Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KEKHALIFAHAN AKAN JADI NEW NATION STATE (Wawancara Khusus majalah sabili 19/XVI Abdullah Mahmud Hendropriyono, Mantan Kepala BIN)

Sumber :  Majalah Sabili Edisi 19/XVI Maret 2009

Tatanan liberal-kapitalistik rupanya benar-benar telah mencengkram kita, bahkan dunia. Sistem politik yang demokratis, ujung-ujungnya juga berada dalam genggamannya. Para kapitalis dan konglomerat yang menguasai sebagian besar aset di sebuah negara bahkan di beberapa negara, dengan uangnya, bisa mengendalikan segalanya, termasuk sistem negara-bangsa. Ini tak hanya terjadi di negara berkembang, di negara maju pun kondisinya sama.


Itulah petikan pemikiran AM Hendropriyono. Meski tak lagi menjabat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), ia tetap memiliki kesibukan yang tinggi. Beberapa waktu lalu, penerima Bintang Dharma, Satya Lencana Bhakti, untuk luka-lukanya di medan tempur ini, sempat diundang dalam sebuah diskusi di Malaysia, berbicara tentang masa depan nation state. Menurutnya, pada masa yang akan datang, akan muncul nasionalisme baru khususnya di negara-negara berkembang.

Kepada Wartawan Sabili Dwi Hardianto dan Chairul Akhmad serta fotografer Arief Kamaludin, mantan Panglima Kodam Jaya tahun 1993 ini menuturkan pandangannya terkait new nation state, militansi, terorisme, dan kekhalifahan. Berikut petikannya:

Apakah Indonesia lebih cocok dipegang militer daripada sipil?
Sebetulnya tidak. Negara berkembang umumnya masih membutuhkan kharisma seorang pemimpin. Kharisma itu biasanya melekat pada orang yang militan. Tapi orang militan belum tentu militer. Banyak tentara yang tidak militan, tapi banyak juga orang sipil yang militan. Misalnya, Jenderal Sudirman, dia guru Sekolah Rakyat, tapi militansinya luar biasa. Ia menjadi laskar pejuang bersama rekan-rekannya dari Muhammadiyah, tempat saya dulu sekolah. Kemudian ia dipilih secara demokratis menjadi Panglima Besar TNI, padahal tentara profesional saat itu cukup banyak. Begitu juga dengan Bung Karno, Fidel Castro, Saddam Hussein. Marcos dan Mao Tze Dong. Yang dari tentara ada Muammar Qaddafi dan Gamal Abdul Naser.

Apakah militansi masih diperlukan di negara kita?
Di negara berkembang, masyarakat kagum dengan orang yang berjiwa militan, tegas dan jelas arahnya. Masyarakat negara berkembang umumnya masih paternalistik. Jadi pemimpinnya harus memberikan kejelasan, pengarahan yang tegas, cepat dan tepat pada rakyat. Tegas itu bukan kasar. Walaupun sambil senyum, ia bisa mengatakan hitam itu hitam, putih ya putih, seperti (alm) Pak Harto. Selama saya menjadi staf dan menterinya, beliau tak pernah marah. Kalau marah, kelihatan dari mukanya. Yang saya tahu, kalau Pak Harto marah, orang yang dimarahi tak lama pasti diganti.

Bapak dulu sekolah di Muhammadiyah?
Iya, di Muhammadiyah Jakarta. Waktu kelas 3 pindah ke SMP 5 biar bisa masuk SMA Negeri. Dulu tak seperti sekarang, dari sekolah Muhammadiyah, al-Irsyad, dan sekolah Islam lain tak bisa masuk negeri. Sekolah saya di Jl Garuda 33 Kemayoran, sebelah Perguruan Taman Siswa, tempat sekolahnya Benyamin. Nanik Wijaya itu juga teman saya.

