Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

FORUM POLITIK ULAMA BANTEN PASCA PILPRES, MENAKAR ARAH PERJUANGAN UMAT ISLAM

Pada hari Ahad, 14 Juli 2019 diselenggarakan Forum Politik Ulama Banten di Serang. Dipandu oleh Ust. Dadan Hudaya, yang mengarahkan acara dan tujuannya sebagai pengintegrasian serta penyatuan fikiran dan langkah antar umat Islam menuju Cita-cita luhur perjuangan Islam. Selain itu, perumusan sikap atas fenomena politik yang terjadi di tengah kaum muslimin agar tidak terjadi salah langkah dan justru mengkaburkannya dari tujuan perjuangan Islam yang hakiki.

Acara dimulai dengan penyampaian pendapat dan sikap dari para audiens, terutama pada fokus problematika "Pasca Pilpres, kemana umat Islam akan melangkah?"

Hampir semua audiens antusias menyampaikan pendapat dan bahan diskusi, bahkan diskusi masih dilanjutkan setelah acara ditutup. Mereka menyampaikan bentuk pandangan dan tak sedikit kekecewaan multidimensi dari berbagai sektor yang dialami umat ini. Berikut berbagai pendapat sebagai bahan diskusi dari para peserta :

  1. Apakah kemerdekaan yg diperjuangkan oleh para kiai dan santri akan diserahkan pada Kapitalisme?
  2. Perjuangan butuh strategi yang disandarkan kepada ketaqwaan dan kedisiplinan mengikuti tuntunan Rasulullah, lantas seperti apa tuntunan Rasulullah Saw tersebut?
  3. Bagi Yg menjalani pendidikan di negeri ini akan mengakui bahwa mayoritas sumber pemikirannya dari barat. Salah satu contoh adalah Sistem ekonomi saat ini tidak dapat dipisahkan dengan ilmu ekonomi. Disinilah letak kesalahan fatal. Dengan demikian, ulama seyogyanya menjadi penyeimbang dan pengarah sesuai dengan syariat Islam. Semoga kedepannya Syariat Islam menjadi tuntunan, bukan tontonan.
  4. Berbagai Thoriqoh (metode) perjuangan sdh dilalui umat Islam. Tetapi hasilnya belum nampak juga. Kira2 thoriqoh yg pas utk kondisi di Indonesia seperti apa?


Sesi selanjutnya, Ust. Ismail Yusanto memaparkan pembahasan terkait bahan-bahan diskusi tersebut. Pada prinsipnya Umat Islam sudah bersama-sama mencapai kesepakatan bahwa politik adalah hal yg penting, karena menjadi pangkal kebaikan dan keburukan. Dari politiklah lahir kebijakan2 bagi masyarakat menyangkut ekonomi, sosial, politik, budaya dll.

Seluruh hidup Rasulullah adalah lembaran hidup perjuangan menuju penerapan Islam menjadi tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara. 

Fenomena politik saat ini merupakan kondisi yg belum pernah terjadi pada masa perjalanan sejarah kaum muslimin, yaitu kekosongan Khalifah. Saat ini kaum muslimin menjalankan sistem kehidupan demokrasi dalam politiknya. Demokrasi diterima oleh kaum muslimin melalui 3 varian dalih:
  1. Demokrasi dianggap bagian dari ajaran Islam;
  2. Demokrasi tidak bertentangan dengan Islam;
  3. Demokrasi bisa digunakan menjadi jalan perjuangan Islam.

Benarkah demokrasi  bisa menjadi jalan perjuangan? Kita bisa renungi pelajaran dari FIS (Aljazair), HAMAS (Palestina), Refah (Turki) dan akhirnya Ikhwanul Muslimin (Mesir). Yang terbaru dan terhangat adalah tragedi Pemilu kita. Demokrasi tidak akan memberi peluang perjuangan Islam terlebih yang memiliki tujuan tinggi.

Terlepas dari itu semua, pemilu 2019 merupakan pemilu paling bermuatan ideologis sepanjang sejarah pelaksanaan pemilu yaitu perjuangan perubahan menuju Islam. Dan ke depannya, sangat dimungkinkan politik belah bambu akan sangat mewarnai negeri ini. Ditambah lagi, akan terbentuk koalisi besar yang mana partai Islam akan dikucilkan dan diakhiri peran politiknya. Selain itu, akan dikembangkan pula pemikiran Islam Nusantara dengan istilah Islam Washatiyah yang sudah barang tentu maknanya dipelintir sedemikian rupa hingga menjauh dari makna yang digariskan Islam.

Lantas bagaimana kaum muslimin menghadapi permasalahan ini sekaligus menggapai cita-cita luhur perjuangan Islam?

