Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

NARASI RADIKALISME : PROPAGANDA BARAT MENYERANG ISLAM


Proyek Abadi Para Antek Penjajah

Oleh : Ahmad Sastra

Islam adalah ideologi yang benar dan sempurna bagi kebaikan manusia seluruhnya, sebab ia berasal dari sang Pencipta manusia. Islam adalah ideologi yang realistik dan manusiawi, dengan berbagai susunan, sistematika, kondisi, nilai, kepribadian, ritual dan begitu juga atribut syiarnya. Karena itu aqidah Islam melahirkan sistem aturan peradaban yang maju dan mulia. 

Ini semuanya menuntut risalah ini ditopang oleh kekuatan institusi yang dapat merealisasikannya secara kaffah. Islam juga harus disokong oleh manusia-manusia amanah dengan ketundukan jiwa secara totalitas kepada Allah dan RasulNya. Secara normatif, konsepsi ini telah jelas terurai dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul, bahkan secara historis, kegemilangan peradaban Islam telah menjadi catatan sejarah dengan tinta emas. 

Will Durant, 1926. The History of Civilization, vol. xiii, hlm. 151 menyatakan bahwa Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka. 

Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka…Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik. 

Kesempurnaan Islam juga ditunjukkan melalui berbagai istilah yang disematkan dalam kata Islam yang berasal dari Al Qur’an. Berbagai kata yang disematkan Allah setelah kata Islam misalnya kaffah, rahmatan lil’alamin dan washatiyah. Ketiganya memiliki pengertian khas yang sahih karena berasal dari Allah langsung. Sementara istilah-isilah yang disematkan setelah kata Islam banyak yang telah menyimpang dari al Qur’an karena berasal dari epistemologi Barat yang sekuler. 

Bahkan Barat yang tidak suka dengan Islam menginginkan keterpecahan kaum muslimin dengan strategi adu domba. Barat menginginkan polarisasi muslim dengan memberikan lebel dan kampling-kapling Islam sehingga menimbulkan berbagai friksi intelektual hingga fisik sesama muslim yang cenderung destruktif.  Akibatnya kini kaum muslim mengalami perpecahan dan bahkan hingga permusuhan. 

Inilah akibatnya jika menjadikan ideologi Barat sekuler sebagai timbangan atas kondisi Islam dan kaum muslim. Padahal Allah telah dengan tegas agar menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai tempat kembali dan menimbang atas berbagai kondisi kaum muslimin, sebab seluruh kaum muslimin mestinya bersatu dibawah ikatan aqidah Islam, bukan sekulerisme, apalagi demokrasi. Perhatikan firman Allah : 
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya [QS An Nisa [4] : 59]

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk [QS Ali Imran [3] : 103] 

Salah satu postulat yang kini tengah gencar ditebarkan oleh Barat melalui berbagai corong media mereka adalah atribut Islam radikal atau istilah radikalisme. Sebagai strategi adu domba sesama muslim, maka Baratpun membuat istilah tandingan kontra radikalisme yang disebut dengan islam moderat. Baik Islam radikal maupun Islam moderat, keduanya adalah istilah yang diproklamirkan Barat untuk menyerang Islam itu sendiri.

Islam moderat beberapa waktu yang lalu menjelma menjadi Islam Nusantara yang sempat menyulut polemik. Pengikut Islam moderat mengklaim dirinya sebagai penebar Islam washatiyah, padahal secara epistemologis, istilah washatiyah tidaklah sama dengan kata moderat. Islam moderat justru lebih banyak mempropagandakan nilai-nilai Barat dibandingkan Islam itu sendiri.  

Sekali lagi, secara epistemologi, istilah radikal dan moderat adalah istilah yang datang dari filsafat Barat, sementara istilah washatiyah dan kaffah adalah istilah yang berasal dari terminologi al Qur’an. Karena itu tidak mungkin memiliki kesamaan makna antara istilah dari Barat dengan istilah yang datang dari Al Qur’an. Begitupun istilah Islam rahmatan lil’alamin yang berasal dari al Qur’an, sementara term Islam Nusantara tidak ditemukan dengan jelas asal-muasalnya.  

Namun ironisnya proxy war Barat dengan langkah hegemoni wacana yang jelas-jelas sebagai cara menyerang Islam justru diamini oleh negara-negara muslim di dunia, termasuk di Indonesia, Saudi dan Mesir. Hal ini sejatinya bisa dipahami, sebab Indonesia dan negara-negara muslim adalah negara yang menerapkan ideologi kapitalisme sekuler yang secara diametral bertentangan dengan ideologi Islam. 

Maka untuk melanggengkan kekuasaan dan ideologi ini, mereka melakukan langkah monsterisasi ajaran Islam dengan memberikan stigma radikal kepada muslim yang ingin menerapkan Islam secara kaffah dan memuji muslim yang pro ideologi kapitalisme sekuler sebagai Islam moderat. 

Sebab faktanya pengikut Islam moderat biasanya menolak formalisasi syariah oleh negara atau dengan kata lain anti khilafah. Padahal konsep khilafah merupakan ajaran Islam, sebagaimana ajaran Islam lainnya seperti aqidah, akhlak, ibadah dan muamalah. Menyamakan istilah washatiyah dengan moderat akan melahirkan epistemologi oplosan yang menyesatkan umat.

Strategi Barat untuk menyerang Islam ini merupakan propaganda busuk yang harus disadari oleh  seluruh kaum muslimin. Hal ini sejalan dengan firman Allah : 

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu [QS Al Baqarah [2] : 208]

Seiring menguatnya hegemoni wacana dengan serbuan istilah-istilah Barat disertai melemahnya kemampuan Bahasa Arab di kalangan kaum muslimin, maka propaganda serangngan Barat terhadap Islam melalui isu radikalisme ini justru mendapat sambutan positif dari negeri-negeri muslim. 

Prof. Dr. Soheir Ahmad as-Sokari, ahli linguistik di berbagai universitas besar, di antaranya Georgetown University mengutarakan bahwa Barat telah melakukan penghancuran kemampuan bahasa Arab generasi muslim, yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan umat Islam. 

*[AhmadSastra,KotaHujan,02/09/19 : 09.50 WIB]*

Post a Comment for "NARASI RADIKALISME : PROPAGANDA BARAT MENYERANG ISLAM"