Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ini Hanya Bisnis !

Kalian tahu Alibaba? Itu e-commerce dunia, yang tidak hanya jual HP, baju, kosmetik, dll secara retail. Alibaba juga bisa untuk memesan beras 100 ton misalnya, jual-beli dalam ukuran besar. Saya Tere Liye, mau masuk bisnis jual-beli beras, maka saya carilah pedagang dari luar negeri yang jual beras. Banyak daftar penjualnya, ribuan lebih. Ambil salah-satu ‘pelapak’, ada yang jual Vietnam Jasmine Rice 25% broken rice, dia jual 300 dollar per ton FOB, minimal pesan 50 ton. Kalau pesan di atas 200 ton, bisa negosiasi lagi. Estimasi waktu sampai sekitar 10 hari. Karena ini FOB, maka pengapalan, asuransi, gudang di Indonesia, dll, dll, saya yang tanggung. Mari kita ambil perkiraan paling mahal biaya pengiriman dll tersebut 100 dollar per ton, maka total dengan harga 400 dollar per ton, itu beras sudah tiba di Indonesia.

Jika dirupiahkan, dengan kurs 14.000, maka berapa harga beras ini per kilogram? 400 USD x 14.000 / 1000 kg, didapatlah angka Rp 5.600/kg. Berapa harga beras ini dilepas di pasar Indonesia? Bisa Rp 10.000/kg. Berapa keuntungan impor saya? Rp 4.400/kg. Jika saya boleh impor 2,2 juta ton (tahun 2018 total impor beras 2,2 juta ton). Maka keuntungan saya adalah: Rp 9,68 Trilyun. Mantul, mantap betul. Itu uang semua, Rp 9.680.000.000.000.

Setelah untung 9,68 Trilyun, saya memutuskan bosan jadi penjual beras. Baiklah, saya mau jual gula saja. Lagi2 gampang, mari buka Alibaba, cari pemasok luar negeri sana yang mampu kirim satu juta ton. Harga gula lebih murah, Kawan, 150-200 dollar per ton bisalah, asal kamu pintar cari pelapaknya. Tambah dengan ongkos kirim, dll, dll, jadilah 300 dollar per ton. Tiba di Indonesia, mentok ongkos semuanya hanya Rp 4.200/kg. Berapa harga gula sekarang Rp 10.000 - 11.000. Wuih, itu nyaris 2,5 x dari harga aslinya. No, no, kata bos, tidak boleh impor gula konsumsi masyarakat, hanya boleh gula rafinasi, untuk industri. Tak masalah, setahun kita bisa impor nyaris 3 juta ton. Maka jika keuntungan per kilonya adalah Rp 5.000, maka berapa keuntungan saya? Rp 4.000/kg x 3.000.000.000 = Rp 12 Trilyun. Alias Rp 12.000.000.000.000.

Bosan bisnis gula, sy bisa ganti lagi jagung, atau daging sapi, atau apapun itu, welcome semua ke Indonesia. Kita adalah negara ‘pengimpor’ hebat. Kalian tahu soal impor gula misalnya, Indonesia mengimpor lebih banyak dibanding China (yang penduduknya 4x Indonesia), dan AS. Tentu bisa dimaklumi, karena penduduk kita manis-manis, jadi memang suka gula, eh?

Asyik sekali jadi pengusaha import ini. Untungnya tak kira-kira.

Nah, ketahuilah, siapapun rezimnya, siapapun yang berkuasa di sana, sejak era Ken Arok dan Ken Dedes dulu, impor-impor ini senantiasa empuk dan lezat, Kawan. Kalau ada yang bicara tentang stabilisasi harga pasar, bicara soal melindungi petani lokal, proteksi atas industri lokal, bicara manis-manis itu, maka itulah gunanya politisi, mereka menjual kecap paling bagus. Sementara di belakangnya, tidak tahu. Mungkin tertawa terpingkal-pingkal.

