Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TRANSISI IDEOLOGI DAN GELOMBANG KESADARAN POLITIK ISLAM* _Proyeksi Masa Depan Indonesia Pasca Pemilu_


Kegaduhan masyarakat mewarnai  suhu politik pasca pemilu 2019 di negeri ini. Semua kegaduhan dipicu oleh hasil QC (Quick Count) oleh lembaga-lembaga survey yang disinyalir justru menjadi bagian dari pendukung salah satu calon presiden. Jika benar demikian faktanya, maka lembaga-lembaga survey itu ibarat tukang sihir di zaman fir’aun yang rela jadi budak rezim demi perut. Lembaga survey yang tidak obyektif adalah bagian dari pelacuran dan pengkhianatan intelektual yang menyesatkan masyarakat. 

Sejalan dengan teori lenin yang mengatakan bahwa kebohongan yang diajarkan terus-menerus di kemudian hari akan dianggap sebagai sebuah kebenaran. Fenomena ini disebut post truth, dimana kebenaran adalah wacana yang direkayasa, bukan berdasarkan fakta. Zaman yang penuh tipu daya dan fitnah ini kini tengah berlangsung di negeri ini. 
Ironisnya lagi adalah ketika media-media meanstream justru menayangkan hasil QC yang dirilis sebagai acuan hasil pilpres. Padahal yang berwenang mengumumkan hasil pemilu adalah KPU. Sementara KPU mengalami distrust juga dari masyarakat karena dinilai tidak netral dan bahkan salah input di berbagai daerah. Sepanjang pemilu, mungkin pemilu 2019 adalah pemilu terburuk sepanjang sejarah. 

Pemilu ibarat pentas wayang, ada wayang yang dikendalikan oleh dalang dan ada penonton yang menikmati pertunjukkan itu. Dalam ideologi demokrasi yang notabene adalah ideologi transnasional dari Barat, maka pemilu pasti mendapat intervensi dari negara-negara pelopor demokrasi. Selain Amerika, kini China juga mulai merangsek ke negeri ini. 

Sokrates menegaskan bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang anarkis, memberikan kesetaraan yang sembrono kepada siapapun, baik setara maupun tidak setara. Demokrasi memberikan ruang kebebasan tanpa batas. Anarkisme demokrasi  akan berujung kepada kekuasaan tirani. 

Indonesia adalah negara pembebek yang dikendalikan oleh Amerika dan China. Pemilu hanyalah ajang untuk pertarungan pengaruh kedua negara penjajah itu. Dalam perspektif ini, sungguh Indonesia hanyalah jadi kacung negara lain, tidak merdeka dan tidak berdaulat. Tepatlah jika dikatakan, Indonesia adalah bonekanya boneka. 

Indonesia, kini dilingkupi oleh kondisi yang penuh fitnah dan tipu daya. Kondisi ini bahkan telah disebutkan oleh Rasulullah sebagai tahun penih fitnah dan tipu daya dengan lahirnya pemimpin ruwaibidhah.  Banyak komponen sosial politik yang terlibat dalam membangun zaman penuh tipu daya di negeri ini. 
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : Sungguh akan datang kepada manusia tahun-tahun yang sangat menipu. Para pendusta pada zaman itu dianggap sebagai orang yang jujur. Sementara orang jujur dianggap sebagai pendusta. Para pengkhianat pada zaman itu dipercaya, sementara orang-orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada zaman itu pula ruwaibidhah banyak berbicara. Rasulullah ditanya, “ Siapakah ruwaibidhah itu ya Rasulullah ?”. Rasulullah menjawab, “ Orang bodoh yang membicarakan urusan manusia”. 
Disatu sisi, gerakan kesadaran dan kebangkitan umat Islam di Indonesia sepanjang tiga tahun ke belakang adalah fenomena luar biasa. Aksi 212 yang menghadirkan 7 juta umat Islam dengan damai dan kritis adalah bukti kesadaran politik Islam telah tumbuh kuat di tubuh umat Islam. Tumbangnya ahok karena tersandung kasus pelecehan  Al Qur’an telah melahirkan gelombang opini umat tentang tolak pemimpin kafir. Politik identitas tumbuh subur sebagai indikasi bangkitnya kesadaran politik Islam. Namun ideologi demokrasi akan terus membungkam kebangkitan umat ini. 