Kenapa jadi tentara?
Bapak saya pejuang kemedekaan. Tahun 1948 pindah ke Jakarta. Setahun kemudian kena tembak, tapi selamat. Kemudian pindah menjadi PNS. Terakhir di Kementerian Agraria. Waktu saya kecil, banyak prajurit datang ke rumah saya. Kebetulan ayah dekat dengan kolonel Abimanyu dan Kasman Singodimejo, tokoh Masyumi. Awalnya, Bapak masuk PNI, pindah ke Masyumi, kemudian keluar lagi, karena pusing, ribut semua. Bapak juga cerita, negeri kita baru merdeka tapi diacak-acak Amerika, karena sejak 1956 Bung Karno merapat ke Soviet, khususnya langkah nasionalisasi. Amerika bertanya, siapa itu Sukarno? Perusahaan asing milik Belanda habis diambil alih. Jika merujuk buku sejarah, cerita ini tak sama. Bapak bilang, tentara paling benar, bukan partai politik. Dari sinilah, saya memutuskan jadi tentara, meski ibu menginginkan saya jadi dokter. Pesan bapak, saya harus siap, sekali fight harus benar-benar, jangan jadi politikus.

Pandangan Anda soal terorisme?
Ilmu harus dikejar meski sampai ke negeri Cina. Pepatah Cina mengatakan, untuk mengetahui musuh perlu seribu kali perang seribu kali menang. Makanya, kita harus membersihkan diri sendiri baru berhadapan dengan musuh. Kalau tidak, diri kita dimanfaatkan musuh untuk menghancurkan dari dalam. Karenanya, saya melihat, teroris itu perlu dibersihkan terlebih dulu, karena keberadaan mereka lebih besar mudharatnya ketimbang manfaatnya bagi perjuangan umat Islam di dunia internasional. Jika kita tidak membersihkan diri, semuanya bisa dianggap teroris. Anggapan selanjutnya adalah agama kita adalah agama teroris. Coba perhatikan, perkembangan umat Islam di dunia paling cepat terjadi di Amerika. Bukan hanya kulit hitam, bule-bulenya juga ikutan. Karenanya, harus tertanam dibenak masyarakat internasional bahwa kita bukan teroris. Kita justru menghantam teroris, kamu yang teroris.

Kenapa Umar Faruq diserahkan ke Amerika?
Umar Faruq itu dari luar masuk ke Indonesia, kita tak tahu dia siapa. Yang kita tahu ia masuk bagi-bagi senjata, korban tewas bukan hanya non Muslim, yang Muslim pun banyak yang meninggal. Jadi apa maksudnya membagikan senjata di daerah konflik? Jika untuk dididik dengan benar dan jelas, akan beda hasilnya. Berapa kali saya bilang, tangkap atau suruh keluar. Karena perintah saya sudah dipublikasikan, tapi tidak tertangkap-tangkap juga, saya kesal. Ya sudah, dia yang kita ambil karena yang lain sudah lari. Sejak itu, banyak yang marah pada saya, padahal mereka tidak mengerti persoalannya. Saya punya bukti. Ada saksi, dokumen, dan filmnya. Apakah kita mau diadu seperti ini biar pada mati semua? Saya juga ungkapkan semuanya di DPR, saya kasih foto-fotonya. Tapi yang menyerang saya bukan hanya sesama Muslim, ada juga anggota dewan yang non-Muslim ikut-ikutan marahin saya. Akhirnya saya bilang, sekarang bapak-bapak saja gantiin saya di sini. Tiap hari ada saja yang mati, dan yang paling banyak justru orang Islam.

Ada yang mengatakan, informasi tentang Umar Faruq itu dari Amerika?
Itu salah besar. Yang melapor pada saya namanya As’ad. Kita memang melakukan pengecekan ke sana, ternyata dia paling dicari oleh Amerika. Jika kita biarin, dikira kita yang teroris nanti. Padahal kita tak tahu apa-apa. Di sini orang salah pahamnya. Saya berprinsip, mengkhianati apa saja itu tidak benar, apalagi mengkhianati agama sendiri. Saya tidak mau jadi penghuni neraka. Sekarang mereka sudah tahu, bahwa ternyata umat Islam yang dirugikan dengan cara berjuang seperti itu. Ini kan kontra produktif buat kita.

