radikal bermakna amelioratif (positif), okelah. Memang HTI membina kadernya sebagai pengemban dakwah yang radikal (RAmah, terdiDIK, beraKAL). Atau radikalis. Ada manis-manIS nya gitu. 

Toh makna asal radikal kan radix: akar, mendasar. HTI jelas membekali aktivisnya dengan pemikiran mendasar yaitu akidah Islam. Bicara problematika negara hari ini juga ditinjau dari aspek mendasar, akibat tidak diterapkannya aturan Allah secara kaffah dalam kehidupan. Solusi yang ditawarkan juga mendasar, yaitu hukum Allah Swt.

Game over, please! Sudahi saja tudingan bernarasi fitnah terhadap HTI. Sebagai sesama Muslim, bukankah kita bersaudara? Apalagi sama-sama bergerak di medan dakwah. Harusnya bisa sinergi. Bahkan menjadi sedulur saklawase.

Yup. Karena dakwah itu mengajak, bukan mengejek. Merangkul, bukan memukul. Membina, bukan menghina. 

Jadi, mengapa kita nggak jadi saudara Muslim sehidup sesurga?

#Uniol_4_0 
#MenitiJalanMenujuMardhatilloh

Post a Comment for "HTI, RADIKALISME, DAN GORENGAN GOSONG "