Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KEMERDEKAAN HAKIKI HANYA DIDAPAT DENGAN ISLAM

Oleh: Ustadz Agus Trisa

Tanggal 17 Agustus selalu diperingati bangsa Indonesia sebagai hari kemerdekaan. Tentu yang dimaksud adalah merdeka dari penjajahan secara fisik atau militer yang dilakukan Belanda dan Jepang. Karena itu, setelah 17 Agustus 1945 adalah saatnya rakyat Indonesia menentukan nasib sendiri dengan mengatur, mengelola berbagai sumber daya alam yang ada demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Sejak diproklamasikan 73 tahun lalu sampai sekarang, namun harapan itu sepertinya belum terwujud. Padahal sejak diproklamasikan, sudah bergonta ganti model negara, dari yang berbentuk kesatuan lalu berbentuk negara serikat; kemudian bentuk pemerintahannya pun berganti-ganti dari yang berbentuk presidensiil hingga parlementer; model demokrasinya juga berganti-ganti, dari demokrasi liberal sampai demokrasi terpimpin; bahkan secara tidak disadari namun nyata adalah berganti-ganti model pembawaan dasar negara, dari yang dekat kepada sosialis-komunisme, kapitalisme, hingga di era sekarang yaitu era reformasi. Namun semua proses ini tidak menjadikan Indonesia menjadi lebih baik, tetapi justru lebih mirip kembali ke zaman penjajahan, dimana kekayaan alam malah dinikmati oleh pihak asing dan para pejabat. Lantas, benarkah Indonesia sudah merdeka?

PENJAJAHAN

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka memiliki arti lepas dari penjajahan, lepas dari penghambaan. Penjajahan adalah bentuk dominasi dari satu pihak kepada pihak lain yang berakibat terjadinya eksploitasi. Inilah penjajahan. Karena itu, tidak dikatakan penajajahan, jika dominasi satu pihak kepada pihak lain namun dalam rangka mengangkat derajat dan martabat pihak yang didominasi.

Dominasi Portugis terhadap Maluku pada tahun 1511-1526 (selama 15 tahun), disebut dengan penjajahan. Sebab, dalam kurun waktu itu pribumi kepulauan Nusantara dieksploitasi sumber daya alamnya, dirampas untuk kemudian dijadikan barang dagangan orang-orang Eropa. Hal ini dikarenakan, sumber daya alam yang melimpah waktu itu (khususnya rempah-rempah) begitu laris di Eropa.

Adanya eksploitasi terhadap pribumi Nusantara waktu itu ditunjukkan dengan adanya penolakan yang berujung pada perlawanan rakyat terhadap Portugis, seperti yang dilakukan rakyat Minahasa, rakyat Malaka, rakyat Aceh, dan rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Khairun dan putranya Sultan Baabullah. Bahkan, Adipati Yunus (Sultan Demak) pun turut mengirimkan ekspedisi jihad ke Malaka untuk membantu Malaka melepaskan diri dari penjajahan Portugis.

Begitu pula dengan dominasi Spanyol atas Nusantara, juga bisa dikatakan sebagai penjajahan. Sebab, yang terjadi adalah eksploitasi atas sumber daya rakyat di kepulauan Nusantara. Keberadaan mereka pun mendapat perlawanan sengit dari rakyat Minahasa dan Maluku. Sekali lagi, alasannya adalah soal eksploitasi. Lebih buruk lagi, kedua penjajah ini (Portugis dan Spanyol) justru menjadikan Maluku sebagai ajang perebutan daerah koloni (jajahan).

Yang paling parah, tentu dominasi VOC dan Belanda, serta Jepang atas Indonesia. Kedua bangsa ini tidak dipungkiri telah mendominasi dan mengeksploitasi Indonesia sampai pada taraf yang sangat keji. Bukan hanya sumber daya alam yang dieksploitasi, tetapi juga sumber daya manusianya. Siapa yang bisa mengingkari kenyataan ini? Bahkan dunia pun mengakuinya. Perlawanan pun dilakukan oleh rakyat secara militer, sebab mereka juga menjajah dengan kekuatan militer. 

Inilah penjajahan. Yaitu adanya dominasi yang berujung pada eksploitasi atas pihak yang didominasi. Dan realitasnya, kondisi semacam ini (kondisi terjajah) ternyata masih kita rasakan setelah 73 tahun bangsa ini menyatakan kemerdekaannya. Hanya saja, bentuk penjajahan itu tidak lagi dilakukan secara militer. Cara-cara semacam ini justru akan berdampak pada perlawanan atau peperangan. Dan peperangan pasti akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maka, model penjajahan itu diubah bentuknya, yaitu melalui lobi-lobi politik. Bentuk konkretnya adalah kerja sama, investasi alias penanaman modal, utang luar negeri, dan sebagainya. Ini semua sebenarnya adalah bentuk lain dari penjajahan yang dilakukan terhadap Indonesia.

