Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

‘Sejarah Islam Indonesia’ Adalah ‘Sejarah Indonesia’ (disampaikan dalam Diskusi Online bersama Komunitas Literasi IPB)

Indonesia itu unik, dan ajaib. Begitu kata saudara-saudara kita di Arab sana.
Bayangkan, bagaimana mungkin sebuah bangsa raksasa dengan bahasa yang berbeda-beda, bisa bersatu dalam sebuah tatanan politik yang padu. Sedangkan di waktu yang sama, bangsa Arab yang megah sejarahnya itu, 300 juta penutur bahasanya, nyaris sama wajah dan tabiatnya, malah berpisah menjadi 25 negara.

Maka jawabannya adalah; ada satu kekuatan yang membuat Indonesia bisa meleburkan sekat kedaerahannya menjadi satu kapal raksasa. Kekuatan besar itu adalah Islam. Islam, yang “jika kecil memberi harmoni, jika besar akan melindungi”, saripati dari perkataan Almarhum Natsir. Bagaimana mungkin 18 ribu pulau, 360 bahasa, terpisah oleh lautan pula, dapat menjadi Indonesia. Maka Soekarno akan menjawab, “sebab nasib kita sama; sama-sama terjajah.” Namun izinkan sejarah menjawab, “sebab semangat kita sama; keislaman.”

Dalam ruang berkah di waktu berkah kali ini, saya tidak akan mengulas sebagaimana Profesor Mansur Suryanegara mengulas Api Sejarah. Silahkan sahabat semuanya membaca sendiri. Buku beliau yang merupakan ‘magnum opus’-nya, memiliki bahasa yang mudah dicerna, bahkan banyak terulang diksi dan pembahasannya, yang kemudian menguatkan ingatan kita tentang ilmu-ilmu di dalamnya.

Saya akan membawa diri saya sendiri dan rekan semuanya menaiki tiga tangga untuk memperoleh pemahaman baru terhadap sejarah Islam, yang dalam tema kajiannya berjudul “Sejarah Politik Islam.” Apa bedanya? Sejarah Politik Islam Indonesia itu hanyalah bagian dari Sejarah Islam Indonesia. Untuk membahas tema yang lebih kecil, kita harus naik dulu ke tema yang lebih umum. 

Tangga Pertama adalah; Umat Islam Nusantara, The Global Player
Tangga kedua; Membenahi Pemahaman, Mengapa Eropa Datang ke Indonesia
Tangga Ketiga; Saatnya Mengambil Estafet

Tangga Pertama; Umat Islam Nusantara, The Global Player

Ketika diminta oleh Mas Arief untuk menjelaskan sejarah politik Islam di Indonesia, saya sedikit menyanggah dan menjawab; saya tidak ahli betul dalam sejarah politik Indonesia. Namun mas Arief meyakinkan, dan memberi saya sinyal; bahwa yang menjadi tujuan utama diskusi kita hari ini adalah; terbitnya sudut pandang baru terhadap pemahaman sejarah umat kita, baik di Indonesia, maupun di dunia. 

Nah, maka saksikanlah, umat Islam di Nusantara adalah aktor percaturan global di langit sejarah. Sebutlah NU, organisasi masyarakat terbesar di Asia Tenggara. Jika dipahami dengan baik, Nahdhatul Ulama ini sejatinya merupakan tenaga besar yang akan menggerakkan generator kekuatan muslimin di Asia Tenggara, sangat cukup untuk menyentil bahkan meneplak tingkah Myanmar dan Thailand agar tak lancang di kawasan. 

