Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TAK USAH KAU AJARI KAMI UNTUK MELINDUNGI ORANG KAFIR!


Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Orang-orang liberal memang suka mencari sensasi, ingin selalu tampil beda dengan yang lainnya. Di saat mayoritas umat Islam semangat mendakwahkan kebenaran Islam, mereka justru menyatakan bahwa semua agama sama. Ketika umat Islam meyakini akan kekafiran orang-orang di luar agamanya, mereka justru bersuara bahwa tidak ada orang kafir di Indonesia.

Secara psikologis mereka tampak jumawa, seolah merekalah yang mempunyai intelektualitas di atas rata-rata. Merasa paling paham sejarah, paling mengerti dalil-dalil syara’ dan paling mumpuni memahami kontekstualitas yang ada.

Hal tersebut paling tidak bisa dilihat dari sikapnya yang keras kepala, anti kritik dan merasa paling toleran dengan pandangannya. Siapa saja yang berani mengkritik keputusan mereka akan disebut juhala, tak peduli sekalipun yang mengkritik juga adalah para senior sendiri di organisasinya.

Lebih lucunya lagi, mereka yang ingin selalu tampil beda justru mereka sendiri tidak siap dengan berbagai kritik yang diterimanya. Baperan. Orang yang menentang dianggap membenci organisasinya, yang mengkritik dianggap membuli kiainya. Tokoh-tokohnya disetarakan dengan dewa yang tidak boleh ada orang yang membantahnya sekalipun keputusan-keputusannya keluar dari nalar dan logika.

Didebat dengan ayat mereka bilang jelaskan juga dengan hadits, ditunjukan hadits mereka bilang tafsirkan juga dengan kitab-kitab kuning para ulama, diberi qoul para ulama mereka bilang sekarang ini jamannya sudah berbeda. Eh... mentok-mentoknya plang lalu lintas di jalanan Arab Saudi mereka jadikan pedoman. Begitulah, mereka menggunakan dalil-dalil agama hanya untuk membenarkan syahwat dan logikanya.

Mereka gugat ayat larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, mereka lawan ayat yang menegaskan bahwa hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar, mereka permasalahkan ayat yang mengkafirkan orang-orang yang tidak seakidah dengan Islam, mereka tentang ayat yang mewajibkan tiap-tiap muslimah wajib menutup auratnya. Semua dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.

Jika saja bukan Allah swt. sendiri yang menjaga kemurnian Al-Qur’an, niscaya Kitab suci ini sudah bernasib sama sebagaimana Taurat dan Injil Nasrani, ayat-ayatnya banyak yang dirubah, ada yang dihilangkan dan ada juga yang ditambahkan, sesuai dengan selera dan pesanan para penguasa. Kemukjizatan Al-Qur’an telah menjadikan mereka hanya berputar-putar pada pendistorsian maknanya, tidak bisa untuk ayatnya.

Orang-orang yang membela Al-Qur’an dan memperjuangkan syariat Islam mereka tuduh sebagai kelompok intoleran. Sementara mereka sendiri yang menentang hukum-hukum Al-Qur’an mengaku sebagai pejuang toleransi dan kemanusiaan. Hawa nafsunya mengatur Al-Qur’an, bukan Al-Qur’annya yang mengatur hawa nafsu.

Mereka buta dengan data dan fakta. Jika memang kami intoleran, niscaya sudah tidak ada lagi orang kafir di negeri ini. Jika memang kami radikal, niscaya banyak orang non muslim yang mati bergelimpangan di jalan-jalan. Aksi-aksi besar di Jakarta (termasuk aksi 212) adalah buktinya, bahwa betapa kami melindungi orang lain yang tidak seagama, baik pribadinya maupun tempat usahanya.

Entah sampai kapan mereka menuduh kami radikal. Realita yang tampak di depan mata tidak mengurungkan fitnah mereka kepada kami yang sedang memperjuangkan tegaknya aturan-aturan agama. Mereka terus menuduh kami teroris dan radikal, padahal kami sudah terbukti selalu membawa kedamaian dalam setiap aksi-aksi besar yang dilakukan.

Mereka terlalu pede mengajarkan kami toleransi, terlalu pede mengajarkan kami perdamaian. Padahal mereka sendiri yang selalu menyulut kegaduhan dengan sikapnya maupun dengan tutur katanya yang disampaikan. 

Seharusnya tidak usahlah mereka seperti itu. Kami sudah tau sendiri apa itu toleransi, tanpa harus cari muka kepada penguasa. Kami sudah tau sendiri bagaimana memperlakukan orang-orang yang berbeda secara akidah, tanpa harus membenarkan semua agama.

Tidak usah lagi kau ajarkan kami tentang toleransi. Kami sudah mengerti semua itu. Kami justru sudah lebih menjadi pemberi bagi mereka, bukan menjadi peminta-minta atas mereka.

#Alumni212
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 5 Maret 2019

Post a Comment for "TAK USAH KAU AJARI KAMI UNTUK MELINDUNGI ORANG KAFIR!"