Makna Kebangkitan Nasional: Sudahkah Kita Bangkit Secara Hakiki?
Makna Kebangkitan Nasional: Sudahkah Kita Bangkit Secara Hakiki?
Editorial trenopini.com
Tanggal 20 Mei kembali diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Berbagai media dan institusi ramai menyuarakan semangat “bangkit” dalam berbagai bentuk, mulai dari slogan hingga kampanye media sosial. Salah satu yang menarik perhatian adalah unggahan dari akun resmi Kompas, yang berbunyi:
“Kita tidak dijajah bangsa lain, tapi dijajah rasa malas, takut gagal, dan tuntutan dunia yang sempurna. Hari ini mari kita bangkit.”
Sekilas, pernyataan ini terkesan memotivasi. Namun bila kita cermati lebih dalam, ada narasi klasik yang kembali diulang: bahwa masalah utama rakyat adalah karena mereka malas, tidak percaya diri, dan terlalu menuntut. Seakan-akan kemunduran umat ini adalah akibat kelemahan personal, bukan karena persoalan sistemik yang lebih besar.
Bangkit Itu Bukan Sekadar Semangat
Dalam tradisi pemikiran Islam, khususnya dalam pandangan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani—pendiri Hizb ut-Tahrir dan pemikir politik Islam abad ke-20—kebangkitan sejati (an-nahdhah al-haqiqiyyah) tidak cukup hanya dengan semangat atau motivasi individu.
Bangkit bukan berarti sekadar rajin bekerja, melawan malas, atau berpikir positif.
Menurut Syekh Taqi, kebangkitan hakiki hanya bisa dicapai ketika seseorang atau suatu umat mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan berdasarkan aqidah yang benar. Aqidah Islam harus menjadi titik tolak dalam menjawab tiga pertanyaan besar kehidupan:
• Dari mana kita berasal?
• Untuk apa kita hidup?
• Ke mana kita akan kembali?
Selama jawaban atas pertanyaan ini tidak dituntun oleh aqidah Islam, maka cara pandang hidup dan sistem yang dibangun di atasnya akan menyimpang. Maka, kebangkitan hakiki bukanlah produk dari psikologi motivasional, tapi lahir dari perubahan cara berpikir secara mendasar.
Akar Krisis Umat: Ideologi yang Salah
Syekh Taqi menegaskan bahwa umat Islam hari ini mengalami keterpurukan bukan karena mereka bodoh atau malas, tetapi karena mereka telah menjauh dari ideologi Islam. Mereka hidup dalam sistem kapitalisme-sekuler yang menjadikan manfaat dan materi sebagai asas kehidupan, sambil menjauhkan agama dari ruang publik.
Sistem inilah yang membuat pendidikan mahal, kesehatan sulit diakses, lapangan kerja sempit, dan kekayaan negara dikuasai segelintir elite. Maka menyederhanakan krisis ini hanya menjadi persoalan “malas atau takut gagal” adalah bentuk pengalihan isu yang menyesatkan.
Masalah kita bukan kekurangan semangat, tapi ketiadaan sistem yang sesuai dengan fitrah dan wahyu.
Solusi Kebangkitan: Islam Sebagai Sistem Hidup
Kebangkitan tidak cukup dilakukan secara personal. Ia harus dibangun di atas sistem kehidupan yang lahir dari aqidah Islam, yang mencakup hukum, politik, ekonomi, pendidikan, hingga hubungan internasional.
Inilah yang mendorong beliau untuk menyerukan tegaknya kembali Khilafah Islamiyah bukan sebagai romantisme masa lalu, tapi sebagai solusi riil terhadap ketertinggalan umat. Dalam sistem khilafah, syariat Islam dijalankan secara menyeluruh (kaffah), dan umat dipimpin dalam satu institusi yang melayani dan menjaga kehormatan mereka.
Tanpa sistem ini, seruan “kebangkitan” hanya akan menjadi jargon tahunan yang kehilangan makna.
Kebangkitan Butuh Arah yang Benar
Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi mendalam:
Apakah kita benar-benar sudah bangkit. Ataukah kita justru terjebak dalam sistem asing yang terus-menerus menjauhkan kita dari Islam?
Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa diselesaikan dengan poster motivasi. Ia menuntut kesadaran ideologis dan perjuangan serius untuk kembali kepada Islam secara total. Bukan hanya dalam ibadah, tapi juga dalam sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek masyarakat.
“Kita tidak hanya dijajah rasa malas, tapi lebih dalam: kita dijajah oleh ideologi yang telah mengasingkan kita dari Islam. Maka bangkitlah, bukan dengan semangat kosong, tapi dengan perjuangan menegakkan Islam kaffah.”
Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Mari bangkit, tapi jangan setengah-setengah.

COMMENTS