Marcel vs dukun
Oleh: Ummu Rufaida ALB (Pegiat Literasi dan Kontributor Media)
Akhir-akhir ini perbincangan publik tertuju pada aksi yang dilakukan oleh Pesulap Merah Alias Marcel Radhival. Banyak yang memberi pujian lantaran Ia berani membongkar berbagai trik perdukunan,yang mengatasnamakan pengobatan, yang selama ini dipercayai masyarakat. Namun, tak sedikit pula dari kalangan dukun yang tidak terima dan melaporkannya ke pihak berwajib karena dianggap telah mencoreng nama perdukunan.
Aneh tapi inilah yang terjadi di negeri mayoritas muslim terbesar di dunia. Negeri yang digadang-gadang oleh penguasa negeri ini, dijamin masuk surga lantaran kalimat syahadat yang senantiasa dilantunkan. Tetapi pada saat yang sama, masyarakatnya masih terus melakukan kesyirikan. Sampai-sampai ada dukun yang bersertifikat.
Praktik perdukunan dan percaya pada ilmu gaib sejatinya sudah ada sejak dahulu, sebelum Islam datang. Hingga diutusnya Nabi Muhammad Saw., dengan tegas melarang berbagai bentuk kesyirikan yang sudah terlanjur mendarah daging. Islam Mengharamkan tindakan mempersekutukan Allah dengan berhala, setan, pun yang lain, sebagaimana firman Allah Swt.:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72).
Selain itu, Allah juga tidak akan mengampuni dosa para musyrikin hingga Ia bertaubat sebelum ajalnya tiba. Termaktub dalam firmanNya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)
Meskipun Islam sudah datang kesini berabad-abad silam, tak lantas membuat praktik kesyirikan lenyap. Ia tetap eksis dan dilestarikan oleh orang-orang yang katanya sudah modern sekalipun. Misalnya, untuk meraup keuntungan dalam bisnis, meminta kesembuhan dari penyakit, bahkan untuk menjadi pemimpin atau penguasa, berbondong-bondong mereka mendatangi dukun. Ironisnya mereka dengan rela melakukan apapun yang diminta oleh dukun tersebut, meski harus menggadaikan kehormatan bahkan menumbalkan nyawa orang lain.
Hal ini setidaknya mengindikasikan lemahnya akidah masyarakat. Mereka hanya menjadikan kalimat syahadat pemanis bibir saja. Meyakini Islam hanya sebatas ibadah ritual saja. Menganggap ajaran Islam hanya untuk formalitas. Wajar jika akhirnya fenomena ini dimanfaatkan oleh para kapitalis.
Para kapitalis yang berorientasi hanya untuk menumpuk kekayaan Serta materi memanfaatkan kebodohan masyarakat. Untuk memastikan, dukun bertransformasi menjadi "orang pintar" bahkan "kiyai". Tak sampai disitu, mereka juga melakukan praktik dengan mengutarakan ayat-ayat suci Al-Quran agar terkesan lebih islami. Maka tak segan-segan, mereka mematok tarif yang juga tak sedikit.
Praktik semacam ini tentu berjalan tidak sendirian, tapi diorganisir oleh semacam padepokan-padepokan. Mereka menawari berbagai macam pengobatan alternatif, hingga ilmu gaib. Tak segan juga mereka akan memberi sertifikat bagi yang sudah menuntaskan segala hajatnya.
Lantas mengapa negara seolah diam menyaksikan fenomena kesyirikan ini? Padahal jelas ini sedang mempertontonkan kesyirikan yang diharamkan. Para dukun memperlihatkan "kepintarannya" melalui media sosial. Tak pelak justru negara pun ikut meramaikan kesyirikan ini dengan dalih melestarikan budaya nenek moyang, dengan mengundang pawang hujan beberapa bulan lalu di Mandalika.
Alasan mendasarnya tentu karena negara saat ini mengusung sistem sekularisme, yang memisahkan kehidupan dengan agama. Memberikan kebebasan pada setiap warganya, termasuk kebebasan berakidah dan bertingkah laku. Maka tak bisa serta merta negara melarang praktik ini melainkan hanya mengatur mekanisme pelaksanaannya.
Sangat berbeda jika sistem Islam yang dijadikan aturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Akidah Islam akan dijadikan sebagai landasan bernegara, dan syariat Islam sebagai pijakan pengambilan kebijakan. Pun negara akan menindak tegas setiap praktik syirik dan perdukunan sebab salah satu fungsi negara adalah menjaga akidah umat dari berbagai penyimpanan.
Negara akan memberi pembinaan serta sanksi tegas bagi siapapun yang melakukan praktik syirik dan perdukunan. Selain itu, masyarakat akan selalu diberikan pembinaan iman yang bersifat kontinu seperti kajian, seminar, dan sebagainya, untuk menguatkan akidah. Berbagai wasilah yang dijadikan sebagai promosi kemaksiatan ini akan dihilangkan, termasuk pemblokiran situs ataupun sosial media.
Maka, sungguh negara sangat berperan penting dalam menjaga kemurnian akidah rakyatnya. Dibutuhkan pula pemimpin yang memiliki akidah yang kokoh, sehingga Ia bisa membedakan kesyirikan dan kebudayaan. Tentu, hal ini hanya bisa digapai dengan menerapkan sistem Islam secara totalitas dalam kehidupan bernegara. Wallahu a'lam []
COMMENTS