Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

JHON SUTEKI, RIWAYATMU MEMILUKANKU JHON

Oleh : Nasrudin Joha 

Jhon, ceritanya dirimu profesor hukum, punya tugas utama meruhanikan ilmu. Tapi apa yang kau terima John, justru fitnah, pencemaran, juga persekusi.

Jhon, dirimu mengajarkan pada murid-muridmu, di sebuah fakultas hukum bergengsi di Semarang, untuk menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan. Bahkan, unen-unen mu masih terus menggema : 'Hukum untuk manusia, bukan manusia untuk hukum'.

Jhon, lambemu sampai seperti lambe turah, berbicara berapi-api, berbusa-busa tentang hukum progresif. Namun sayang John, apa yang kau dapatkan ? "teaching progressive law, finding repressive law".

Dua puluh empat tahun lebih dirimu mengabdi, menelateni mendidik murid-murudmu diruang kelas, tentang nilai-nilai luhur Pancasila. Tapi, para Tiran akademis itu seenaknya menuding mu anti Pancasila, anti NKRI, radikal. Bahkan, memberimu sejumlah sangsi.

Para tiran akademis itu, bahkan memfitnah dan mencemarkan nama baikmu. Sebagai profesor hukum, sebagai warga negara yang tunduk dan taat pada hukum, dirimu membawa perkara ke kepolisian. 

Tapi apa yang terjadi John ? Dirimu dipingpong, murid-murid mu di kepolisian yang belajar hukum darimu, malah sibuk mengajari mu teori ini itu, tapi tak juga menerima aduanmu. Dirimu dipaksa, memahami sejumlah prosedur yang tak jelas, namun kesimpulannya tegas : laporanmu diambangkan. 

Ah Jhon, untung saja dirimu sabar. Tidak mencabut keris dan menyelesaikannya dengan cara ala perang mahabharata. Dirimu masih terus taat hukum, padahal para Tiran akademis itu tak peduli terhadap hukum.

Mereka, para tiran akademis itu begitu enteng menebar fitnah dan tuduhan. Tak mempedulikan akibat dari fitnah itu, pada dirimu, keluargamu, juga Bani facebookiyah yang setia Padamu. Karir hancur, rasa malu ditengah publik, oh Jhon sungguh Malang nian nasibmu.

Tapi percayalah Jhon, Tiran akademis itu bukan malaikat bukan Tuhan. Mereka hanyalah makhluk ringkih, yang merasa menjadi manusia super dengan kewenangannya. Becik ketitik olo ketoro. Para tiran akademis itu, pasti ngunduh uwohing pakerti.

Sementara itu Jhon, tetaplah yakin pada Tuhanmu yang telah menciptakanmu. Tuhanmu pasti menjagamu, tak mungkin menurunkan ujian tanpa memberikan pertolongan. Karena itu, cukuplah pertolongan Tuhanmu yang akan membela dan menyelamatkanmu.

Ah Jhon, dunia ini hanya panggung sandiwara. Pada saatnya, entah dirimu, diriku, atau para tiran akademis itu, akan menemui ajal. Terang saja, kita, aku dan dirimu menjemput ajal dan bertemu dengan Allah SWT, dalam keadaan tenang dan damai karena berada dalam koridor kebenaran.

Sementara tiran akademis itu, didunia diliputi kegalauan, ajal kematian merupakan gerbang kepedihan hakiki. Setiap kezaliman yang mereka timpakan, pasti akan kembali kepada mereka.

Jhon, dirimu adalah Jhon Suteki. Bukan Nasrudin Joha. Dirimu, jelas paham perlawanan di dunia ini juga mampu membuat mereka, para tiran akademis itu akan kepayahan menanggung beban. Karena itu, percayalah...sayatan sosmed Nasjo juga akan membantumu menguliti para tiran akademis, dan membuka seluruh borok dan aib-aibnya. [].

Komentar Profesor Suteki
Saya tidak tahu siapa itu Nasjo yang selama ini masiu menjadi misteri di dunia medsos. Saya tidak tahu juga kalau dia sempat melirik perhatian kepada saya. Tapi tentu saya tidak bisa GR karena saya pun tidak tahu Nasjo itu berjenis kelamin apa.
Yang jelas saya merasa tersanjung atas perhatian dan kepedulian terhadap nasib saya sebagai seorang ASN bergelar guru besar yang sedang merasakan ketidakadilan dan kedzaliman serta pembunuhan karakter atas tuduhan anti Pancasila, anti NKRI dan UUD 1945 tanpa melalui pembuktian yg layak, both side.
Nasjo, thanks a lot to you..!

Post a Comment for "JHON SUTEKI, RIWAYATMU MEMILUKANKU JHON"