Mafia! Adalah salah-satu kambing hitam favorit di negeri ini. Gampang nyomotnya, dikit-dikit: Ini salah mafia! Dasar mafia impor kurang ajar! Ini SEMUA salah mafiaaaa! Gampang banget nyalahin mafia. Lantas apakah pernah ketangkap mafianya? Pernah diusut? Tidak pernah. Saya tengok penjara, tak ada itu yang namanya Mafia, Bafia, Masfia, atau Dekfia. Entahlah siapa mafia-mafia ini. Ehem, jangan-jangan kamu yang di sana? Yang di sana? Atau kamu juga? Ayo ngaku, deh. Jangan malu-malu.

Lantas ributlah di medsos. Fans capres bertengkar soal impor. Riuh rendah. Ada yang salah-sebut data impor jagung. Ada yang bilang no impor. Saling menertawakan. Saling serang. Mari gelar tikar, menonton hiburan gratis yang seru. Tapi sayangnya, setelah bertengkar tujuh hari tujuh malam, besok2 semua lupa. Yang dulu benci impor, saat berkuasa eh, jadi love sama impor. Yang dulu benci BBM naik, nangis2 penuh drama, pas berkuasa, eh malah mendukung paling depan. Ternyata cuma siklus saja, siapa yang kebetulan lagi jadi penguasa atau oposisi.  Aduh.

Lantas mau kamu apa, Tere Liye? Kalau saya sih, kalau saya boleh usul, mari kita buka saja habis2an keran impor ini. Siapapun bisa beli langsung dari luar negeri sana. Toh, “tinggal” pesan Alibaba. Siapapun boleh masukin barang, tidak perlu cincai lagi, semua boleh, tidak dilarang, dicegat di bea cukai, pun tidak usah dikenakan tarif-tarifan, pajak-pajakan. Kita bebasin semuanya. Kamu mau beli beras, silahkan pesan saja langsung ke Alibaba, sampai rumah cuma 5.000/kg. Pengin gula, pesan ke penjual gula di Brazil sana. Tunggu, nanti ada Mamang Kurir bawa truk besar, “Pakeeeet”. Pengin jagung, pesan sana ke Amerika, nanti ada Mamang Kurir gendong kontainer, “Pakeeet”. Coba lihat, dipanggil kencang2 susah amat nyahutnya, giliran Mamang Kurir tereak pakeet! Lari ke depan sambil senyum2. 

Lantas bagaimana dengan petani lokal? Dengan pabrik gula lokal? Petani jagung? Petani Garam? Bagaimana dengan defisit transaksi berjalan? Bisa tekor gila Indonesia. Bodo amat. Itu bukan urusan saya. Buka saja habis2an. Toh, selama ini semua hanya soal bisnis belaka. Omong kosong nasionalisme, patriotisme, dsbgnya itu. Ini semua hanya bisnis, Bro, Sis. Lu doang yang terlalu serius ngefans sama capres, padahal ini cuma bisnis. Hitung2annya masuk, bungkus. Nah, daripada rente trilyunan itu masuk kantong orang2 yang sudah kaya raya, tajir gila, mending kita bebaskan saja. Biar kita dapat harga murah semua.

Sialnya, kalian tidak semua akan sependapat dengan saya. Dan setelah saya pikir2, aduh, saya juga tidak yakin benar itu solusinya. Itu bukan solusi ‘nyata’. Malah rugi. Toh, saya kan sudah berniat jadi ompirtir. Saya sudah bilang dari tadi, Tere Liye mau bisnis jual beli beras. Maka bagi saya, lebih baik saya memulai mendirikan perusahaan impor, mulai kontak2 bos, nyari jatah impor buat tahun depan. Oke, bos? Kasihlah ke saya impor gula 10.000 ton saja. Itu sudah untung 50 milyar loh. Tak usah banyak2, bos. Nanti gantinya, saya buatkan kaos, poster, baliho, spanduk, dll. Deal? 

Demikian. Siapa suruh baca tulisan ini. Tidak ada solusinya memang. Malah bikin tambah kesel.

Tere Liye

Post a Comment for "Ini Hanya Bisnis !"