Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TUGAS BERAT PARA WAPRES

Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Kemarin malam, rakyat Indonesia disuguhkan berbagai banyolan politik demokrasi. Ada para ulama yang menolak dijadikan sebagai calon Wakil Presiden, dan ada juga tokoh serta ulama yang begitu sumringah ketika ditawarkan menjadi calon Wapres. Ada yang rendah hati, ada juga yang berbangga hati.

Tentu fenomena semacam ini tidak asing dalam sistem demokrasi. Mendung tebal bukan berarti akan datangnya hujan, langit terang bukan berarti tidak akan turun hujan. Semua tidak ada kepastian. Politikus bisa mendadak menjadi ulama, dan ulama bisa mendadak menjadi politikus. Bahkan artis pun bisa menjadi politisi, asal potensial menjaga elektabilitas. Tidak masalah.

Prabowo menggandeng Sandiaga Uno, sementara itu Jokowi menggandeng Ma'ruf Amin, siapa yang bakal menang ?

Jelas, masing-masing kubu bisa beradu prediksi dalam hal ini. Prabowo bisa menilai dirinya bakal menang, karena merasa mendapat dukungan dari umat Islam yang mayoritas alumni dan simpatisan aksi 212, sementara Jokowi juga sama optimisnya, karena merasa mempunyai wakil dari tokoh ulama NU yang notabene mempunyai lumbung suara di akar bawah.

Walaupun demikian, Prabowo tidak boleh jumawa, dan Jokowi tidak boleh membusungkan dada, karena Prabowo saat ini sudah kehilangan simpati dari sebagian umat Islam, yang merasa ulama pilihannya tidak diperhatikan. Jokowi pun sama, menggandeng ulama NU tidak menjamin ia akan menang mutlak.

Sejarah membuktikan, pada tahun 2004 Megawati menggandeng KH. Hasyim Muzadi yang pada saat itu menjadi orang nomor satu di PBNU, dengan harapan mendapat kemenangan besar dari sana. Nyatanya, Megawati justru tumbang dan partai banteng pun kembali ke kandang. 

Mayoritas masyarakat, khususnya nahdliyyin, pada saat itu tidak melihat KH. Hasyim Muzadi'nya yang ulama, tetapi mereka tetap melihat Megawati'nya yang sudah tercemar dengan kasus penjualan aset-aset negara ke Singapura. Bagi rakyat Indonesia, sekali racun tetap racun, sekalipun dicampur dengan susu murni. Mereka tidak sudi untuk memilihnya kembali.

Padahal itu dulu, sebelum ada "gerakan" NU Garis Lurus, masih murni NU. Bagaimana dengan sekarang? yang sudah banyak gerakan kaum nahdliyyin yang kontra dengan pimpinannya, karena dianggap liberal dan keluar dari khittah ke nu'an. Jelas ini membuat lebih suram lagi masa depan Jokowi yang menggandeng Ma'ruf Amin. Apalagi mayoritas warga nahdliyyin sudah mengetahui bagaimana buruknya kinerja Jokowi saat ini.

Bagi saya pribadi, entah siapapun nanti yang menang di Pilpres 2019, yang jelas saya berharap, dengan keduanya yang mempunyai wakil yang berbeda, seandainya Prabowo dengan Sandiaga Uno sebagai wakilnya, yang menang, maka seretlah itu para cukong-cukong yang sudah berani mengangkangi Indonesia, habisi juga kroni-kroninya yang sudah menjadi pengkhianat negara. Jangan kasih ampun pada mereka. Tegakkan juga aturan-aturan Allah di Indonesia, karena kalian adalah bagian daripada umat Islam!

Seandainya Jokowi dan Ma'ruf Amin yang menang, tidak usah muluk-muluk harapan saya kepada Kiai Ma'ruf yang Wapres, cambuk itu para pemabuk dan penjudi, termasuk yang mayoritas ada di kalangan pendukung Jokowi, sikat semuanya dengan ditegakkannya aturan-aturan Islam. Jika tidak, lalu apa fungsi dari Keulamaan Pak Kiai yang duduk di kursi utama pemerintahan ? 

Jangan mau hanya dijadikan sebagai ajang promosi Jokowi, setelah maksudnya tercapai, Pak Kiai justru kemudian dicampakkan. Yang mabok tetap mabok, yang judi tetap judi, kaum banci justru malah semakin hepi. Andai ini terjadi, lalu apa bedanya ulama yang memegang kekuasaan dengan ulama yang tidak memegang kekuasaan ? 

Allaahummanshurnaa.. 

#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 10 Agustus 2018

Post a Comment for "TUGAS BERAT PARA WAPRES"