Berarti kita tunduk pada kepentingan Amerika?
Jika kita membersihkan diri sendiri bukan berarti membela Amerika. Sama seperti Adam Malik yang membersihkan Komunis. Waktu itu, Amerika benci Komunis dan takut sama Rusia. Di negeri ini yang punya akses, ya, Adam Malik. Akhirnya ada kerjasama intelijen. Intelijen tidak harus orang intel. Siapa saja bisa. Kerjasama internasional menghadapi musuh bersama itu biasa. Ternyata Adam Malik dibilang orang CIA. Susah juga. Itu pandangan picik.

Maksudnya picik apa?
Dalam diskusi di Lemhanas, saya contohkan: Amerika dulu membenci Cina. Begitu kelihatan Cina bermusuhan dengan Rusia, Amerika lebih membenci Rusia. Nixon pun terbang ke Cina, menjalin kerjasama. Itu sebabnya, Cina tak jadi mendukung Indonesia melawan Inggris pada peristiwa Dwikora, “Ganyang Malaysia”. Bukan berarti ganyang orang Malaysia, tapi proyek Malaysia yang dibuat Inggris. Awalnya, proyek ini mau dimintakan pendapat rakyat Serawak, mau berdiri sendiri atau bergabung dengan Malaysia. Pendapat rakyat belum selesai, Menteri Besar Serawak, mengumumkan bahwa rakyat Serawak setuju masuk Malaysia. Sukarno marah. Dibentuklah Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) yang dipimpin Abang Kifli. Di Serawak juga ada kekuatan sendiri, namanya Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) berhaluan kiri, Komunis. Sukarno didukung Jenderal Nasution, tentara islami. Cina tak jadi bantu karena distop Amerika, akibatnya Inggris tak jadi nyerah, padahal sudah mau nyerah. Ini diceritakan Wong Kicok, Panglima PGRS, ketika ketemu saya di Singapura.

Inggris mau menyerah pada kita?
Iya. Inggris tidak tahan melawan kita, karena Singapura di-cut dengan 12 kapal selam. Tapi semuanya berubah, kita diacak-acak Inggris dan Amerika karena kita sibuk menghadapi G 30 S PKI. Dalaman kita pun gerowong. Yang kedua, front terdepan yakni Cina tak jadi membantu karena didekati sama Nixon. Kita cuma bersandar pada Soviet. Sementara Soviet sibuk menghadapi perang dingin dengan Amerika.

Kabarnya, Anda pernah dipersulit masuk Amerika?
Betul. Karena nama saya Abdullah Mahmud, meski ada visa, masih disuruh minggir. Imigrasi Amerika tanya, kenapa baru sekarang datang padahal visanya dikeluarkan sejak tanggal sekian. Saya bilang, ini pertanyaan bodoh, yang jadi korban teroris itu bangsa kami, bukan kamu. Kamu cuma sekali saja. Saya telpon kedutaan besar akhirnya, lewat. Itulah pragmatisme, kita berjuang untuk kita sendiri. Dia memanfaatkan kita, setelah selesai, dia tak membutuhkan kita lagi. Buktinya, saya saja diperiksa ketat apalagi yang bukan saya.

Mungkinkah kita kembali disegani?
Mungkin. Jika kita bersatu, memiliki kebijakan politik dan kekuatan yang jelas, tentara kuat, kemudian melakukan diplomasi, terlibat dalam International Court of Justice kita akan diperhitungkan. Bagaimana bisa lobi jika tak punya kekuatan.

Kita sedang mengarah ke sana?
Sebagai mantan orang intelijen, saya menduga, Indonesia dan negara-negera berkembang akan terjangkiti nasionalisme baru. Akan timbul kebangsaan masing-masing yang berbeda dengan nasionalisme lama yang revolusioner. Sekarang, perangnya ekonomi, politik, dan militer. Kalau dulu kita bergantung, sekarang kita menjadi saling bergantung. Jangan bergantung terus sama Amerika. Dia juga harus bergantung sama kita. Sekarang tentara kita mulai dibangun, membuat panser dan persenjataan sendiri. Sejak dulu kita bisa bikin reaktor atom di Jogja. Itu gertakan besar. Jangankan Malaysia, Inggris saja kaget. Iran membuat nuklir, langsung dilirik dunia. Sedangkan kita dibuat untuk tidak bisa. AC saja yang teknologinya rendah masih impor. Makanya, kita harus bersatu membangun kekuatan ekonomi kerakyatan.

