Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MAU MENANG PEMILU? LAWAN DULU YANG INI!


Oleh : Iwan Januar

Bila umat ingin menempuh jalan demokrasi untuk memenangkan Islam, barangkali pilkada serentak bisa menjadi salah satu pelajaran penting. Betapa jalan terjal bahkan curam harus ditempuh. Persoalan yang dihadapi bukan saja bertanding melawan parpol mana, tapi yang paling penting adalah bagaimana cara memenangkan persaingan. 
Dalam pilkada serentak lalu, bisa diambil pelajaran betapa demokrasi – khususnya begitu kompleks. Ada beberapa elemen yang harus dihadapi oleh parpol-parpol Islam terutama menjelang pilpres:
1. Lembaga survey. Sebelum pilkada serentak dimulai, istana mengundang sejumlah lembaga survey, tercatat diantaranya Indo Barometer, CSIS, Charta Politika dan Poltracking. Empat lembaga survei itu memang sudah terkenal sering membuat survei yang ‘memenangkan’ jagoan PDIP.
Kenapa lembaga survei penting dalam pemilu? Dalam taktik politik pemilu dan pilkada, keberadaan hasil survei penting untuk menggiring opini publik khususnya massa mengambang. Mereka yang tak punya sikap politik dan ideologi bisa dibuat tersihir dengan hasil polling untuk kemudian memilih pasangan yang punya suara terbanyak. Tabiat dasar manusia adalah mencari aman dengan berada dalam kerumunan.

Teknik ini dikenal dengan nama “A push poll” yaitu teknik interaktif marketing untuk mengubah persepsi bertopeng survei-polling. Fakta, banyak lembaga survei banyak yang bekerja untuk kaum kapitalis, media massa, parpol dan rezim. Susah untuk percaya pada lembaga survei.
2. KPU dan piranti softwarenya. Kemenangan pilkada dan pemilu di banyak negara bukan saja ditentukan oleh suara pemilih, tapi juga para penghitung suara pemilih. Dalam hal ini KPU dan seluruh jajarannya. Di AS, saat Bush memenangkan persaingan melawan Al Gore pada pilpres tahun 2000 lewat bantuan oleh saudaranya, Jeb Bush. Banyak pihak Jeb berperan besar dalam pencurian suara di daerah Florida yang berujung pada kekalahan Gore.
Apakah ada yang berani menjamin KPU dan KPUD di sini bisa bersikap fair, jujur dan terbuka pada pemilu dan pilpres? Wallahualam.

Itu baru manusianya, jangan lupakan piranti software dalam penghitungan suara, apakah steril dari hacking yang bisa merusak pemilu yang jurdil? TIdak ada kemungkinan input datanya keliru atau disalah-salahkan? 
Dalam pilkada Jabar situs KPUD dihack sehingga sulit dibuka. Ini sinyal yang mengkhawatirkan. Bagaimana untuk nanti urusan pemilu dan pilpres yang lebih besar lagi?

3. Parpol dan politisi pragmatis. Pemilu dan pilpres bukan hanya bicara idealisme perjuangan, tapi kepentingan. Itulah pragmatisme. Dalam demokrasi hal itu sah, bukan perbuatan haram. Saat pilkada saja kita bisa melihat parpol Islam yang mencaci maki parpol pendukung penista agama tapi bisa satu ruangan dalam proses pilkada. Tidak ada jaminan tak ada parpol yang selamanya idealis, semua ada hitung-hitungan politik dan kepentingan.
Semua bisa terjadi di last minute. Sampai menit terakhir. Dulu ada Hari Tanoe yang keras pada Jokowi, sekarang berbalik arah menjadi pendukung. Teranyar, adalah Gubernur NTB TGB Zainul Majdi yang ternyata mendukung Jokowi menjadi presiden dua periode. Pernyataan sang gubernur jelas membuat kecewa, heran dan marah jutaan muslim yang sudah pernah mengidolakannya. 
Tapi tak usah heran. Begitulah dinamika politik demokrasi. Unsur kepentingan bisa di atas segalanya. Pragmatisme bisa mengalahkan idealisme dan ideologisme. Hari Tanoe, Gatot Nurmantyo, dan belakangan TGB Zainul Majdi adalah ‘korban’ sekaligus pelaku pragmatisme politik. Selalu ada kartu truf yang dimainkan parpol untuk menjatuhkan dan menyandera lawan-lawan mereka. Hari Tanoe tersandung kasus ancaman Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, TGB Zainul Majdi kini tengah diperiksa KPK yang diduga berkaitan dengan persoalan divestasi PT Newmont Nusa Tenggara.

4. Ganjalan presidential threshold. Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 mensyaratkan hanya gabungan parpol yang memiliki ambang suara 20 persen kursi atau 25 persen suara sah nasional pada pemilu 2014 silam yang boleh mengusung capres dan cawapres. 
Meski pasal ini sedang digugat oleh sebagian pihak, tapi apakah MK akan mengabulkannya? Perlu dipertanyakan karena MK juga pernah menolak gugatan terhadap pasal ini. Inilah sebabnya PDIP tidak lagi meributkan siapa capres berikutnya. Yang ada parpol-parpol politik koalisnya sedang panas-panasnya menjual diri ke PDIP dan Jokowi agar dijadikan cawapres. Termasuk PBNU lewat KH Ma’ruf Amin juga nampaknya mengusulkan Mahfud MD untuk dijadikan cawapres berikutnya.
Aturan presidential threshold adalah produk demokrasi, karena disahkan parlemen yang merupakan wakil rakyat, sekaligus menutup pintu bagi parpol lain untuk mengajukan capres dan cawapres, maka siap-siaplah menuju capres-cawapres tunggal pada pemilu 2019.

Cukup? Masih ada lagi. 

Apa? Kemungkinan intervensi asing seandainya kaum muslimin memenangkan pemilu dengan spirit Islam. Barat, khususnya AS sudah menempatkan Islam ancaman kepentingan politik mereka di dunia pasca runtuhnya komunisme. Terutama adalah Islam yang mereka sebut Islam radikal. Prancis langsung intervensi Aljazair saat FIS memenangkan pemilu dengan mutlak, AS mendorong militer untuk mengkudeta Presiden Mursi yang terpilih secara demokratis dan menaikkan As-Sisi di tampuk kepresidenan. 
Nah, bila yang berkuasa adalah Islam ‘radikal’, ‘garis keras’, macam FIS atau Mursi dan Ikhwanul Muslimin maka akan langsung dihantam oleh Barat. 

Tapi bila ingin menjadi penguasa muslim yang selamat, ambillah aliran Islam moderat yang kooperatif dengan Barat. Berwajah humanis dan mau memfasilitasi kepentingan Barat semisal mengizinkan korporat asing beroperasi di negeri sendiri, membuka pangkalan militer, dan tidak mengancam kepentingan mereka. Kalau seperti itu, dijamin langgeng dan direstui Barat.

Itu semua pilihan dan ada konsekuensi, dunia maupun akhirat. Yang sudah pasti Allah perintahkan kita berIslam kaffah dan tidak mencampurkannya dengan aturan syetan, sebagaimana firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (TQS. al-Baqarah: 208).

Post a Comment for "MAU MENANG PEMILU? LAWAN DULU YANG INI!"