"GOYANGAN MAUT” ISLAMOFOBIA BOLLYWOOD

diskriminasi muslim di india

muskan khan hijab

Oleh : Ati Solihati, S.TP (Praktisi Pendidikan)

Islamofobia kembali terjadi di negara Bollywood. Kaum muslimin dipaksa melepaskan idenstitas kemuslimannya. Hal ini dipicu oleh keluarnya instruksi Pemerintah Karnataka, salah satu negara bagian di India, pada 5 Februari 2022, dan keputusan pengadilan terkait larangan jilbab di lembaga-lembaga pendidikan, baik sekolah maupun kampus. Sejak itu kelompok-kelompok sayap kanan Hindu turun ke jalan untuk mencegah para siswi dan mahasiswi muslim memasuki lembaga-lembaga pendidikan dengan mengenakan pakaian muslimah. Baik para tenaga pengajar, mahasiswi, dan siswi muslim, dipaksa melepaskan hijabnya saat memasuki lingkungan lembaga pendidikan. Bahkan mereka pun mengalami berbagai pelecehan, persekusi, dan intimidasi oleh warga Hindu terhadap para muslimah yang bertahan dengan busana islaminya.

Aksi Islamofobia ini sempat memunculkan aksi heroik yang sangat viral. Muskan Khan, seorang mahasiswi pra Universitas Mandya, Karnataka, tatkala dihadang dan diintimidasi para demonstran kelompok nasionalis Hindu, untuk melepaskan hijabnya saat dia menuju kampusnya. Muskan khan bukannya menciut nyalinya, tetapi justeru mengepalkan tangannya ke atas seraya memekikan takbir berkali-kali. Warganet pun ramai membagikan aksi heroiknya. Mahasiswi berusia 19 tahun ini pun menjadi simbol pembela hak muslimah, atas diskriminasi dan Islamofobia yang khususnya terjadi di India.

Tirani Mayoritas Hindu Terhadap Kaum Minoritas Muslim

Kaum muslimin di India memang merupakan kaum minoritas. Populasinya hanya 15 % dari populasi orang India. Yaitu sekitar 200 juta-an dari 1,39 miliar orang India. Dan di Karnataka sendiri jumlah muslim hanya 12 % dari seluruh warga. Namun meskipun jumlahnya minoritas di India yang berjumlah penduduk besar, jumlah populasi muslim sekitar 200 juta-an ini menempatkan India sebagai negara dengan populasi muslim ketiga terbesar setelah Indonesia dan Pakistan. Bahkan Pew Research Center memperkirakan, pada tahun 2050-2070 akan menjadi populasi muslim paling besar di dunia. Sebuah prediksi yang tentu sangat mengkhawatirkan rezim Hindu yang berkuasa di India.

Pemerintahan India saat ini dikuasai oleh Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata Party (BJP). Dan Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang beragama Hindu, sering menjadikan minoritas muslim sebagai sasaran kebijakan yang dikeluarkannya. Seperti pada Desember 2019, India mengeluarkan RUU Kewarganegaraan yang menolak mengakui warga muslim sebagai penduduk India. Yang kemudian memicu tindakan kekerasan selama berbulan-bulan.

Gelombang islamofobia di India telah berlangsung sejak lama. Tahun 2019, sebuah laporan menyebutkan lebih dari 90% korban kekerasan di India dalam 10 tahun terakhir adalah muslim. Kaum muslimin juga sering diminta mengucapkan puji-pujian kepada dewa-dewa Hindu. Kediaman, masjid, dan tempat usaha warga muslim juga sering menjadi sasaran penyerangan. Diduga semua tindakan ini mendapatkan dukungan politik dari partai Bharatiya Janata, pimpinan Modi. Sehingga para pelaku kekerasan rata-rata bebas dari hukuman.

Gelombang Islamofobia di India ini juga, dianalisis, tidak terlepas dari gerakan Akhan Bharat,yang berafiliasi pada partai Hindu pimpinan Modi, yaitu misi ambisius gerakan nasionalis Hindu untuk mengembalikan kejayaan agama-agama Hindustan di dunia.