Adalah sunnatullah dalam sejarah perjalanan perjuangan Islam, makin dihadang, makin bergelombang. Alih-alih dihentikan dengan fitnah keji, umat justru menjadi tersadarkan dan mengenal lebih jauh salah satu ajaran Islam ini. Keputusan politik atas HTI justru melahirkan berbagai kecaman masyarakat sebagai tindakan diktator atas hak-hak warga negara. Sepanjang persidangan, pemerintah tidak bisa membuktikan kesalahan HTI secara hukum. Wajar jika masyarakat luas menilai tindakan pemerintah sebagai keputusan politik yang buruk, represif dan anti Islam. 

Dimata Greg Fealy, seorang pakar politik Australian National University (ANU) dalam wawancaranya dengan tirto.id menyatakan bahwa keputusan politik rezim Jokowi membubarkan HTI adalah hal yang buruk.  Menurutnya, Jokowi telah menggunakan negara untuk melarang dan menindas oposisi Islam. 

Tony Blair dihadapan partai buruk pernah berucap, “ Kita sesungguhnya sedang menghadapi sebuah gerakan yang akan melenyapkan negara Israel dan mengusir Barat dari dunia Islam dan menegakkan daulah Islam tunggal yang akan menjadikan syariah Islam sebagai hukum di dunia Islam melalui penegakan khilafah bagi segenap umat Islam”.  

Istilah khilafah yang sepanjang kampanye pemilu menjadi buah bibir didefinisikan sebagai kepemimpinan umum bagi kaum muslim secara keseluruhan di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syara’ serta mengemban dakwah Islam keseluruh dunia (Syeikh Abdul Majid Al-khalidi, Qawaid Nidzam Al Hukum fii Al Islam, hal 238)

Dalam sejarah perjuangan para Rasul, makin mendapatkan tekanan dari rezim penguasa, justru dititik itulah kebangkitan dan kejayaan Islam semakin dekat. Kemenangan perjuangan dakwah Nabi Musa justru hadir disaat rezim fir’aun di puncak kekuatannya, sementara Nabi Musa lemah dan terzolimi. Disaat Rasulullan dalam kepungan pengejaran kaum kafir Quraisy, disaat-saat genting itulah, justru Allah menjajikan bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat. 

Secara esensi kesadaran politik Islam mencakup tiga aspek. Pertama, aspek kesadaran akan urusan umat dan rakyat. Kisah 25 Nabi adalah fragmen upaya mengatur  masyarakat dengan nilai Islam sebagai tata aturan kehidupan  melalui  dakwah  dan perjuangan, dari Nabi Adam hingga tegaknya Daulah Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah Muhammad SAW . Sebab semua Nabi adalah muslim, tidak berbeda agamanya  (QS 2 : 136 dan QS 3 : 84). Hanya ajaran Islam yang dibawa oleh seluruh Nabi 

Kedua, aspek sudut pandang yang khas yakni Islam sebagai landasan kesadaran politik. Pertarungan politik di dunia dan di Indonesia sesungguhnya adalah pertarungan tiga ideologi besar dunia, yakni Islam, kapitalisme demokrasi  sekuler  dan komunisme, sosialis ateis. Lihat pertarungan Nabi Musa dengan Fir’aun, Rasulullah dengan Abu Jahal dan peristiwa runtuhnya khilafah di Turki 1924. 

Ketiga, aspek sudut pandang global, dimana konstalasi politik di Indonesia adalah bagian dari dinamika politik dunia. Dalam hal lawan politik Islampun, musuh Islam adalah penjajahan Barat. Dalam hal menghadapai perlawanan senjata terhadap penjajah Barat, Indonesia berhadapan dengan negara imperialisme Barat : Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, dan Inggris . Perlawanan ini menjadi tonggak sejarah Islam (umat Islam) di Indonesia, bukan hanya sebagai sejarah lokal, namun merupakan sejarah internasional.  

Ketika sebagian kalangan muslim karena jeratan sekulerisme dan liberalisme meragukan khilafah, ternyata orang-orang Barat justru begitu yakin akan berdirinya khilafah dalam waktu dekat. Adalah Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Inteligent Council/NIC) pada Desember 2004 merilis laporan dalam bentuk dokumen yang berjudul Mapping The Global Future.  “A New Caliphate provides an example of how a global movement fueled by radical religious identity politics could constitute a challenge to Western norms and values as the foundation of the global system” [Maping The Global Future: Report of the National Intelligence Council’s 2020 Project] 

Dokumen ini berisikan prediksi atau ramalan tentang masa depan dunia tahun 2020. Dalam dokumen tersebut, NIC memperkirakan bahwa ada empat hal yang akan terjadi pada tahun 2020-an yakni: (1) Dovod World: Kebangkitan ekonomi Asia; Cina dan India bakal menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia. (2) Pax Americana: Dunia tetap dipimpin dan dikontrol oleh AS. (3) A New Chaliphate: Kebangkitan kembali Khilafah Islam, yakni Pemerintahan Global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat. (4) Cycle of Fear: 

Muncul lingkaran ketakutan (phobia), yaitu ancaman terorisme dihadapi dengan cara kekerasan dan akan terjadi kekacauan di dunia—kekerasan akan dibalas kekerasan. Dari dokumen tersebut jelas sekali bahwa negara-Negara Barat meyakini bahwa Khilafah Islam akan bangkit kembali. Menurut mereka, Khilafah Islam tersebut akan mampu menghadapi hegemoni nilai-nilai peradaban Barat yang kapitalistik sekuleristik.

Mengacu kepada aspek normatif, historis dan empirik, maka sejak pemilu 2019 hingga 2024 adalah masa paling krusial dalam perubahan dan transformasi peradaban dunia, yakni adanya masa transisi ideologi dan tegaknya kembali supremasi politik dan hukum Islam dengan tegaknya daulah Islam sedunia yang telah dijanjikan Allah dan telah diprediksi oleh Barat. Ideologi demokrasi akan mengalami kehancuran dan tak lagi mendapat kepercayaan umat sedunia karena terbukti berbohong dan hanya menyengsarakan umat Islam sedunia.  

Umat Islam harus yakin dan berani untuk terus melakukan delegitimatisasi demokrasi hingga roboh berkeping-keping. Gelombang kebangkitan umat Islam sedunia akan menuntut adanya perubahan sistem, dari hegemoni demokrasi menjadi hegemoni Islam. Dengan demikian, khilafah sebentar lagi tegak yang akan menyatukan umat Islam sedunia, menerapkan syariah Islam kaffah dan akan menebarkan dakwah rahmatan lil’alamin ke seluruh penjuru dunia. 

Tunggu apa lagi, saatnya mengambil peran perjuangan untuk menyambut kemenangan Islam akhir zaman ini. Jangan sampai menjadi penghalang Islam seperti orang kafir dan menjadi pecundang Islam seperti orang-orang munafik. Catatlah sisa umur kita sebagai pejuang Islam, hingga Islam tegak di muka bumi, atau ajal menjemput sebagai husnul khotimah. 

Ya Allah, saksikan, saya telah menyerukan pesan dakwah ini agar umat Islam bersatu seluruhnya, menegakkan Islam kaffah dan menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia dibawah institusi khilafah Islamiyah. Semoga kita masih menyaksikan kemenangan agama Allah ini dan menjadi salah satu pejuangnya. Amiin. 

*[AhmadSastra,KotaHujan,22/04/19 : 11.10 WIB]*

Post a Comment for "TRANSISI IDEOLOGI DAN GELOMBANG KESADARAN POLITIK ISLAM* _Proyeksi Masa Depan Indonesia Pasca Pemilu_ "