Jauh sebelum itu, Kerajaan-kerajaan islam di Indonsia sendiri, hadir ketika umat Islam dipimpin oleh Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul. Ada banyak sekali dokumen yang menggambarkan kepada kita hubungan diplomatik Nusantara-Utsmani, terutama kesultanan Aceh dengan Khilafah Utsmani di sana.  
Rakyat umumnya di Nusantara, melihat Istanbul senantiasa sebagaimana kedudukan seorang raja semua orang mukmin dan tetap dipandang raja dari segala raja di dunia
 (Deliar Noer, mengutip dari catatan Snouck Hurgronje) 

Saat itu dunia tahu, bahwa Kekhilafahan Utsmani adalah super power yang benar-benar riil, seperti hari ini kita melilhat Amerika Serikat atau Uni Eropa. Dalam tulisannya, Jihad Turbani (seorang Jurnalis Palestina) mengemukakan,
Di zaman pemerintahan Sultan Sulaiman Al Qanuni, muslimin India meminta pertolongannya mengusir Portugis, di saat yang sama pula muslimin dari kerajaan Aceh meminta bantuan angkatan lautnya untuk menghadapi penyerangan Portugis. Kekhalifahan Utsmani menjadi perisai Umat Islam di Asia, Afrika, dan Eropa dalam satu waktu.
Di Makkah pun, ada banyak masayikh dan Ulama yang mengajar penuntut ilmu berasal dari Indonesia. Diantaranya Syaikh Junaid Al Batawi, Syaikh Nawawi Al Bantani (yang belakangan diketahui bahwa belau adalah inisiator perang Gerilya, dan bahkan bukunya menjadi kurikulum bagi pasukan AS), lalu Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi rahimahumullah.

Di Al Azhar, sejak tahun 1800, sudah mulai ada ruwaq (serambi belajar) di sekeliling Masjid Al Azhar yang dinamai ruwaq Jawi. Menandakan intelektual Muslim menjadi generator bagi rakyat Indonesia ketika Belanda menjajah. Pak Andi Fakhir, mantan Dubes Indonesia untuk Mesir pernah berkata, “khazanah perjuangan di Indonesia diisi oleh poros Leiden Belanda dan poros Kairo Mesir.”

Kesimpulan dari Tangga Pertama;
Jika gambaran sejarahnya saja sudah sedemikian detail, itu pasti ditopang oleh kekuatan politik Islam yang sangat kuat dan sistematis. Contohnya saja,

Bahasa pengantar kerajaan-kerajaan di Indonesia adalah bahasa Arab. Tulisannya adalah; bahasa arab. Anak-anak sultan yang akan jadi raja, harus melewati proses belajar dulu, salah satunya mengetahui wawasan umat Islam sedunia. Apa caranya; Haji. Dan proses menuju haji itu adalah dua tahun

(dari buku Perang Sabil VS Perang Salib, Abdul Qadir Jailani. Pustaka Pengkajian Islam Madinah Al Munawwarah) 

Tangga Kedua; Membenahi Pemahaman, Mengapa Eropa Datang ke Indonesia 

Saya akan mengawali pembahasan ini dengan sebuah fakta; bahwa datangnya Portugis, Belanda, Spanyol dan Inggris ke Indonesia dilaksanakan kira-kira di Abad 15 akhir, yakni ketika peradaban Islam di Andalusia runtuh, dan sezaman dengan terebutnya Istanbul dari tangan orang Kristen Ortodoks yang juga menandai kehancuran Romawi timur (Byzantium) 

Mengapa Eropa datang ke Indonesia? Buku sejarah kita akan menjawab; mencari rempah-rempah. Sungguh itu jawaban yang memang benar, tapi bukan itu hakikat sebenarnya. 

Ini sangat berkaitan dengan politik Internasional yang sedang memanas di dunia saat itu, antara kerajaan-kerajaan Eropa yang selalu kalah di medan perang negerinya sendiri, kekuatan Utsmani yang makin lama makin kokoh apalagi setelah Konstantinopel direbut oleh Sultan Muhammad Al Fatih, hingga kepemimpinan Sultan Sulaiman Al Qanuni. 

Sementara di Indonesia, saat itu, telah terbentang kerajaan-kerajaan hebat yang memiliki pengaruh politik yang kuat. Nusantara adalah wilayah dunia yang sangat strategis; tempat bertemunya saudagar Arab muslim, pedagang Cina, bangsawan India, dan enterpreneur pribumi sendiri.  

Apa yang Eropa khawatirkan?