Bagaimana caranya?
Globalisasi ini kenyataan, harus dihadapi. Masalahnya, yang menguasai adalah pengibar panji-panji Liberal-Kapitalisme. Paham ini dilandasi oleh filsafat Protestanisme Sekular. Sedangkan filsafat Pancasila tidak begitu. Mereka sekuler, sedangkan kita Ketuhanan yang Maha Esa. Yang munafik itu Amerika, duitnya saja in God we trust, tapi negerinya sekuler. Tapi negeri lain, orangnya sekuler, negerinya beragama.

Jadi Liberal-Kapitalisme benar-benar telah mencengkram kita?
Benar. Bangunan nation state yang mendominasi dunia saat ini berasal dari Revolusi Prancis. Revolusi yang sukses menumbangkan kekuasaan Katolik dan monarki ini dimotori oleh para pengusaha. Mereka menggosok rakyat untuk menyerbu Bastile. Jadi, Revolusi Prancis adalah Revolusi Borjuis. Rakyat kecil tetap susah. Konsep negara bangsa itu disebarkan ke seluruh dunia. Di Indonesia, nation state kita sekarang dikuasai pengusaha. Bisa dibuktikan, yang akan datang, kalau bukan presiden, wakilnya adalah pengusaha. Berikutnya, pada 2014 presidennya juga pengusaha. Ini adalah bentukan nation state yang tadi saya bilang yakni, nasionalisme bentuk baru.

Berarti, Jusuf Kalla dan pengusaha lainnya makin berkuasa di negeri ini?
Bisa jadi. Yang jelas, rakyat akan sadar. Yang diharapkan adalah pengusaha yang berhasil, bukan yang tidak bisa bayar utang, tapi setelah berkuasa hutangnya lunas. Kecenderungannya, rakyat di negara berkembang ramai-ramai memilih pengusaha. Bukan hanya di Indonesia, di Thailand juga, Taksin akan balik lagi. Dia pengusaha. Militer berada di belakangnya, mendukung demonstran. Rakyat turun demonstrasi karena dibayar. Begitu juga dengan Amerika. Kalau Obama gagal, akan diganti oleh pengusaha yang sukses memimpin perusahaannya, seperti Rockefeller dulu.

Apakah tatanan Liberal-Kapitalisme ini masih akan menguasai peradaban dunia pada beberapa dekade mendatang?
Semestinya, setelah tesis Liberal-Kapitalisme gagal mensejahterahkan dunia, kekhalifahan seharusnya muncul sebagai penggantinya. Karenanya, Islam perlu menjawab tantangan globalisasi dengan membangun “Kekhalifahan Universal”. Hanya sistem ini yang bisa mengatur dan mensejahterahkan dunia, karena tatanan Sekuler-Kapitalisme telah gagal. Tetapi, tesis kekhalifahaan saja tak cukup. Perlu dipersiapkan infrastrukturnya, termasuk civil society yang menopang dan perangkat lain. Persoalannya, negara-negara Islam sendiri tidak memberi contoh dalam mempraktikkan kekhalifahan ini.

Apakah Anda sepakat dengan konsep khilafah?
Khilafah itu adalah tujuan, bukan strategi. Jika sejak awal kita jadikan strategi, rontok kita, karena belum siap. Yang jelas, di masa datang Kekhalifahan akan menjadi new nation state, menggantikan sistem lama yang gagal. Salah satu caranya muncul melalui neo nasionalisme yang terbentuk secara islami. Negara-negara kecil, termasuk di Eropa akan menjadi satu. Disinilah pemimpin kharismatik akan muncul. Tapi hati-hati, jika pemimpinnya tidak mengarahkan dengan benar, jadinya justru tidak karuan. Ini sudah banyak yang meramal. Yang susah, menentukan kapan perubahan ini terjadi? Tapi ada juga yang berpendapat, kekhalifahan akan terjadi dengan sendirinya. Persoalannya, jika konsep universal ini dikibarkan dengan cara yang salah, orang Islam sendiri takut, termasuk saya, apalagi orang lain.

