Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hari Moekti : Dalam Kenangan Hijrah (7)

Antara Ust. Hari Moekti, Hujan dan Tsunami
Oleh : Rahmawan Puspawijaya

Bukan bermaksud menafsirkan hal-hal ghaib, bukan juga bermaksud khurafat terhadap makhluk, namun saya hanya akan bertutur tentang apa yang masuk ke indera saya, tanpa terlalu jauh menganalisa. Semua terjadi atas kehendak Allah, Allah yang paling tahu atas sebab dari setiap kejadian.

Saya sempat beberapa waktu jadi "sopir tembak" ust Hari. Ketika mobil / supir beliau sedang berhalangan, beberapa kali saya pernah mengantar-antar beliau untuk beraktifitas di sekitar DKI - Jabar - Banten. Dalam perjalanan di waktu-waktu tersebut, tentu Abi banyak cerita berbagai hal, selain emang sayanya juga kepo, nanya terus2an...

Mengenai Hujan, beliau pernah cerita, di undang ke suatu kampung di daerah Madura. Ketika sedang makan di jamuan sesaat sebelum meninggalkan kampung itu setelah ceramah, hujan mulai rintik rintik. Selesainya makan, mulai gerimis, dan ketika beliau berangkat pulang, hujanlah lebat di wilayah itu.
Tidak ada masalah sampai situ, hingga beberapa waktu setelahnya, datang kabar dari telpon bahwa kampung itu ingin kembali mengundang abi. Dari kabar itu juga disampaikan, bahwa kampung itu sudah bertahun-tahun tidak dapat hujan, hingga Abi datang ke situ 😀

Singkat cerita, Abi memutuskan untuk tidak datang ke undangan ceramah ke situ lagi... "takut mereka mengkultuskan saya" ujarnya.. Karena beliau sebenarnya sudah melihat gelagat2 aneh dari penduduk setempat sejak saat diperjamuan itu ada rintik-rintik hujan.

Allah menurunkan rahmat bagi kampung itu berupa hujan, kita do'akan agar Allah menjaga mereka dari thoghut dan Allah menguatkan iman mereka.. aamiin..

Di lain waktu beliau memaparkan saat-saat terjadi Tsunami Aceh. Ketika Berita tersebut tersebar di televisi dari sejak pagi, barulah teringat bahwa beliau ada jadwal di Aceh pagi itu. Lalu sontak beliau mengontak panitia di Aceh. Namun nomor telpon yang di Aceh tersebut tidak kunjung dapat dihubungi. Beliau bermaksud untuk memohon maaf karena lupa sehingga tidak jadi ke Aceh, dan berniat menjadwal ulang ceramah... Namun peristiwa lupa itu ternyata adalah cara Allah menjaga beliau dari musibah Tsunami di Aceh. Allahua'lam, sy tidak diceritakan tentang bagaimana kemudian nasib panitia dan jama'ah di Aceh sana. 

Yang mendorong saya untuk menuturkan cerita hujan ini insyaallah kemarin sempat berkhusnudzhon sama Allah, ketika di tengah-tengah musim kemarau yang biasa terjadi di indonesia bulan april - september, sesaat setelah pemakaman Abi, hujan pun turun deras. Yang saya amati, itu terjadi di Bekasi, depok dan jakarta, tidak kurang dari 2 hari. Hingga udara terasa sejuk, dan malam pun terasa dingin.
Memang sangatlah lazim jika ada hujan ditengah-tengah kemarau... Namun saya berkhusnudzhon saja, kalau hujan yang dua hari itu adalah bentuk ridhonya Allah terhadap beliau, terhadap keistiqomahan dan perjuangan beliau, terhadap kuatnya energi yang telah beliau waqafkan di jalan Allah berupa hijrah 180 derajat tanpa kembali ke belakang. Dari predikat artis ibukota, berubah menjadi da'i yang tetap diterima masyarakat luas. Sungguh tidak banyak kita temui yang dapat menjadi seperti itu. Allah telah memilih beliau, Allah menganugerahi beliau amanah itu.

Semoga Allah menggolongkan beliau ke dalam orang-orang yang disebut oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya ketika beliau SAW mengomentari sahabat Umar Bin Khatab “Yang terbaik di masa jahiliyah, terbaik pula di masa Islam”. Umar adalah sosok kontroversial yang bergabung dalam barisan dakwah Islam saat Islam berada di bawah tekanan hebat nonMuslim Quraisy.

Rahmati beliau di sisimu ya Allah, alirkan terus jariyah dari ilmu bermanfaat yang telah orang-orang terima darinya, termasuk diri ini yang sangat banyak belajar dari beliau sehingga saya bisa selamat dari terbukanya aib aib diri karena kebodohan diri.

Aamiin.

Imam R.

Post a Comment for "Hari Moekti : Dalam Kenangan Hijrah (7)"