Dengan demikian, islamofobia yang terjadi di Negara bagian Karnataka, merupakan bagian dari berbagai rangkaian gelombang islamofobia yang telah berlangsung lama di India. Kaum muslimin yang minoritas di India telah mengalami penderitaan dalam jangka waktu demikian lama, tanpa ada perlindungan, baik dari pemerintah ataupun dari saudaranya , negeri-negeri muslim di sekitarnya. Teriakan takbir dari sesosok lemah muslimah, Muskan Khan, yang merupakan ekspresi jeritan mohon perlindungan pun hanya berlalu tanpa ada aksi nyata yang berdaya menghentikan semua kekerasan yang terjadi.

Demi Kepentingan Politis, Kaum muslimin menjadi “Pseudo Enemy”

Ustadz Ismail Yusanto, dalam kanalnya UIY Oficial (20/2/2022) menyatakan, “Ada kepentingan politis suatu rezim, untuk meraih dukungan mayoritas Hindu di India, dengan cara membangkitkan sentimen Hindu. Caranya dengan menciptakan “pseudo-enemy”, yaitu islam. Sementara real enemy-nya antara lain soal kemiskinan, layanan kesehatan yang sangat buruk, pengangguran, dan korupsi. Jadi demi kepentingan politis, mereka mengalihkan isu dari persoalan utamanya. Secara emosional, di dunia manapun, termasuk di India, soal etnis, suku, agama, dan ras, memiliki daya ungkit atau daya bangkit, yang bisa memantik perlawanan luar biasa”.

War on Islam

Kebangkitan kembali Peradaban Islam, sebagaimana yang diprediksi Barat, sungguh sangat menghantui mereka. Karena mengetahui bahwa dunia Islam memiliki sejarah panjang kegemilangan peradaban islam dan sejarah kekalahan yang sangat memalukan dunia Barat, seperti jatuhnya Konstantinopel. Karena itulah mereka selalu berusaha menghentikan kemungkinan bangkitnya dunia Islam secara politik dan ideologi. Rand Corporation, lembaga think tank AS, merekomendasikan, bahwa cara paling mudah adalah dengan membunuh islam ketika masih bayi atau kalau perlu diaborsi. Oleh karena itu mereka menciptakan isu “war on terrorism”, war on radicalism”, yang semuanya hanyalah kedok semata, yang sesungguhnya adalah “war on islam”. Dan isu global ini mempengaruhi seluruh dunia, termasuk India. Terlebih lagi India juga pernah merupakan bagian dari Kekhilafahan Islam, setelah penaklukan yang dipimpin oleh Muhammad Ibnu Qasim masa Kekhilafahan Bani Umayah. Sebuah histori kejayaan yang tentu akan senantiasa memompa setiap jiwa kaum muslimin untuk berjuang mewujudkannya kembali. Sebuah ghirah kebangkitan yang tentu sangat mengkhawatirkan rezim Hindu.

Isu “War on Islam”, yang berkedok “war on terrorism” dan “war on radicalism” dipaksa diadopsi oleh hampir seluruh Negara. Isu ini diimplementasikan dalam bentuk aksi-aksi islamofobia, terutama di negara dengan jumlah muslim minoritas. Bukan hanya di India. Tetapi juga di berbagai negara di Eropa, Amerika, di Rohingya, Uighur, dan lain-lain. Bahkan juga terjadi di negeri-negeri Muslim, yang notabene mayoritas muslim, seperti di Palestina, Suriah, Irak, dan Indonesia. dan lain-lain.

Nestapa tanpa Junnah

Penderitaan demi penderitaan terus menerus menjerat kehidupan kaum muslimin, baik di India maupun di berbagai belahan bumi. Dan kaum muslimin dipaksa harus sendirian menghadapi tirani tersebut. Saudara-saudara muslim di sekitarnya tak berdaya untuk memberikan pertolongan. Karena dikerat oleh sekat-sekat nasionalisme, negara bangsa, yang mematikan ruh ukhuwah islamiyah, yang semestinya menghiasi jiwa-jiwa suci kaum muslimin. Memandulkan daya juang untuk membela saudaranya di belahan bumi lain yang tertindas. Padahal Rasulullaah SAW bersabda :

“Kaum mukmin itu-dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi-bagaikan satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan demam (turut merasakan sakitnya) (HR Muslim).