Hal itu bisa kita lihat dari penguasaan sumber daya alam milik rakyat yang kebanyakannya malah dinikmati oleh pihak asing. Di antara jalan untuk melakukan penjajahan atas Indonesia adalah dengan undang-undang. Ya, mereka (kapitalis, baik asing maupun lokal) berusaha untuk masuk ke undang-undang. Anggota DPR Eva Kusuma Sundari bahkan pernah menyatakan, bahwa pasca reformasi, ada begitu banyak undang-undang yang berbau ‘pesanan’ asing. 

Bahkan naiknya harga BBM sebagai akibat dicabutnya subsidi, juga tidak lepas dari yang namanya campur tangan pihak asing. Jika dirunut ke belakang, IMF dan Bank Dunia berperan mendiktekan berbagai peraturan dan UU yang meliberalisasi sektor migas. Hal itu tercantum dalam Letter of Intent (LoI) Pemerintah dengan IMF. Di dalam Memorandum of Economic and Financial Policies tahun 2000 disebutkan bahwa pada sektor migas, Pemerintah berkomitmen: mengganti UU yang ada dengan kerangka yang lebih modern, melakukan restrukturisasi dan reformasi di tubuh Pertamina, menjamin bahwa kebijakan fiskal dan berbagai regulasi untuk eksplorasi dan produksi tetap kompetitif secara internasional, membiarkan harga domestik mencerminkan harga internasional.

Lalu di dalam Memorandum of Economic and Financial Policies tahun 2001 disebutkan Pemerintah Indonesia berkomitmen penuh untuk mereformasi sektor energi yang dicantumkan pada MEFP 2000. Secara khusus pada bulan September, UU Listrik dan Migas yang baru akan diajukan ke DPR. Menteri Pertambangan dan Energi telah menyiapkan rencana jangka menengah untuk menghapus secara bertahap subsidi BBM dan mengubah tarifl listrik sesuai dengan tarif komersil.”

Di dalam dokumen Bank Dunia, Indonesia Country Assistance Strategy tahun 2001 disebutkan utang-utang untuk reformasi kebijakan memang merekomendasikan sejumlah langkah seperti privatisasi dan pengurangan subsidi yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi belanja publik.

Semua itu mencerminkan intervensi asing dan penjajahan atas negeri ini. Mereka yang terlibat dalam proses itu boleh jadi melakukannya tanpa mereka sadar bahwa mereka sedang memberi jalan, membantu bahkan menjadi operator dari intervensi asing dan penjajahan itu. Mereka yang seperti itu sungguh sangat disayangkan. Sebab mereka bisa diperalat oleh penjajah untuk kepentingan penjajahan mereka. Mereka mirip dengan para pejabat pribumi di saat VOC berkuasa, menjajah negeri ini ratusan tahun yang lalu.

Inilah bentuk penjajahan itu. Penjajahan yang akan terus diberlakukan di Indonesia. Ya, sekali lagi penjajahan adalah bentuk penguasaan atau dominasi dari pihak lain, atas Indonesia.

MERDEKA DENGAN ISLAM

Namun, berbeda dengan dominasi kaum muslim Arab atas tanah Syam sesaat setelah wafatnya Rasulullah saw. Dominasi kaum muslim atas wilayah Syam justru adalah dominasi untuk mengangkat derajat mereka (orang-orang Syam) ke arah yang lebih tinggi, mulia, dan terhormat. Sebab, yang dilakukan kaum muslim adalah futuhat (pembebasan), bukan isti’mar (penjajahan). Apa perbedaan antara futuhat dan isti’mar? Futuhat bisa diartikan pembebasan atau pembukaan. Pembukaan, maksudnya adalah membuka pandangan manusia yang selama ini tertutup oleh kabut kekufuran. Sedangkan pembebasan, maksudnya adalah membebaskan wilayah yang ditaklukkan dari penjajahan pihak lain. Jadi, realitasnya futuhat adalah ajakan untuk memeluk Islam dan menjadi bagian dari perlindungan Islam. Sedangkan isti’mar (penjajahan) tujuannya hanya satu, yaitu eksploitasi atas pihak yang dijajah. Jadi, motif dan tujuannya memang jelas berbeda.

Motif dan tujuan yang berbeda tentu saja melahirkan cara yang berbeda pula. Motif dan tujuan yang didasarkan pada keserakahan hawa nafsu manusia seperti dalam ideologi Kapitalisme, telah membuat ideologi ini menganut prinsip menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Bagi negara penganut ideologi Kapitalisme, penipuan, kebohongan, sampai pembantaian umat manusia adalah sah-sah saja dalam rangka mencapai tujuannya. Tidaklah mengherankan kalau sejarah Kapitalisme dunia selalu diisi dengan dengan darah dan air mata dari rakyat negara yang dijajah. Tidak heran pula, jika isti’mar selalu membuahkan perlawanan rakyat.