Apakah perubahan ini akan menimbulkan perang, setidaknya chaos di suatu kawasan?
Wallahu a’lam. Di sini saya menyarankan, pentingnya tentara kita bersatu saja. Tidak usah berjalan sendiri-sendiri, termasuk dalam Pemilu. Nanti rakyat akan melihat, karena tentara harus melindungi rakyat. Tapi setelah berhasil melindungi dan mendapat kepercayaan rakyat, jangan lantas keterusan, ingin mendapatkan kursi kepemimpinan seperti Julius Caesar. Setelah sukses melindungi dan mendapat kepercayaan rakyat, militer harus berhenti. Tenang, semua yang bergerak diawasi. Serahkan proses kepemimpinan pada rakyat untuk menentukan. Jika ini sukses, baru bisa jalan.

Anda katakan, negara-negara Islam tidak mencontohkan praktik kekhalifahan, lantas kita berkiblat ke mana?
Kita dianggap Islam pinggiran. Sentralnya di Timur Tengah, entah yang mana? Tapi jika Timur Tengah masih kacau, masa harus periferal. Akhirnya, kita kembali ke nasionalisme sendiri. Kita adalah orang Indonesia yang Muslim, bukan Muslim yang berkiblat ke Timur Tengah. Karenanya, jika khilafah yang dianut seperti yang ada di Timur Tengah saat ini, ya nanti dulu. Lebih baik mengurus negeri sendiri dulu. Contoh, dalam sebuah rapat dengan negara-negara Timur Tengah, utusan Arab Saudi tidak mau ada pewakilan dari Iran, Turki dan Suriah. Mana bisa begini? Kita sarankan, “Sudahlah, jika terkait persoalan golongan lebih baik dibicarakan nanti.” Tetap saja mereka tidak mau. Mereka memilih tidak mengikuti rapat, jika ketiga negara itu dilibatkan. Karenanya, saya berpandangan, selama belum bisa bersatu, Khilafah Islamiyah tak bisa berpusat di Timur Tengah. Contoh lain, ketika berkumpul dengan badan intelijen negara Islam, mereka tidak memiliki garis perjuangan yang jelas. Akhirnya yang muncul adalah jaringan Osama bin Ladin yang lebih dipecaya rakyat.

Jika saat ini Anda memimpin umat Islam, apa yang akan Anda lakukan?
Pertama, mempersatukan. Bersatu pada tataran praktis dan operasional, baru menyatukan pada tataran falsafah dan ideologi. Jika sekarang meributkan falsafah, ada Sunni, Syi’ah, dan golongan lainnya akan ribut. Kita adalah jamaah yang kaffah. Kedua, mengikuti perkembangan zaman, kita harus modern tapi bukan terbaratkan. Kita jangan cuma mengenang kesuksesan masa lampau saja, tapi juga harus memikirkan dan mencari solusi kenyataan saat ini. Kita harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketiga, membongkar feodalisme. Jadi tidak bisa mentang-mentang saya lebih tua dikatakan lebih islami ketimbang yang muda. Keempat, menyingkirkan ambisi pribadi. Jika masih ada kepentingan dan ambisi pribadi, minggir saja. Jangan menjadi khalifah, karena Allah SWT yang akan memilih. Khalifah bukan didapat dengan rebutan kursi kepemimpinan tapi komitmen pada perjuangan.*

Post a Comment for "KEKHALIFAHAN AKAN JADI NEW NATION STATE (Wawancara Khusus majalah sabili 19/XVI Abdullah Mahmud Hendropriyono, Mantan Kepala BIN)"