Demikian juga Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya, yang artinya:

“Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib memberikan pertolongan” (QS Al Anfal : 72).

Kaum muslimin menjadi tersekat-sekat dalam bentuk negara-negara bangsa, setelah institusi pemersatunya, Khilafah islamiyah, tidak tegak lagi, setelah diruntuhkan oleh Mustafa Kamal Attaturk, dengan didukung Inggris, pada tanggal 28 Rajab 1342 H, atau 3 maret 1924 M. Saat ini genap 101 tahun (hitungan hijriyah) kaum muslimin hidup tanpa junnah. Tanpa perisai dan perlindungan Khilafah Islamiyah.

Keruntuhan khilafah berdampak luas terhadap nasib kaum muslimin. Tidak ada yang menolong warga Palestina ketika terjadi pengusiran dan pembantaian besar-besaran terhadap mereka oleh zionis Israel. Tidak ada yang membantu Irak saat menghadapi invasi AS yang menjatuhkan hampir 50 ribu jiwa warga sipil. Tidak ada yang mampu menahan tumpahnya darah 6.700 muslim Rohingya yang tewas dalam aksi genosida oleh kaum radikal Budha disana. Tidak ada yang menolong penderitaan yang dialami kaum muslimin di berbagai negeri, Suriah, Yaman, Sudan, Uighur, dan lain-lain. Demikian juga tidak ada yang menolong para muslimah India yang sedang mengalami aksi-aksi islamofobia disana. Tidak ada yang tergerak demi mendengar pekikan takbir dari seorang muslimah heroik, Muskan Khan yang menjerit meminta pertolongan dan perlindungan. Tidak seperti di masa Khalifah Al Mu’tashim, demi mendengar jeritan minta tolong dari seorang budak muslimah yang dianiaya oleh orang Romawi di Kota Amuriyah. Sang Khalifah langsung sigap mengerahkan pasukan dengan ribuan prajurit, mengepung kota Amuriyah, selama kurang lebih 5 bulan. Sampai kemudian kota Amuriah pun terbebaskan dari jajahan Romawi dan berada dalam perlindungan pemerintahan Islam.

Saat ini kaum muslimin dipaksa harus berjuang sendiri-sendiri. Tanpa ada pelindung dan penjaga mereka. Tanpa junnah (perisai). Padahal jumlah kaum muslimin saat ini sangat banyak, 1,93 miliar di seluruh dunia. Namun akibat sekat nasionalisme, kaum muslimin menjadi tanpa daya. Persis sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullaah SAW :

“Hampir-hampir bangsa-bangsa kafir mengerubuti kalian (umat islam), sebagaimana mereka mengerubuti makanan yang ada di dalam piring”. Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu sedikit?”. Beliau menjawab, “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak. Namun kalian seperti buih di lautan”(HR Abu Dawud).

Dengan demikian, tidak ada solusi hakiki untuk menghentikan setiap penderitaan kaum muslimin. Tidak ada system kehidupan yang mampu menjamin seluruh umat manusia dan seluruh alam merasakan kehidupan yang penuh rahmat dan barokah, kecuali dengan sistem kehidupan yang berlandaskan kepada aturan Sang Pemilik Alam ini. Yaitu system kehidupan yang menerapkan aturan Allah, Al Quran, dan Rasul-Nya, Al Hadits, dalam setiap sendi sendi kehidupan. Dan system kehidupan ini disebutkan dalam banyak hadits shohih, Sistem Khilafah Islamiyah, yang dipimpin oleh seorang Khalifah.

