Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SIKAP SULTHAN ULAMA’ MENGHADAPI PENGKHIANATAN PENGUASA

Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Umat Islam selalu menemukan pemimpin sejatinya, para ulama’, yang dengan keikhlasan, kewara’an dan kezuhudannya mengorbankan dunianya untuk kemuliaan Islam dan umatnya. Mereka bak bintang di langit, kata Nabi. Kehadiran mereka pun sangat vital bagi umat Nabi Muhammad, meski mereka hidup di dalam sistem ideal, sistem Khilafah sekalipun. Mengapa? Karena, Negara Khilafah adalah negara manusia, bukan negara malaikat.

Maka, potensi kesalahan dan penyimpangan pun terjadi di dalamnya. Tetapi, sekali lagi, umat ini selalu menemukan pemimpin sejatinya, para ulama’, pewaris Nabi. Di antara sedikit ulama’ itu adalah Izzuddin bin ‘Abdussalam. Beliau mendapat gelar Sulthan al-Ulama’ [Raja para ulama’], karena keberaniannya dalam menegakkan amar makruf dan nahi munkar. Beliau hidup di zaman Khilafah ‘Abbasiyyah.

Tahun 138 H, Sultan Malik Shalih Ismail, penguasa Syam, bersekongkol dengan tentara Salib untuk memerangi saudaranya sendiri, Sultan Shalih Najamuddin Ayyub, yang menjadi penguasa Mesir. Raja para ulama’, Syaikh Izzuddin bin ‘Abdussalam pun berdiri dan mengeluarkan fatwa di Masjid Jamik Amawi, Damaskus, yang nota bene wilayah Malik Shalih Ismail, tentang keharaman bekerjasama dengan tentara Salib. Tak urung, fatwa ini membuat murka Malik Shalih Ismail, dan hendak menangkap Syaikh Izzuddin.

Banyak ulama’ dan pendukung Syaikh Izzuddin yang menyarankan beliau meninggalkan Syam, bersembunyi atau menyelamatkan diri dari penangkapan Malik Shalih Ismail. Tetapi, semua saran itu ditolak mentah-mentah oleh Syaikh Izzuddin. “Demi Allah, aku tidak akan melarikan diri, dan tidak akan bersembunyi. Karena kita baru saja memulai aktivitas jihad. Jika itu kita lakukan, maka setelahnya kita tidak akan melakukan apapun. Aku pun telah menyiapkan diriku untuk memikul resiko apapun dari jalan yang kutempuh. Demi Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang bersabar.”

Syaikh Izzudin akhirnya dikenakan tahanan rumah, tidak boleh berfatwa, dan berkumpul dengan siapapun. Beliau pun hanya diizinkan untuk shalat berjamaah dan shalat Jum’at sebagai makmum, hingga akhirnya beliau memilih pindah dari Damaskus ke Mesir. Meski Malik Shalih Ismail kemudian menawarkan jabatan kepada beliau agar kembali ke Damaskus, tetapi permintaan itu ditolak oleh Syaikh Izzuddin.

Setelah pindah ke Mesir, beliau menjabat sebagai Qadhi Qudhat di sana. Di zaman itu, selain Bani Fathimiyyah, Mesir juga dikuasai oleh Dinasti Mamluk [bekas budak]. Sebagai bekas budak, status mereka tidak jelas. Apakah mereka sebelumnya sudah merdeka atau belum. Padahal, syarat penguasa dalam Islam harus merdeka. Ketika itu, Syaikh Izuddin pun mengeluarkan fatwa, bahwa kaum Mamluk ini adalah milik Baitul Mal, dan haram menjadi penguasa, sebelum jelas status kemerdekaan mereka.

Tak urung, fatwa itu membuat mereka marah kepada Syaikh Izzuddin. “Bagaimana mungkin Syaikh bisa mengembalikan kita [sebagai budak], dan menjual kita, sedangkan kita ini adalah para penguasa di negeri ini? Demi Allah, aku akan membunuhnya dengan pedangku.” Mereka bersama sejumlah pasukan mengepung rumah Syaikh Izzuddin, dengan amarah dan pedang terhunus. Putra Syaikh yang mengetahui ikhwal pengepungan rumahnya oleh kaum Mamluk itu pun sedih, dan mengkhawatirkan keadaan ayahadannya. Tetapi, dengan tenang Syaikh Izzuddin berkata kepadanya, “Wahai putraku, apa yang menimpa ayahandamu ini jauh lebih ringan ketimbang berjihad di jalan Allah.”

Subhanallah, Syaikh Izzuddin pun keluar menemui mereka. Ketika pandangan Syaikh menatap mereka, tangan-tangan kekar penuh amarah itu pun lunglai, dan pedang-pedang yang terhunus itu pun rontok seketika. Tubuh mereka menggigil, lalu mereka menangis. Mereka meminta kepada Syaikh Izzuddin untuk mendoakan mereka. Mereka akhirnya dikembalikan oleh Syaikh Izzuddin ke Baitul Mal, dan dijual. Hasilnya untuk kemaslahatan kaum Muslim.
Sejarah ini belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi itulah sejarah yang dibuat oleh Syaikh Izzuddin bin Abdussalam. Sejarah keberanian ulama’, sebagai pemimpin sejati umat menghadapi penyimpangan penguasa.

Post a Comment for "SIKAP SULTHAN ULAMA’ MENGHADAPI PENGKHIANATAN PENGUASA"