Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SEBUTAN KAFIR: HARUSKAH DIHILANGKAN?


Oleh: Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum.

Hi my friendz, Met tanggal 1 Maret...
Di awal bulan ini ada "isu nasional" yang menurut saya perlu segera disikapi. Isu ini yaitu tentang permintaan agar Non-Muslim Indonesia tidak disebut kafir. Benarkah permintaan itu dan haruskah dikabulkan baik oleh negara maupun masyarakat?

Kita sebenarnya tidak perlu risau kalau berpegang teguh pada IMAN dan RUKUN IMAN sebagai basis atau fondamen manusia dalam beragama. Alloh sebagai PENCIPTA secara tegas telah memberikan PETUNJUK  tentang bagaimana hidup, tujuan hidup serta kehidupan pasca kematian. Secara singkat Alloh memberikan PILIHAN kepada manusia apakah manusia ingin hidup BERIMAN atau INGKAR. BERIMAN berarti "yakin" terhadap keberadaan:

1. Alloh, itu WUJUD dan ESA (tidak menyekutukannya)
2. Malaikat 
3. Kitab yang diturunkan Alloh (Zabur, Taurat, Injil dan Alquran)
4. Rasul utusan Alloh (terakhir Rasul Muhammad)
5. Takdir 
6. Hari Akhir (Kiamat)

Sebenarnya sederhana saja mikirnya, kita termasuk yang meyakini ke enam RUKUN IMAN itu apa tidak? Kalau manusia meyakini dalam hati, mengucapkan secara lisan dan mengamalkannya dalam perbuatan, manusia itulah yang disebut BERIMAN. Sebaliknya mereka yang tidak meyakini dalam hati, tidak mengucapkan secara lisan dan tidak mengamalkan dalam perbuatan, manusia itu disebut INGKAR. INGKAR itu artinya TIDAK MAU MENERIMA atau MENUTUPI DIRI. 

Bahasa Arab yang sesuai dengan makna menutup diri itu disebut KAFARO atau orangnya disebut KAFIRUN atau KAFIR. Simpel kan? Menjadi tidak simpel kalau sudah dibawa-bawa kepada ranah KEPENTINGAN MANUSIA. Manusia cenderung menuruti hawa nafsunya, lebih sempit lagi mengikuti PERASAANNYA padahal PETUNJUK ITU sudah terang. 

Petunjuk itu ada di mana? MANUAL PROSEDUR atau apapun namanya untuk mengoperasionalkan KEHIDUPAN MANUSIA itu ada pada KITAB PETUNJUK HIDUP yang tidak lain adalah KITAB SUCI sebagaimana disebutkan tadi. Kitab suci terakhir yang diturunkan Alloh Tuhan SEMESTA ALAM adalah AL QURAN. Kalau manusia meyakini Alloh sebagai Tuhan semesta alam, maka nalar manusia itu pasti akan berpikir bahwa kitab yang seharusnya ia yakini adalah kitab terakhir sebagai kitab yang "menyempurnakan dan menggenapi" kitab sebelumnya. Jadi, Al Quran itu sejatinya diturunkan untuk SELURUH UMAT MANUSIA sehingga VISI yang dibangun adalah RAHMATAN LIL 'ALAMIN. Itu saya kira cara bernalar yang sehat. 

Al Quran sendiri sebagai firman Alloh telah secara tegas menyatakan dan menyebut siapa sih manusia yang disebut BERIMAN dan KAFIR dengan sekaligus disertai KARAKTERISTIK-nya. Lalu apa kewenangan kita untuk menentukan sendiri istilah yang sebenarnya sudah ditentukan oleh Alloh melalui firman-Nya? Sematan berupa kata IMAN, KAFIR, MUNAFIQ, FASIQ dan lain-lain itu sudah dari "sono"-nya begitu bukan? Apa sebagai orang beriman PANTAS kita memprotes firman Alloh untuk kita paksa-paksa mengikuti kemauan kita?

Dalam kehidupan yang memang diciptakan Alloh beragam, sebenarnya tidak ada masalah orang mau menjadi IMAN, KAFIR, MUNAFIK, atau FASIK. Itu semua pilihan hidup tetapi memang harus mengetahui konsekuensinya dalam HUKUM ALLOH. Tidak bisa semaunya bertindak dalam koridor hukum Alloh. Secara sosial dan kenegaraan orang iman atau kafir memiliki kedudukan yang tidak jauh berbeda tergantung hukum apa yang dipakai. Di Indonesia dgn hukum yang cenderung sekuler tentu saja tidak ada perbedaan perlakuan terhadap siapa pun termasuk kepada orang yang bila dinilai dari RUKUN IMAN adalah INGKAR atau KAFIR. 

Lalu apa tindakan yang bijak kita? Menurut saya ya kembalikan pada konsep masing-masing agama dengan tetap mengutamakan penghormatan kepada sesama manusia. Secara formal kita tidak perlu melarang atau menganjurkan penyebutan KAFIR tetapi secara informal dalam keagamaan penyebutan itu tidak boleh dilarang karena penyebutan itu memang sudah ditentukan oleh Alloh melalui firman-Nya. Ingin tidak disebut kafir dengan segala karakteristiknya? Jawabnya singkat: BERIMAN-lah! Kalau tidak mau beriman, tetap dalam keadaan kafir, maka yakinlah bahwa hak-hak orang kafir pun tetap dijamin dan dilindungi bahkan tidak boleh didholimi oleh siapa pun. Itu garansi kehidupan menurut MANUAL PROSEDUR kehidupan orang beriman. Aman bersanding dengan orang beriman. 

Bagaimana, mau lebih mengikuti mengikuti petunjuk yang bersumber dari: 
1. Hawa nafsu manusia yang dipenuhi kepentingan duniawi yang sangat profan? 
2. Firman Alloh yang dijamin kebenarannya, tidak ada keraguan di dalamnya?

Pilih yang nomer 1 ataukah nomer 2?

Post a Comment for "SEBUTAN KAFIR: HARUSKAH DIHILANGKAN?"