Tentunya kaum muslimin mengharuskan metode perjuangannya mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Jika menilik pada shirah nabawiyyah, ada amal perjuangan Rasulullah Saw yang senantiasa dilakukan berulang-ulang demi mewujudkan tugas nubuwwahnya, yaitu :
  1. Kaderisasi yang dilakukan dan dipusatkan oleh Rasulullah Saw di rumah Arqam bin Abi Arqam. Melalui kaderisasi ini, rasulullah membentuk insan2 setaraf para shahabat yg masyhur, lengkap dengan semangat juang dan sikap rela berkorban untuk jalan dakwah.
  2. Nasyrul Fikr (penyebaran pemikiran) yang menyebar hingga pelosok-pelosok wilayah. Pada tahapan ini, pemikiran akan ditularkan kepada masyarakat. Pada dasarnya, setiap muslim akan memilih jalan hidup yang sesuai fitrahnya, dan inilah yang menjadi kunci utama dakwah pasti akan menyebar biidznillah. Islam adalah fitrah, maka dakwah Islam akan diterima agar fitrah manusia tidak terganggu.
  3. Tholab an-Nushrah, dimana Rasulullah Saw sebanyak 12 kali melakukan hal tersebut kepada ahlu nushroh dan ahlu quwwah. Dakwah tak hanya sampai level grassroot, melainkan kepada para pemangku kekuasaan dan kekuatan.

Jika merunut kebangkitan Islam dimulai sejak tahun 1980-an dan akhirnya kita melihat semangat umat kembali kepada Islam melalui gerakan 212, hal ini harusnya membuat kita gembira dan yakin bahwa kita sudah pada track yang benar. Jika sebelumnya umat terpecah akibat sentimen kelompok (sektarianisme), tetapi dengan berdakwah mengikuti thoriqoh Rasulullah Saw, tanda-tanda keberhasilan tersebut makin menampakkan hasil melalui Aksi Bela Islam 212 yang menghilangkan sekat sektarianisme menuju langkah cita-cita Islam bersama-sama umat.

Setelah bahan diskusi dipaparkan dan dibahas secara gamblang, host mempersilakan para audien menanggapi hasil paparan yang disampaikan oleh Ust. Ismail Yusanto.

KH. Jawari mengawalinya dengan statementnya yang tegas, Jika kriterianya pendukung Syariat Islam, pendukung poligami dan pejuang NKRI bersyariah adalah radikal, ketahuilah bahwa saya RADIKAL..... Dan disambut dengan takbir oleh para audiens.

Ust. Zufri selanjutnya menyampaikan tanggapannya bahwa persekusi thd Ulama, kedzhaliman oleh penguasa memang menuntut kesabaran tingkat tinggi. Dengan demikian, umat Islam harus memikirkan konsep perjuangan yg paling diridhoi Allah. Kekeringan berfikir, ketandusan iman inilah yg membawa umat Islam tidak istiqomah dalam jalur perjuangan yg dicontohkan Rasulullah Saw. Hal inilah yang mengharuskan kita memadukan persepsi dan memperbanyak kajian agar cara pandang kita berubah  ke arah ketaqwaan.

Selanjutnya ulama sepuh Ujung Kulon, KH. TB. Zamakhsari menyampaikan tanggapannya bahwa tragedi tsunami yang melanda selat sunda itu merupakan teguran Allah akibat kerusakan yg ditimbulkan oleh umat manusia seperti penerapan ekonomi ribawi, pemimpin dzholim dsb. Kerusakan2 tersebut belum pernah diperbaiki oleh bangsa ini, wajar negeri kita terus menerus dilanda musibah. Dengan demikian, untuk langkah perbaikannya ulama akan sami'na wa atho'na mengikuti arahan perjuangan yang harus dilakukan.

Selanjutnya, KH. Muhammad Muhdhor menyampaikan tanggapannya. Menurut Ulama Lebak ini, politik belah bambu yg dilancarkan penguasa menyebabkan terbelahnya bangsa ini menjadi pihak yg aman dan tidak aman. 

Ketahuilah!Sesungguhnya pihak pendukung penguasa itulah yg tidak aman, karena kelak akan mereka dapatkan rasa tidak aman itu ketika sudah bertemu Allah di Yaumil Akhir.
Alhamdulillah, acara Forum Politik Ulama kali ini membawa atmosfir perjuangan yang tinggi di kalangan ulama dan intelektual. Acara diakhiri dengan foto bersama dan bahkan ada ulama berniat memajangnya di rumahnya, sebagai bukti dan pengingat untuk tetap istiqomah di jalur perjuangan sesuai metode kenabian.

Post a Comment for "FORUM POLITIK ULAMA BANTEN PASCA PILPRES, MENAKAR ARAH PERJUANGAN UMAT ISLAM"