Rasulullaah SAW bersabda :

“Sungguh seorang imam (Khalifah) itu laksana perisai. Dia akan dijadikan pelindung dan orang-orang akan berperang di belakang dia” (HR Mutafaq ‘alaih)

Wallaahua’lam bishshowab

Tangerang, 26 Februari 2022

COMMENTS

Name

afkar,5,agama bahai,1,Agraria,2,ahok,2,Analysis,50,aqidah,9,artikel,13,bedah buku,1,bencana,23,berita,49,berita terkini,228,Breaking News,8,Buletin al-Islam,13,Buletin kaffah,54,catatan,5,cek fakta,2,Corona,122,curang,1,Dakwah,42,demokrasi,52,Editorial,4,Ekonomi,186,fikrah,6,Fiqih,16,fokus,3,Geopolitik,7,gerakan,5,Hukum,90,ibroh,17,Ideologi,68,Indonesia,1,info HTI,10,informasi,1,inspirasi,32,Internasional,3,islam,192,Kapitalisme,23,keamanan,8,keluarga,50,Keluarga Ideologis,2,kesehatan,83,ketahanan,2,khi,1,Khilafah,289,khutbah jum'at,3,Kitab,3,klarifikasi,4,Komentar,76,komunisme,2,konspirasi,1,kontra opini,28,korupsi,40,Kriminal,1,Legal Opini,17,liberal,2,lockdown,24,luar negeri,47,mahasiswa,3,Medsos,5,migas,1,militer,1,Motivasi,3,muhasabah,17,Musibah,4,Muslimah,87,Nafsiyah,9,Nasihat,9,Nasional,2,Nasjo,12,ngaji,1,Opini,3555,opini islam,87,Opini Netizen,1,Opini Tokoh,102,ormas,4,Otomotif,1,Pandemi,4,parenting,4,Pemberdayaan,1,pemikiran,19,Pendidikan,112,Peradaban,1,Peristiwa,12,pertahanan,1,pertanian,2,politik,320,Politik Islam,14,Politik khilafah,1,propaganda,5,Ramadhan,5,Redaksi,3,remaja,7,Renungan,5,Review Buku,5,rohingya,1,Sains,3,santai sejenak,2,sejarah,70,Sekularisme,5,Sepiritual,1,skandal,3,Sorotan,1,sosial,66,Sosok,1,Surat Pembaca,1,syarah hadits,8,Syarah Kitab,1,Syari'ah,45,Tadabbur al-Qur’an,1,tahun baru,2,Tarikh,2,Tekhnologi,2,Teladan,7,timur tengah,32,tokoh,49,Tren Opini Channel,3,tsaqofah,6,tulisan,5,ulama,5,Ultimatum,7,video,1,
ltr
item
Tren Opini: "GOYANGAN MAUT” ISLAMOFOBIA BOLLYWOOD
"GOYANGAN MAUT” ISLAMOFOBIA BOLLYWOOD
diskriminasi muslim di india
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhCuvmLY0V1Z3Ii0JQxcC0pJBrI0Kx_JdQcQRcf_Oq-yT3tTiYb4KCtB5TvRbPozOxZPy_zCW5tN8ii6PMp0u1S-XvQQtjzl4UBzBJTaP3MUCnr75eJGidJq1sLruHhME99F2-ePsb4llNoVVJVkb86sZv4lxkf0KCDqSwIOP7iwUosqhdOhpXLnsv_=s16000
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhCuvmLY0V1Z3Ii0JQxcC0pJBrI0Kx_JdQcQRcf_Oq-yT3tTiYb4KCtB5TvRbPozOxZPy_zCW5tN8ii6PMp0u1S-XvQQtjzl4UBzBJTaP3MUCnr75eJGidJq1sLruHhME99F2-ePsb4llNoVVJVkb86sZv4lxkf0KCDqSwIOP7iwUosqhdOhpXLnsv_=s72-c
Tren Opini
https://www.trenopini.com/2022/02/goyangan-maut-islamofobia-bollywood.html
https://www.trenopini.com/
https://www.trenopini.com/
https://www.trenopini.com/2022/02/goyangan-maut-islamofobia-bollywood.html
true
6964008929711366424
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy