kebijakan omicron
Oleh : Nur Rahmawati, S.Pd (Pendidik Generasi)
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan memastikan sistem kesehatan nasional saat ini telah siap menghadapi lonjakan kasus akibat varian Omicron. Namun, ia menekankan langkah preventif dari kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan menjadi kunci utama untuk menekan laju penularan.
Saat Konferensi pers usai rapat terbatas evaluasi PPKM, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, “ saya tegaskan sekali lagi, bahwa pemerintah memastikan sistem kesehatan kita hari ini sudah cukup siap untuk menghadapi Omicron ini,” selain itu juga luhut memperingati puncak gelombang kasus varian Omicron di Indonesia akan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret nanti. Prediksi tersebut berdasarkan data perkembangan kasus Covid-19 di Afrika Selatan. (Republika.co.id, 16/1/2022)
Menurutnya, pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi agar peningkatan kasus yang terjadi lebih kecil dibandingkan negara lain. Dengan demikian, kenaikan kasus pun tak akan membebani sistem kesehatan nasional. Namun, sulit rasanya kasus tak akan meningkat selama sumber penyebarannya tidak ditutup.
Berkaca kepada kasus sebelumnya, varian Delta bisa masuk ke Indonesia karena pihak Imigrasi beri karpet ke WNA untuk masuk ke Indonesia. Pemerintah pun telat mengantisipasi sehingga varian Delta terlanjur menyebar ke berbagai penjuru Indonesia. Alhasil, tingkat kematian akibat Sars-Cov2 meningkat tajam. Masyarakat pun panik dibuatnya. Lantas, apakah kasus yang sama akan kembali berulang?
Pemerintah seharusnya tak lagi salah langkah. Kegagalan di kasus sebelumnya cukup menjadi pembelajaran, bahwasanya memberikan karpet ke WNA dengan alasan “ekonomi” lantas tidak membuat perekonomian pun membaik. Pontang-pantingnya pemerintah mengantisipasi penyebaran Covid-19 dan juga pemberian vaksin, bak menegakkan benang basah jika pintu penerbangan dari dan ke luar negeri tetap dibuka. Karena tak mungkin, varian baru terbang begitu saja. Pasti ada pihak yang membawanya ke dalam negeri.
Kini kasus di wisma atlet sudah mencapai 2000 pasien yang dikarantina dari kasus pertama Omicron ditemukan, setiap harinya. Siapa sangka yang katanya pemerintah sudah antisipasi dengan baik tapi nyatanya nihil. Korban Omicron muncul bermula dari petugas kesehatan di bandara Soekarno Hatta, sampai ke penjaga kebersihan di wisma atlit. Lalu dari mana virus itu masuk? Kalau bukan dibawa dari para pelaku perjalanan luar negeri.
Sebenarnya usaha yang paling tepat untuk menangani masalah ini adalah menutup rapat pintu penyebaran secara total. Pintu utama masuknya virus ini melalui pelaku perjalanan luar negeri, maka perlu upaya pemberhentian lalu lalang dalam dan luar negeri. Pemberian vaksin harusnya juga turut diintegrasikan dengan upaya dari sektor lain. Seperti menutup pintu penerbangan, tempat pariwisata, dan berbagai tempat yang memicu kerumunan banyak orang. Memang hal ini akan berakibat buruk bagi ekonomi Indonesia. Apalagi pertumbuhan ekonomi negeri ini baru saja beranjak naik. Namun hal ini lah yang bisa dilakukan demi keselamatan rakyat Indonesia.
Seandainya saja pemerintah dapat memahami bahwa rakyat adalah manusia dan amanah yang harus dijaga. Mungkin kematian akibat wabah Covid-19 dapat diantisipasi. Sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khathab kala menghadapi wabah Thaun, Umar menutup pintu dari dan ke negeri Syam, tempat terjadinya wabah. “Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia bertanggung jawab atasnya. Maka setiap dari kalian adalah pemimpin yang bertanggungjawab atas kepemimpinannya.” (HR Abu Dawud).
Wallahu a’lam bi ash-shawwab
COMMENTS