Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Anak Minim Tanggung Jawab : Hasil Didik Era Kapitalisme

Anak wajib berbakti kepada orang tua. Hal ini diwujudkan dengan menjaga dan mengurusi keperluan orang tuanya, terlebih jika mereka sudah usia lanjut dan renta karena dalam kondisi seperti ini biasanya tubuh mereka mulai merasa lemah dan sakit-sakitan. Namun saat ini, tidak sedikit anak yang mengeluhkan tentang perawatan orang tua yang sudah berusia senja dan tidak jarang pula banyak anak yang mengabaikan per

Oleh : Rahmawati (Muslimah Kendari)

Anak wajib berbakti kepada orang tua. Hal ini diwujudkan dengan menjaga dan mengurusi keperluan orang tuanya, terlebih jika mereka sudah usia lanjut dan renta karena dalam kondisi seperti ini biasanya tubuh mereka mulai merasa lemah dan sakit-sakitan. Namun saat ini, tidak sedikit anak yang mengeluhkan tentang perawatan orang tua yang sudah berusia senja dan tidak jarang pula banyak anak yang mengabaikan peran ini bahkan merasa terbebani.

Hal ini dialami oleh seorang ibu bernama Trimah berusia 65 tahun warga asal Magelang, Jawa Tengah. Dilansir dari Viva.co.id pada minggu, 31/10/2021 Ibu ini dititipkan ke sebuah panti jompo bernama Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, Jawa Timur oleh anak-anaknya. Ia mengatakan alasan dititipkan ke panti jompo adalah karena anak-anaknya tidak mampu membiayai orang tua.

Fakta lain yang dikutip dari Serambinews.com, hal yang lebih parah dirasakan oleh pria lanjut usia (lansia) yang akhirnya meninggal disalah satu lokasi dalam wilayah kecamatan Meuraxa, kota Banda Aceh pada Hari Jumat 3/4/2021, pukul 15.00 WIB. Sebelum meninggal, bapak ini mengaku sudah dibuang oleh anak-anaknya.

Sungguh malang nasib para orang tua ini, bersusah payah merawat anak yang sejak lahir sudah dididik dengan penuh kasih sayang tanpa berkeluh kesah malah setelah dewasa, anak melupakan “jasa” bahkan mengabaikan orang tuanya hanya dengan alasan tidak sanggup dari segi tenaga dan finansial.

Hidup disistem ini memang serba sulit, memberikan kemiskinan pada rakyatnya dan kesengsaraan dalam mencari pekerjaan yang semestinya negara menjamin itu. Fakta menyedihkan saat ini, siapapun tidak bisa memungkiri jika materi (uang), kerasnya tekanan gaya hidup dan ketidak adilan ekonomi merupakan problem besar di tengah masyarakat. Sehingga dari sini kemelaratan merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Sistem Kapitalisme tidak hanya memproduksi kemiskinan massal tetapi juga mencontohkan pola lepasnya tanggung jawab negara terhadap kewajibannya dalam meriayah rakyat sehingga dari sistem ini dihasilkan anak durhaka yang mati akan fitrahnya karena tidak ada pemahaman tentang kemuliaan orang tua.

Sulitnya mencari pekerjaan dan biaya hidup yang semakin mahal membuat anak sulit untuk mengontrol diri. Alih-alih sanggup bertahan hidup, ditambah lagi merawat orang tua yang sudah renta. Sangat disayangkan, ketika seorang anak tidak mampu memberikan atau mengerahkan semampu tenaga dan waktunya untuk merawat orang tua.

Padahal jelas dalam Islam ini merupakan jalan yang haq untuk mencapai ridha Allah, manusia diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) setelah perintah bertauhid. Kewajiban berbakti kepada orang tua ini sebagaimana yang diperintah dalam hadist dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. bersabda “Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina”. Kemudian Ada yang bertanya “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau lalu bersabda “Sungguh hina! Seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya, ketika mereka telah tua namun justru Ia tidak masuk surga” (H.R. Muslim).

Itulah gambaran anak hasil didikan sistem Kapitalisme, tidak ada kesadaran dalam diri bahwa perkara kewajiban adalah sesuatu yang harus ditunaikan. Dengan berdalih kesibukan mencari materi sampai melupakan peran “anak” terhadap orang tua. Wajar saja karena sistem negara saat ini berlandaskan pada sekularisme dimana memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan, walaupun orang tua mendidik anaknya sesuai dengan tuntutan agama tetapi kondisi lingkungan yang tidak mendukung sehingga peran anak tidak sepenuhnya dilaksanakan, tidak merasa bersalah dan berdosa ketika melalaikan kewajiban mengurusi orang tua.

Berbeda dengan sistem Islam, dimana anak akan di didik sejak dini tentang agama dan didukung oleh penerapan Islam dalam institusi negara Khilafah (Negara yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh). Dengan formula tersebut, maka anak akan sadar dengan tanggung jawabnya kepada orang tua yang harusnya dilaksanakan secara benar serta penuh dengan ketaatan kepada Allah swt. Bagaimanapun, ridha orang tua adalah ridha Allah.

Dengan penjabaran hal tersebut, maka bisa dilihat perbedaan yang menonjol antara anak hasil didik sistem Kapitalisme dan aturan Islam. Olehnya, hal ini harus disadari oleh masyarakat sekarang, bahwa sistem yang diterapkan hari ini benar-benar membawa kefasadan (kerusakan) bagi kehidupan, dan sudah sepantasnya diganti dengan sistem yang lain. Sistem pengganti tersebut tentu hanya Islam semata, yakni aturan yang bersumber dari Sang Pencipta manusia, yakni Allah SWT. Wallahu A’lam.

Post a Comment for "Anak Minim Tanggung Jawab : Hasil Didik Era Kapitalisme"