Mereka khawatir jika kekuatan politik kerajaan-kerajaan muslim yang berhubungan dengan Utsmani akan menjadi “The Second Andalusia.” Bahkan ada penulis Jerman, saya lupa namanya, menulis khusus tentang Indonesia, yang dikhawatirkan menjadi Andalusia kedua bagi umat Islam. Sebab peluang nusantara untuk sekaya dan semakmur Andalusia sangat besar.

Itulah mengapa, ketika d’Albuquerque –panglima Potugis- datang pertama kali ke Indonesia, ia berkata pada pasukannya, “jasa yang akan kita berikan pada tuhan dengan mengusir orang Islam dari negeri ini, adalah memadamkan api agama Muhammad, sehingga api itu tidak akan menyebar lagi sesudah ini, saya yakin itu. Jika kita rampas kekayaan mereka, niscaya Makkah dan Kairo akan ikut hancur.” (Hamid Algadri; Snouck Hurgronje, Politik Belanda Terhadap Islam dan Arab, 1984)

Dari tangga kedua ini, lagi-lagi kita menyimpulkan;
Walaupun kerajaan-kerajaan muslim terpisah antar wilayah di Indonesia, namun kekuatan masing-masing kerajaan sangat membuat gentar negara-negara katolik (Portugis dan Spanyol) dan protestan (Belanda dan Inggris). Sebagai contoh, satu kekuatan yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin di Makassar, berhasil menyaingi kekuatan laut portugis di laut Jawa. 

Tangga Ketiga; Saatnya Mengambil Estafet 

Saya tidak bisa bicara banyak tentang apa yang terjadi setelah belanda melebarkan cakarnya di segenap Nusantara, sebab itu sudah terlalu banyak yang membahas, dan buku juga sudah banyak dicetak. Di tangga ketiga ini, alangkah indahnya jika kita mempelajari betapa hebatnya kekuatan politik umat Islam setelah kerajaan-kerajaan jatuh oleh Belanda.  

Sjarikat Islam adalah bukti terbesarnya. Bayangkan ketika belum ada telepon genggam atau broadcast bbm, 1,3 juta pengurus Syarikat Islam begitu disiplin melaksanakan konferensi di kota masing-masing dalam satu waktu! Sjarikat Islam yang dipimpin Tjokroaminoto, bahkan mengurus haji, mengurus zakat dan pembagian uang baitul mal. Sekilas namanya hanya “syarikat”, namun sesungguhnya yang dilakukan Tjokro dengan SI-nya adalah megerjakan fungsi pemerintahan. Itulah mengapa Belanda menggelari Tjokro dengan sebutan “Raja Jawa tanpa Mahkota.” 

Muhammadiyah juga merupakan terobosan yang melampaui zaman. Aksi Ahmad Dahlan bukan saja memengaruhi segenap warga Yogyakarta. Beliau telah merintis, sejatinya, sistem pendidikan Islam Terpadu pertama di bumi Nusantara. Hanya dengan 7 ayat Al Maun sebagai basis gerakan, KH Ahmad Dahlan membangun Muhammadiyah dan seakan-akan hari ini ia seperti kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Pendidikan dalam satu waktu! 

Masih banyak lagi tentang hakikat sejarah politik di Indonesia. Saya takut keluar dari tema. Namun saya yakinkan pada teman-teman, semua pembahasan ini adalah tentang sejarah politik Islam di Indonesia; mulai dari kerajaan-kerajaannya yang bersingungan langsung dengan pemain politik internasional, kedatangan Eropa yang bermaksud mengguncang stabilitas politik islam di nusantara, hingga terbitnya ide-ide jenius SI, Muhammadiyah, Masjumi, NU yang melampaui zaman. 

Kesimpulannya; sehebat-hebat apapun musuh Islam ingin mengancurkan sendi-sendi peradadaban Islam, umat ini akan selalu mendapatkan momentumnya untuk bangkit. Sebab umat ini memang bisa saja sakit, namun umat ini tidak pernah mati.

Sumber :
https://edgarhamas.tumblr.com/post/168505692562/edgarhamas-disampaikan-dalam-diskusi-online

Post a Comment for "‘Sejarah Islam Indonesia’ Adalah ‘Sejarah Indonesia’ (disampaikan dalam Diskusi Online bersama Komunitas Literasi IPB)"