Hal ini sangat berbeda dengan Islam yang menjalankan perangnya atas dasar petunjuk Allah swt. Ada aktivitas yang harus dilakukan sebelum perang, yakni mengajak mereka terlebih dulu memeluk Islam. Kalau tidak mau, mereka ditawari masuk dalam kekuasaan khilafah (pemerintahan Islam) seraya membayar jizyah, meski pun mereka tetap pada agama mereka. Jadi, dalam Islam, perang merupakan pilihan terakhir. Lagipula perang dalam rangka futuhat bukanlah untuk memerangi rakyat setempat, tetapi adalah untuk menghilangkan penghalang-penghalang fisik, misalnya penguasa zalim mereka yang menghalangi diterimanya Islam oleh rakyat.

Sekali lagi, penjajahan adalah soal dominasi yang melahirkan eksploitasi. Ini tidak terjadi pada masa dominasi Islam atas berbagai wilayah di dunia. Pada umumnya, rakyat yang negerinya ditaklukkan oleh Islam pun tidak menganggap Islam sebagai penjajah. Sebaliknya, yang terjadi, mereka menyatu dengan pemeluk Islam lainnya dan bahkan turut menjadi pembela negara Islam. Tidak pernah didengar rakyat Mesir, Suriah, Libya, atau Bosnia menganggap Islam sebagai penjajah. Bahkan negeri-negeri itu dipenuhi dengan pejuang-pejuang yang membela agama atau negaranya (ketika masih menjadi bagian dari kekuasaan Khilafah Islam). Kalau Islam dianggap penjajah, bagaimana mungkin mereka membela dan memperjuangkan eksistensinya?

Berbeda halnya dengan penjajahan negara-negara Barat imperialis. Hampir sebagian besar rakyatnya menganggap mereka adalah penjajah. Indonesia, sampai kapan pun, akan menganggap Belanda dan Jepang sebagai penjajah. Rakyat Mesir akan tetap menganggap Inggris sebagai penjajah. Italia pun sampai sekarang tetap dianggap penjajah oleh rakyat Libya. Apa yang terjadi di Irak dan Afganistan sekarang adalah bukti yang nyata. Rakyat Irak, meskipun mereka tidak setuju terhadap rezim sebelumnya yang lalim seperti Saddam Husain, bukan berarti mereka menerima Amerika Serikat. Negara super power ini tetap saja dianggap sebagai penjajah. 

Jadi, dominasi Islam atas suatu wilayah, bukanlah bentuk penjajahan. Bukanlah bentuk pengekangan, atau penghambaan. Justru Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi dan penghambaan kepada sesama manusia (makhluk). Mewujudkan kemerdekaan hakiki merupakan misi dari Islam. Islam diturunkan oleh Allah SWT untuk menghilangkan segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman dan penghambaan manusia kepada manusia lainnya secara umum. Yunus bin Bukair ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah menulis surat kepada penduduk Najran, di antara isinya:

أَمّا بَعْدُ فَإِنّي أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ اللّهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ وَأَدْعُوكُمْ إلَى وِلاَيَةِ اللّهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ

Amma ba’du. Aku menyeru kalian ke penghambaan kepada Allah dari penghambaan kepada hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian ke kekuasaan (wilayah) Allah dari kekuasaan hamba (manusia) … (Al-Bidayah wan-Nihayah).

Misi mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia itu juga terungkap kuat dalam dialog Jenderal Rustum dengan Mughirah bin Syu’bah yang diutus oleh Panglima Saad bin Abi Waqash. Pernyataan misi itu diulang lagi dalam dialog Jenderal Rustum (Persia) dengan Rab’iy bin ‘Amir (utusan Panglima Saad bin Abi Waqash) yang diutus setelah Mughirah bin Syu’bah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia. Jenderal Rustum bertanya kepada Rab’iy bin ‘Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rab’iy bin menjawab:

اَللهُ اِبْتَعَثْنَا وَاللهِ جَاءَ بِنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ وَمِنْ ضَيْقِ الدُّنْيَا إِلَى سَعَتِهَا وَمِنْ جَوْرِ اْلأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ اْلإِسْلاَمِ

“Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam….”

Di sinilah Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kecuali penghambaan hanya kepada Allah SWT. Tidak satu pun orang Islam di dunia ini mengatakan bahwa menghamba kepada Allah sama artinya dengan penjajahan, kecuali dia pasti sudah murtad. Islam datang untuk membebaskan manusia dari kesempitan dunia akibat penerapan aturan buatan manusia menuju kelapangan dunia. Islam juga datang untuk membebaskan manusia dari kezaliman agama-agama dan sistem-sistem selain Islam menuju keadilan Islam. Hal itu diwujudkan oleh Islam dengan membawa ajaran tauhid yang meniscayakan bahwa pengaturan kehidupan manusia haruslah dengan hukum dan perundang-undangan yang bersumber dari wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT, Zat Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana.

Wallahu a’lam bish shawab.

——————————
——————————

Follow kami di
Facebook: fb.com/DakwahsoloID
IG: instagram.com/DakwahsoloID
Youtube : youtube.com/channel/UClSMUhrNXRdkpk4GyU7Bbvg

—————————
—————————

Post a Comment for "KEMERDEKAAN HAKIKI HANYA DIDAPAT DENGAN ISLAM"