Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PENGARUH PROPAGANDA BARAT TERHADAP KAUM INTELEKTUAL

Oleh : W.Irvandi

Propaganda Barat telah berhasil mempengaruhi kaum pelajar/intelektual atau akademisi, para politikus, para pengemban Tsaqafah Islamiyah, sebagian pengemban dakwah Islam, dan mayoritas kaum muslimin.

Mengenai para akademisi/pelajar, sesungguhnya banyak dari mereka yang terpengaruh oleh kebudayaan Barat tatkala mereka mempelajari kebudayaan tersebut di Barat ataupun di negeri-negeri Islam sendiri. Ini disebabkan karena kurikulum pendidikan negeri-negeri Islam setelah Perang Dunia I, telah disusun atas dasar falsafah dan pandangan hidup Barat. 

Mereka tidak lagi bisa membedakan yang mana yang boleh diambil dan yang mana tidak boleh diambil. Memisahkan antara sains-teknologi dengan tsaqofah dan pemikiran tidak lagi dilakukan. 

Kondisi ini menyebabkan banyak dari kaum terpelajar yang akhirnya menggemari, menggandrungi, dan bahkan mengagung-agungkan kebudayaan Barat. Sebaliknya mereka mengingkari Tsaqafah Islamiyah dan hukum-hukum Islam jika bertentangan dengan kebudayaan, peraturan, dan undang-undang Barat. 
Sekolah Umum Pada Masa Hindia Belanda
Sumber www.padamu.com

Mereka pun akhirnya membenci Islam sebagaimana halnya orang-orang yang membenci Islam. Serta sangat memusuhi kebudayaan, peraturan, dan hukum Islam. Kaum terpelajar ini akhirnya menjadi corong-corong propaganda bagi peradaban, ide, dan peraturan Barat, sekaligus menjadi alat penghancur bagi peradaban, hukum, dan peraturan Islam. 

Mengenai para politikus, sesungguhnya mereka telah benar-benar mengikhlaskan dirinya untuk mengabdi kepada Barat dan peraturannya. Bahkan mereka meminta tolong kepada Barat dengan berbagai penilaiannya, mengandalkan bantuan dari Barat, serta menobatkan diri sebagai penjaga berbagai undang-undang dan peraturan Barat. 
Studi banding DPR ke Inggris - www.bbc.com

Para politikus juga dengan suka rela mereka mengangkat diri mereka sebagai orang-orang yang bertugas melestarikan kepentingan Barat dan menjalankan semua konspirasi dan undang-undang dari Barat. Mereka lah yang akhirnya membuat Undang-undang dan mencegah islam untuk diterapkan. 

Adapun para pengemban Tsaqafah Islamiyah, sesungguhnya mereka tidak lagi memiliki kesadaran terhadap Islam dan hakikat/realitas hukum-hukum syara', serta tidak menyadari pula hakikat peradaban, ide, dan peraturan Barat. Selain itu, mereka juga tidak mengetahui kontradiksi antara peradaban, ide, dan pandangan hidup Barat dengan aqidah, hukum, peradaban, dan pandangan hidup Islam. Mereka lupa bahwa islam harus diterapkan secara menyeluruh tidak sekedar perkara ritual belaka.

Kondisi tersebut terjadi karena taraf pemikiran kaum muslimin telah merosot sehingga mereka sangat lemah dalam memahami Islam dan hukum-hukumnya, serta telah salah paham dalam memahami cara penerapan syari’at Islam di tengah masyarakat. 

Akibatnya, Islam lalu ditafsirkan dengan pengertian yang tidak sesuai dengan kandungan nash-nash syara'. Demikian juga hukum-hukum Islam ditakwilkan agar sesuai dengan kondisi yang ada, bukan sebaliknya, yaitu mengubah kondisi yang ada agar sesuai dengan hukum-hukum Islam. 

Mereka lalu mengatakan bahwa peradaban dan ide-ide Barat tidaklah bertentangan dengan Islam dan hukum-hukum Islam, karena semua itu justru diambil dari peradaban Islam. Bahkan menyatakan bahwa ide demokrasi dan kebebasan individu itu berasal dari Islam.

Dengan demikian, muncullah ketidakjelasan dalam benak mereka mengenai apa-apa yang boleh diambil dari bangsa dan umat lain —seperti ilmu kedokteran, perikanan, matematika, kimia, pertanian, industri, peraturan lalu lintas, transportasi, dan perkara mubah lainnya yang tidak menyalahi Islam— dengan apa-apa yang tidak boleh mereka ambil, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan Aqidah Islamiyah dan hukum-hukum syara'.

Hal-hal yang berkaitan dengan Aqidah dan hukum tidak boleh diambil dari bangsa dan umat lain. Sebab, segala sesuatu yang berhubungan dengan aqidah dan hukum syara' hanya diambil dari wahyu yang dibawa Rasulullah, yaitu Al-Kitab dan As-Sunah, serta dalil-dalil syara' yang ditunjukkan keduanya yaitu Qiyas dan Ijma' Sahabat.

Para pengemban dakwah islam juga tidak lagi mengambil metode islam dalam melakukan dakwah dan perubahan. Mereka justru mengambil cara-cara Barat dalam meraih perubahan. Mereka telah ditipu bahwa demokrasi itu hanya sekedar alat/sarana untuk mencapai tujuan. Padahal demokrasi bukan alat/sarana melainkan sistem politik dan sistem hidup yang lahir dari sekulerisme. 

Begitu juga apabila para pengemban dakwah itu apabila telah berhasil meraih kekuasaan dan kepemimpinan kadang mereka terlena dan lupa untuk menerapkan islam, yang ada mereka berkompromi dengan sistem yang ada, atau terbuai dengan godaan dunia untuk sementara waktu. Kalaupun mereka berupaya menerapkan islam yang ada adalah mereka akan dijatuhkan dengan paksa melalui kudeta atau perang oleh Barat itu sendiri.

Sedangkan mayoritas kaum muslimin, di satu sisi sebagai korban, di sisi lain sebagai pelaku. Kaum muslimin dipengaruhi dan terpengaruh dengan ide, pemikiran dan kebudayaan dari Barat. Banyak di antara kaum muslimin yang hidup berdasarkan kehiduapan Barat. Mereka bangga dengannya dan bahkan menganggap kehidupan islam sesuatu hal yang kuno dan serta radikal. 

Ketidakjelasan islam dalam benak kaum terpelajar, para politikus, para pengemban Tsaqafah Islamiyah, sebagian pengemban dakwah Islam, dan mayoritas kaum muslimin inilah yang akhirnya menyebabkan Barat mampu menjajakan peradaban dan pandangan hidup mereka. Menyebarkan ide demokrasi dan kapitalisme, serta ide kebebasan individu di negeri-negeri Islam. Dan bahkan saat ini kaum muslimin yang menerapkan, menyebarkan serta mempertahankan propaganda Barat itu sendiri.

*Wallahu’alam*

Post a Comment for "PENGARUH PROPAGANDA BARAT TERHADAP KAUM INTELEKTUAL"