Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BELAJARLAH BERSIKAP DEWASA KEPADA MUHAMMADIYAH


Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Muhammadiyah adalah sebuah jam’iyyah Islam yang lahir sebelum masa kemerdekaan. Ia lebih dulu ada daripada Nahdlatul Ulama. NU berdiri tahun 1926, dua tahun pasca runtuhnya Kekhilafahan Islam di Turki, sementara Muhammadiyah terlahir pada tahun 1912 Masehi, ketika Nusantara berada dalam cengkeraman Belanda.

Sebagaimana ormas-ormas Islam lainnya yang lahir di masa-masa penjajahan, tentu saja Muhammadiyah mempunyai jasa yang sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokohnya banyak yang dinobatkan menjadi Pahlawan nasional, sebagaimana Ki Bagus Hadikususmo dan Kasman Singodemejo.

Di dunia pendidikan, Muhammadiyah sudah tidak diragukan lagi jasanya, termasuk juga di dalamnya adalah lembaga kesehatan bagi masyarakat nusantara. Aset-asetnya sudah tak terhitung lagi banyaknya, di semua penjuru Indonesia pasti mereka punya. Dan hebatnya, semuanya itu mereka miliki tanpa harus meminta-minta, apalagi melacurkan diri kepada penguasa.

Mereka maju dengan lembaga pendidikannya, maju pula dengan lembaga-lembaga kesehatannya. Penulis belum pernah mendengar bahwa lembaga-lembaga yang dikelola Muhammadiyah bangkrut dan sepi peminat. Yang ada justru ramai, sekalipun masih seumur jagung didirikan.

Bahkan, meskipun masyarakat di kampung-kampung sebagian masih ada yang alergi dengan nama Muhammadiyah, tanpa sadar, padahal mereka sendiri dan anak-anaknya belajar membaca Al-Qur’an menggunakan karya seorang ulama Muhammadiyah, yakni menggunakan buku Iqro’. Mereka tidak menyadari, bahwa Muhammadiyah sudah sangat lama berada di tengah-tengah mereka dengan metode pembelajaran Iqro’nya.

Dengan semuanya itu, baik perjuangannya di masa lalu maupun yang sekarang, maka sudah tidak diragukan lagi jasa besar Muhammadiyah bagi Indonesia. Secara kuantitas pengikut mereka memang berada di nomor dua, di bawah Nahdlatul Ulama, tetapi secara kualitas sumber daya manusia, saya kira mereka berada di nomor satunya.

Hingga saat ini mereka tetap konsisten menjaga kedewasaannya. Meskipun tokoh-tokoh mereka, semisal Amin Rais dan Dahnil Simanjuntak berjuang di barisan calon presiden nomor urut dua, mereka tidak pernah menjual nama besar Muhammadiyahnya untuk meraup suara. Ormas Islam yang diikutinya mereka singkirkan ketika harus bertarung di dunia perpolitikan.

Setiap pernyataannya dalam percaturan politik tidak pernah dinisbatkan kepada Muhammadiyah, semua murni mengatasnamakan pribadinya. Tidak ada deklarasi dari mereka, bahwa karena banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah yang mendukung Prabowo – Sandi, maka warga Muhammadiyah juga harus mendukungnya. 

Seperti itulah kedewasaan Muhammadiyah. Meskipun sudah begitu banyak jasa perjuangannya untuk Indonesia, tetapi mereka tidak pernah menyombongkan diri dengan itu semua. Mereka tidak bersikap arogan terhadap kelompok-kelompok Islam lain yang terlahir lebih muda dari dirinya.

Dengan aktifis-aktifis alumni 212 mereka akur, dengan orang-orang HTI pun mereka baik. Akhlakul karimah begitu mereka kedepankan, sehingga mereka tidak pernah meremehkan ‘’adik-adiknya’’ yang dahulu belum pernah ikut berjuang mengusir penjajah, karena memang mereka belum terlahir di nusantara.

Sebagai orang yang aktif di Hizbut Tahrir Indonesia, saya tidak tau pasti Muhammadiyah setuju atau tidak dengan apa yang kami perjuangkan selama ini, tetapi yang jelas mereka mempunyai akhlak yang baik dalam memperlakukan kami yang juga alumni aksi 212 ini. Di saat kami kebingungan mencari tempat untuk mengadakan acara, Muhammadiyahlah yang memfasilitasinya.

Di saat kami difitnah dengan berbagai macam intimidasi, kami merasakan sendiri, teman-teman Muhammadiyahlah (diantaranya) yang justru masih memuliakan dan melindungi kami. Mereka sangat besar jasanya untuk negeri ini, tetapi mereka tidak pernah berujar kepada kami; “Tidak pernah ikut mengusir penjajah, pake ikut ngrusuhin NKRI.”

Luar biasa kemuliaan akhlakmu, Muhammadiyah. Jasamu begitu besar, tetapi engkau tidak pernah menyombongkan diri. Kaderisasimu berjalan dengan baik. Karakter Nabi Muhammad saw. benar-benar melekat, sebagaimana nama jam’iyyahmu, Muhammadiyah. Semoga ini menjadi pahala kebaikan yang tak terhingga bagi pendirinya, yakni KH. Ahmad Dahlan al-Jawi. Aamin Yaa Robbal’aalamiin.

#Alumni212
#KhilafahAjaranIslam
Cirebon, 13 Maret 2019

Post a Comment for "BELAJARLAH BERSIKAP DEWASA KEPADA MUHAMMADIYAH"